Pewaris Yang Kabur

Pewaris Yang Kabur
⁴¹. Pelaku pelecehan


__ADS_3

"Kami menunggu perintah dari Tuan." Waldo memutuskan keheningan saat melihat Romi sudah terdiam selama beberapa menit memandangi putrinya.


"Mari menunggu sampai Putri ku tersadar, tapi selagi menunggu cari tahu semua informasi tentang perusahaan mereka. Cari celah untuk menjatuhkan mereka, kalau perlu atur beberapa cara supaya mereka tidak bisa lagi bangkit setelah dijatuhkan." Perintah Romi dengan tangannya memegang erat tangan putrinya yang terasa dingin.


"Saya mengerti. Namun beberapa waktu yang lalu Tuan Arga menelpon saya ingin menanyakan keberadaan Nona Alana. Apakah saya harus memberitahu Tuan Arga bahwa--"


"Jangan, rahasiakan masalah ini dari semua orang." Perintah Romi yang tidak mau kalau sampai berita putrinya yang baru saja dilecehkan oleh musuh besarnya sampai tersebar kemana-mana.


Apa yang akan dikatakan orang-orang tentang putrinya kalau sampai mengetahui putrinya yang dijaga seperti berlian ini telah tercemar oleh orang-orang busuk?


"Saya mengerti." Waldo akhirnya meninggalkan ayah dan anak itu.


'Hans,, berani-beraninya dia melukai putriku!' Romi terus memikirkan dendamnya pada Hans sampai putrinya akhirnya sadar.


"Mmhh,," leguh Alana yang merasa haus.


"Putri Ayah," Romi langsung mendekati Alana dan memperhatikan wajah perempuan itu.


"Haus," ucap Alana dengan suara yang sangat pelan dan lemas membuat Romi langsung meraih segelas air putih lalu membantu Alana meneguknya.


Setelah menghabiskan beberapa tegukan, Alana duduk bersandar dan menatap ayahnya yang duduk dengan cemas di sampingnya.

__ADS_1


"Ayah,," tiba-tiba ucap Alana sembari meneteskan air matanya membuat Romi langsung merasa hatinya disayat-sayat oleh sebilah pisau yang sangat tajam.


"Ayah di sini," ucap Romi dengan suara lembutnya mengulurkan tangannya dan menyeka air mata di pipi putrinya.


"Apa yang terjadi? Mengapa jadi seperti ini?" Tanya Romi berusaha menenangkan amarah dalam hatinya, menenangkan putrinya jauh lebih penting daripada terbawa emosi oleh orang-orang tak berguna seperti Hans dan keluarganya.


Alana menundukkan kepalanya menatap tangannya yang dipasangi infus.


Percakapannya dengan Hendrik kembali terngiang di pikirannya.


Hendrik "Aku akan melakukannya hanya kalau kau mengijinkannya, aku janji akan bertanggungjawab."


'Jadi ini salahku? Aku yang mengijinkan pria itu melakukannya?' Alana merasa bingung.


Namun mengingat apa yang terjadi dia memang merasa lebih baik sebab awalnya dia merasa kacau pada dirinya sendiri sebab disentuh oleh orang menjijikan seperti Hans.


Tapi setelah Hendrik,, dia masih bisa mengingat bagaimana pria itu memperlakukannya dengan sangat lembut dan dia merasa sangat nyaman bersama dengan Hendrik.


Apa yang dilakukan Hendrik seperti obat yang menghilangkan kenangan buruk yang sudah ditorehkan Hans padanya.


"Ada apa?" Romi kembali bertanya saat melihat putrinya terus meneteskan air matanya tetapi tidak mau berbicara apapun.

__ADS_1


"Itu, Ayah,, aku,, aku ingin sendiri." Ucap Alana mengejutkan Romi.


Ini tidak seperti putrinya, biasanya Alana akan selalu menceritakan apapun padanya bukannya malah bersikap tertutup seperti ini.


"Putriku bisa menceritakan apapun pada Ayah. Ayah pasti akan membalas dendam pada orang yang sudah melukaimu seperti ini. Katakan pada ayahku mah Siapa orangnya?" Tanya Romi.


Meski dia sudah tahu kalau putrinya terluka di rumah Hans, tetapi dia ingin memberikan pelajaran spesial untuk orang yang berani menyentuh putrinya secara sembarangan!


"Ayah,," akhirnya Alana mengangkat wajahnya dan menatap ayahnya dengan air mata terus berderai di pipinya.


"Ayah,, orang itu adalah Hendrik dan ayahnya,,," ucap Alana sembari terisak keras.


Hans yang sudah melakukannya...!


Semuanya salah pria itu...!!!


Meskipun Hendrik mengatakan akan bertanggung jawab, tetapi dia tidak akan menerima siapapun yang berhubungan dengan Hans, dia tidak akan pernah menerimanya!!!


Termasuk Hendrik!


__ADS_1


__ADS_2