
Cukup lama berpelukan, akhirnya Agung bisa mengeluarkan satu patah kata dari mulutnya.
"Ibu?" Katanya dengan jantung berdegup degup menunggu reaksi Alana.
Akankah perempuan yang memeluknya itu memarahinya atau justru senang dengan panggilan yang ia katakan padanya?
"Iya,, ini ibu,," ucap Alana melonggarkan pelukan mereka lalu menatap Agung dengan hati yang kacau.
Putranya sudah berumur 4 tahun dan selama itu pula dia sakit hingga mengabaikan putranya sendiri.
Bahkan jika Agung bukanlah putranya, dia akan tetap merasa bersalah pada Agung,, apalagi Agung adalah putra kandungnya bersama Hendrik!!
"I,, ibu mengenaliku sekarang?" Tanya Agung dipenuhi rasa semangat dan rasa tidak percaya yang bercampur jadi satu.
"Tentu saja,, ayahmu sudah menceritakan semuanya pada ibu, maafkan ibu,," kata Alana kembali memeluk Agung dengan erat.
Hendrik sudah menceritakan Bagaimana Agung tinggal bersama ibunya tapi ibunya tidak mengakuinya, sementara pria itu berada di luar negeri dan tidak tahu menahu bahwa dia sudah memiliki seorang Putra.
Agung yang menggemaskan itu ditinggalkan oleh ayah dan ibunya.
__ADS_1
"Ibu,,! Ibu tidak perlu minta maaf, aku sekarang sudah sangat senang karena ibu sudah mengingat ku!!" Kata Agung sangat bersemangat memeluk ibunya, ini adalah pelukan pertama mereka di mana Alana yang berinisiatif untuk memeluknya lebih dulu.
Pelukan itu sangat berarti bagi Agung jadi pria kecil itu menikmati momen momen berpelukan itu dan menyimpannya dalam hati dan pikirannya agar menjadi memori terindah yang ia kenang.
Cukup lama berpelukan di depan kamar mandi, Alana akhirnya menggendong pria kecil itu keluar dari kamar.
"Ibu,, aku berat,," kata Agung sembari memeluk leher ibunya.
"Tidak apa," ucap Alana.
Mana mungkin dia berani mengeluh lelah menggendong Agung, sementara selama 4 tahun ini dia tidak pernah merawat Putra kandungnya sendiri.
"Ya?" Alana melihat heran pada Hendrik yang terburu-buru menghampiri mereka.
"Kenapa kau menggendongnya? Dia sudah sangat berat, dan tubuhmu belum pulih sepenuhnya. Tidak boleh mengangkat yang berat-berat." Ucap Hendrik menarik Agung dari gendongan Alana.
"Tidka masalah, aku kuat," ucap Alana menatap Agung.
"Tidak Bu!! Aku tidak mau kalau ibu sampai jatuh sakit. Ayah sudah memasak untuk kita, mengapa tidak makan siang sekarang?" Ucap Agung yang sedari tadi sudah menahan rasa laparnya.
__ADS_1
"Ah,, ya,, ayo makan," ucap Hendrik lalu Ketiga orang itu segera turun ke lantai bawah untuk makan siang.
"Kakek," Agung mengingatkan kedua orang tuanya ketika mereka sudah tiba di ruang makan.
"Biar ku panggil," ucap Hendrik mendudukkan Agung di samping Alana lalu meninggalkan ibu dan anak itu.
Hendrik segera memanggil Romi dan juga Bara lalu semua orang berkumpul di ruang makan.
Alana langsung mengisi piring Agung dengan makanan-makanan sehat yang telah dimasak oleh Hendrik.
Hal itu membuat mata Agung berbinar-binar dan wajahnya menunjukkan bahwa pria itu sangat bersemangat dan sangat senang dengan perlakuan Alba padanya.
"Terima kasih Bu!!" Sorak Agung dengan senyum lebar memenuhi pipi pria itu hingga menular ke semua orang yang melihatnya.
'Akhirnya cucuku bisa tersenyum seperti ini, terlebih orang yang membuatnya tersenyum seperti itu adalah ibu kandungnya sendiri.' Romi merasakan gejolak emosi mulai memenuhi hatinya, pemandangan di depannya sangat mengharukan.
Makan siang itu berlangsung dengan sangat bahagia dan mereka mengobrol ngobrol bersama terutama Agung yang terus mencari perhatian pada Alana.
Dan yang lebih membahagiakan lagi, Alana merasa sangat senang terhadap cara Agung menyambutnya.
__ADS_1
"Putraku sangat menggemaskan!!" Ucap Alana di sela-sela tawa mereka di meja makan.