
Hendrik tiba di depan ruang kerja dan mengetuk pintu itu.
"Gibran!" Ucapnya dengan suara lantang namun tak ada jawaban dari dalam.
Pria itu dengan segera membuka pintunya dan mendapati ruangan itu kosong.
Bahkan ketika dia memeriksa kamar mandi dia tidak menemukan siapapun disana.
"Sial..!!! Dimana mereka?!" Hendrik memperhatikan ruangan itu dengan seksama.
"Astaga Aden,, Kenapa Aden menerobos masuk ke sini?" Lina yang mengejar Hendrik juga memasuki ruangan kamar tetapi perempuan itu berdiri dengan bingung saat ia tidak mendapati siapa pun di ruangan itu.
"Bibi yakin temanku masuk ke sini?" Tanya Hendrik pada Lina.
"I,, iya Den, saya yakin. Tapi kenapa di sini kosong?" Lina kebingungan. Jelas-jelas dengan mata kepalanya sendiri dia melihat tuan besar memasuki ruangan itu bersama Gibran. Tapi mengapa sekarang??
Jawaban Lina membuat Hendrik menggertakkan giginya lalu pria itu kembali memperhatikan ruangan itu.
'Kalau mereka tidak di sini maka pasti ada ruangan lain yang tersembunyi di tempat ini seperti yang pernah dikatakan ibu saat aku masih kecil. Tapi dimana pintunya?' dengan keringat yang memenuhi sekujur keningnya Hendrik meraba-raba dinding.
"Apa yang Aden lakukan?" Tanya Lina yang kebingungan dengan pria didepannya kini menekan-nekan beberapa rak buku dan lemari pajangan.
__ADS_1
"Di sini pasti ada ruang rahasia, tolong Bibi bantu aku mencarinya." Ucap Hendrik dengan suara yang sangat cemas sebab Dia sangat mencemaskan Alana.
Perempuan itu tidak bersalah, dan kalau terjadi sesuatu pada Alana dia akan merasa bersalah seumur hidupnya!
"Ruang rahasia? Apa Ada hal seperti itu di tempat ini?" Lina ikut membantu Hendrik, mereka berdua meraba-raba sampai akhirnya Hendrix tiba-tiba menyentuh sebuah pajangan yang terasa aneh.
Ketika dia mendorong pajangan itu sebuah pintu rahasi terbuka mengagetkan dua ornag di sana.
Hendrik langsung berjalan ke pintu rahasia itu dan mendapati ayahnya sedang terkekeh dengan wajah puas melihat kearah foto-foto yang ia dapatkan.
Sementara Alana, perempuan itu berusaha membenahi bajunya dan membungkus tubuhnya dengan selimut. Alana meringkuk di sudut kamar.
Hans baru berbalik melihat Hendrik sudah melompat ke arahnya dan sebuah tinju yang kuat mendarat di pipi kanan pria itu.
"Tuan!" Lina gemetaran di tempatnya tidak tahu harus melakukan apa.
2 pria sedang bergulat di lantai sementara seorang perempuan sedang gemetaran menutupi tubuhnya dengan selimut.
Apa yang terjadi? Mengapa ada seorang perempuan?
Dimana Gibran?!!
__ADS_1
Buk buk buk...!!!
Dengan kemarahan yang berapi-api Hendrik memukuli ayahnya tanpa ampun sampai ketika pria itu terlihat tidak berdaya Hendrik baru mengingat Alana.
Pria itu menghentikan pukulannya dan mengangkat wajahnya melihat Alana menatapnya dengan mata yang dibanjiri air mata.
"Alana," Hendrik segera berdiri dan menghampiri perempuan itu.
"Jangan,, jangan sentuh aku,," Alana terlihat sangat ketakutan sembari berusaha terus mundur ke belakang agar Hendrik tidak mendekatinya.
"Aku tidak akan menyakitimu," ucap Hendrik berusaha bersikap sabar, dia tidak tahu apa yang sudah dilakukan ayahnya pada Alana, tetapi melihat perempuan yang ketakutan itu Hendrik kembali teringat akan hari dimana ibunya meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya.
Dia juga sangat ketakutan!!
"Tidak,, aku tidak percaya padamu.." Alana seperti anak anjing kecil yang ketakutan melihat seekor serigala yang hendak menerkamnya.
"Percalah padaku, aku akan melindungimu.." Hendrik terus membujuk Alana hingga pria itu tidak sadar akan Hans yang ia tinggalkan di belakangnya kini sudah berdiri dan mengambil sebuah patung pajangan.
"Tuan muda..!!" Lina berteriak memperingatkan Hendrik saat Hans mengangkat patung pajangan untuk memukul kepala hendrik.
__ADS_1