
Mobil terus melaju hingga mereka akhirnya tiba di rumah sakit. Hendrik tidak repot-repot mengusir Patra keluar dari mobilnya karena Dirga dengan segera memanggil beberapa perawat dan membawa perempuan itu keluar dari mobil.
"Kau benar-benar tidak akan menemaniku masuk ke dalam?" Patra bertanya dengan wajah tak berdayanya sebab dia sudah menyerahkan segala cara untuk mendekati pria itu, tetapi Hendrik seperti es batu yang begitu dingin untuk dilelehkan.
Dirga melihat Hendrik yang tetap diam dengan mata tertutup, pria itu akhirnya menutup pintu dan memandang para perawat.
"Tolong rawat dia dengan baik." Ucap Dirga menyerahkan beberapa lembar uang dolar pada perawat itu lalu pria itu kembali masuk kedalam mobil.
Berdiri di tempatnya, Patra memandangi kepergian mobil itu dengan wajah pucatnya sedari tadi dia menahan sakit pada perutnya dan semuanya itu berakhir sia-sia.
"Silakan ikuti kami untuk menerima perawatan," kata suster pada Patra dibalas tawa Patra.
Perempuan itu segera membuka tasnya dan mengambil obat penawar dari dalam tasnya lalu melemparkannya ke dalam mulutnya.
__ADS_1
"Berikan saja uang itu padaku." Ucap Patra mengambil kembali uang dari perawat lalu perempuan itu berjalan meninggalkan para perawat yang memandangnya dengan bingung.
Dia tidak pernah membawa uang cash dalam dompetnya sebab dia lebih suka menggunakan uang digital, jadi sekarang dia bisa pula menggunakan taksi dan mengadukan hal ini pada ayahnya.
Sementara Hendrik yang berada dalam mobil, pria itu tampak tenang setelah semua pengganggu yang melengket kepadanya kini disingkirkan.
"Apakah sudah mendapat informasi mengenai anak kecil yang ada di samping rumahku?" Tiba-tiba tanya Hendrik ketika dia teringat akan anak kecil yang selalu terlihat sedih setiap hari.
"Kalau begitu biarkan saja," ucap Hendrik berusaha menghilangkan pikirannya tentang anak kecil itu.
Setiap hari setiap kali dia bangun dia akan melihat anak kecil itu duduk di taman sembari memandangi kertas di tangannya, awalnya Hendrik tidak tertarik tetapi entah kenapa dia sering memikirkan anak kecil itu.
Mungkin karena dulunya dia juga melakukan hal yang sama, selalu duduk memandangi foto ibunya dengan perasaan sedih.
__ADS_1
Akhirnya setelah menunggu di dalam mobil, kini Hendrik tiba di kediamannya, pria itu segera memasuki kamarnya dan berjalan kearah balkon untuk mengintip ke taman di villa sebelah.
"Hah,, Apa yang kupikirkan? Ini sudah larut malam, mana mungkin pria kecil itu masih berada di sana?" Hendrik menertawakan dirinya sendiri lalu pria itu kembali masuk ke kamarnya dan membersihkan diri.
Meski dia berusaha mengabaikan pria kecil itu, tetapi sebenarnya dalam hatinya Dia sangat penasaran dengan pria kecil itu.
Sementara itu di Villa samping Villa Hendrik, seorang pria kecil yang tidak bisa tidur kini menyalakan lampu tidurnya dan meraih selembar foto di laci nakas.
Agung menatap foto itu, "Huh...!! Ibu pasti sangat sedih melihat foto ini karena Ibu tidak bisa bertemu langsung dengan ayah. Ibu pasti merasa sakit setiap kali memikirkan dia hanya bisa melihat foto ayah tapi tidak bisa berjumpa dengannya. Aku harus mencari Ayah supaya Ibu bisa sembuh!! Tapi bagaimana caranya?" Pria kecil itu mengerucutkan bibirnya sembari berpikir memandangi foto Hendrik.
"Kakek tidak pernah membiarkanku keluar dari villa ini, ibu juga tidak pernah memiliki niat untuk keluar. Atau,, kalau aku membujuk Ibu supaya mengajakku pergi jalan-jalan keluar, mungkinkah aku bisa mencari kesempatan untuk mencari ayah?" Pria itu tersenyum senang dengan idenya lalu dia mencium foto Hendrik sebelum menyimpannya dengan hati-hati ke dalam laci.
Setelahnya, pria kecil itu mematikan lampu lalu membungkus diri dengan selimut, ia harus tidur cepat supaya besok bisa meminta ibunya membawanya keluar dari villa.
__ADS_1