
Alana meninggalkan ruangan Hans dengan lega karena pria itu ternyata hanya mengatakan hal-hal singkat.
Singkatnya, tidak ada yang penting antara percakapan mereka! Penyamarannya juga aman terkendali!
Namun, Alana tidak tahu setelah dia meninggalkan ruangan Hans, Hans langsung melakukan panggilan telepon pada seorang bawahannya.
"Ya Tuan," jawab sang bawahan dari seberang telepon.
"Seorang pria yang baru saja keluar dari rumah ku, ikuti dia dan cari tahu informasinya." Perintah Hans.
"Baik Tuan," jawab pria dari seberang telepon lalu pria itu bergegas keluar dari ruang kendali dan menemukan Alana sudah keluar dari rumah Hans.
Alana menimang-nimang kunci motor ditangannya dan berjalan dengan santai kearah motornya.
Setelah menyalakan kendaraannya dia mengemudi meninggalkan kediaman Hans.
Dari lantai dua rumah mewah itu Hendrik berdiri di jendela memandangi kepergian Alana.
'Aku tidak percaya dia begitu berani datang kemari dengan penyamaran seperti itu. Dia datang untukku?' Hendrik merasakan sesuatu yang aneh berkembang dengan cepat dalam hatinya.
Namun ketika dia melihat bawahan ayahnya terburu-buru memasuki mobil dan mengikuti Alana, wajah pria itu menjadi sangat cemas.
__ADS_1
'Apakah pria tua itu menyuruh seseorang untuk memata-matai Alana?' Hendrik berpegangan erat pada besi pembatas.
'Semoga saja dia tidak ketahuan.' ucapnya dalam hati.
Dia merasa sangat khawatir hingga dia tidak bisa meninggalkan jendela sampai 15 menit kemudian seseorang tiba-tiba memasuki kamarnya.
Hendrik langsung berbalik menatap pria itu dan terkejut melihat ayahnya berdiri di depannya.
'Sial..! Apakah sudah terjadi sesuatu?' Hendrik langsung tertunduk memperlihatkan ketakutannya sembari berpura-pura bersikap bingung harus melakukan apa.
"Mulai hari ini kau bebas membawa temanmu ke rumah. Tapi ingat, sekali lagi ayah melihatmu ditindas oleh orang lain, ayah akan membuatmu tak bisa keluar dari rumah ini! Bukan hanya itu saja, ayah akan menghancurkan kamar ibumu!" Ucap Hans dengan suara penuh penekanan lalu pria itu berbalik meninggalkan kamar Hendrik.
Hendrik terdiam ditempatnya menatap punggung ayahnya yang kini berlalu dan menghilang di balik pintu.
'Aku harus mencari tahu,,' Hendrik kembali ke tempat tidurnya dan menyalakan laptopnya.
Jari-jarinya yang pucat dengan lincah menari diatas komputer lalu melacak CCTV di rumahnya sendiri.
Terlihat di waktu yang sama seorang pengawal melakukan panggilan telepon bertepatan dengan ayahnya yang menelpon di ruang kerja.
Lalu pria itu dengan buru-buru keluar dari ruang pengawas dan mengikuti Alana.
__ADS_1
'Pria tua ini...!! Jangan-jangan terjadi sesuatu pada Alana.' Hendrik mengangkat wajahnya dan memikirkannya.
'Tidak,, pria tua itu menyuruhku sering-sering membawa Alana ke rumah. Yang artinya--' Hendrik menggertakkan giginya.
Identitas Alana sudah terbongkar!
Ayahnya mungkin menyuruh dia mengajak Alana ke rumah untuk mencari kesempatan lain melukai Alana!
'Sial..!!'
...
Alana yang tiba di salon sudah selesai mengganti pakaiannya, dia keluar menemui sopirnya untuk pergi ke kampus saat ia merasa aneh.
"Ada apa Nona?" Tanya sang supir yang berdiri di samping Alana untuk membukakan pintu mobil bagi Alana.
"Apa bapak melihat seseorang yang mencurigakan di sini?" Tanya Alana mengeliling kan pandangannya di sekitar salon.
"Tidak ada, dari tadi Saya menunggu di sini dan tidak melihat apapun yang mencurigakan." Ucap supir itu.
"Baiklah, ayo pergi." Ucap Alana segera mengabaikan masalah itu.
__ADS_1
Sementara pria yang ditugaskan mengikuti Alana kini keluar dari persembunyiannya dan mengambil beberapa gambar terakhir.
'Bagaimana bisa seorang lelaki berubah menjadi perempuan? Atau perempuan berubah menjadi seorang lelaki?' pria itu berdesis melihat foto-foto yang ia dapat.