
Setelah berdebat dengan putranya, Hendrik keluar dari kamar sembari membawa berkas yang ia dapatkan dari Patra.
Pria itu duduk di ruang kerjanya lalu membuka berkas di tangannya.
Foto foto Alana.
Begitu melihatnya, Hendrik menggertakan giginya lalu pria itu mengeluarkan foto-fotonya dari sana dan melihat ada berkas lain yang disembunyikan di sana.
"Apa ini?" Hendrik melihat berkas di tangannya, wajah pria itu langsung memucat ketika yang ia dapat ternyata adalah bukti-bukti kejahatan yang dilakukan Hans.
'Bahkan masih ada bukti-bukti terbaru di sini, artinya pria itu dari waktu ke waktu sengaja mengumpulkan semua ini untuk menunggu waktu yang tepat meledakkannya.' kata Hendrik membaca satu persatu berkas dan terkejut ketika menemukan sesuatu yang lebih mengejutkannya lagi.
'Surat pemindahan kekuasaan Black!' Hendrik membaca kop surat itu dan melihat materai yang telah ditandatangani oleh Hans di ujung paling bawah.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" Kata Hendrik memegang berkas di tangannya.
"Ada apa?" Tiba-tiba suara Alana mengejutkan Hendrik hingga pria itu dengan buru-buru menarik foto-foto Alana di atas meja dan memasukkannya ke laci miliknya.
"Apa yang kau sembunyikan?!!" Teriak Alana berlari ke arah Hendrik namun pria itu sudah mengunci laci dan menyimpan kuncinya.
__ADS_1
"Ala itu?!! Apakah itu barang yang diberikan oleh perempuan tadi?!" Tanya Alana menatap tajam pada Hendrik.
"Mana ada,, itu hanya--"
"Kalau begitu perlihatkan padaku!!!" Kata Alana setengah berteriak pada Hendrik.
Hendrik mengulurkan tangannya menyentuh tangan Alana tetapi Alana menghempaskannya dan pria perempuan itu mundur beberapa langkah tanpa mengurangi tatapan tajamnya pada Hendrik.
"Perlihatkan foto-foto itu padaku!!" Ucap Alana bersikeras.
Dia sudah melihat benda itu sedikit dan dia yakin itu adalah foto-foto orang yang tidak memakai busana, tetapi dia tidak yakin foto siapa itu.
Hendrik terdiam ditempatnya, mana mungkin dia memperlihatkan foto-foto tanpa busana itu?.
"Alana,, kumohon jangan begini, itu hanya foto-foto yang tidak penting. Jadi--"
"Kalau memang tidak penting, kau pasti tidak keberatan memperlihatkannya padaku!! Atau, itu foto-foto perempuan yang bernama Patra itu?! Dia memberikanmu foto-foto telanjangnya agar kau bisa menyimpannya?!! Atau jangan-jangan foto kalian berdua ketika bersama-sama di kamar?!!" Alana berbicara dengan cepat hingga dadanya naik turun.
Semakin dia memikirkannya, semakin dia berpikir negatif tentang foto-foto tersebut.
__ADS_1
Bagaimana mungkin Hendrik menyimpan foto-foto seperti itu di tangannya?
Lagi pula sangat mencurigakan karena pria itu terburu-buru menyimpannya ke dalam laci saat dia memasuki ruangan.
"Tidak,, Tidak sepeti itu. Foto itu,," Hendrik tidak bisa mencari alasan karena ternyata sempat melihat secara sekilas.
"Apa?! Kau benar-benar tidak bisa menjelaskannya 'kan?!! Aku kecewa padamu!!" Kata Alana lalu pria itu berbalik meneteskan air matanya.
Lebih baik dia pergi dari situ, bisa-bisanya pria itu menyimpan foto-foto seperti itu!!!
Terlebih, Hendrik mendapatkan foto-foto itu dari seorang perempuan!!
"Alana,," Hendrik langsung berdiri menyusul Alana dan menahan perempuan itu di depan pintu.
Dipeluk dari belakang, Alana meronta-ronta sembari meneteskan air matanya "Lepaskan!! Aku tidak mau berhubungan dengan pria sepertimu!! Apakah kamu menungguku selama 5 tahun? Kau bahkan merahasiakan seorang perempuan dariku!!!" Teriak Alana terus meronta-ronta diperlukan Hendrik.
"Tidak,, Aku tidak pernah merahasiakan seorang perempuan darimu, kau satu-satunya yang kumiliki!!" Hendrik mempererat pelukannya pada Alana, dia tidak akan membiarkan perempuan itu pergi tetapi dia juga tidak bisa memperlihatkan foto-foto itu pada Alana.
Mungkin saja penyakit Alana akan kambuh lagi saat melihat foto-foto tersebut.
__ADS_1