Pewaris Yang Kabur

Pewaris Yang Kabur
202. Mendapat malu


__ADS_3

"Sepertinya akan ada perempuan yang merangkak keluar dari pusat perbelanjaan." Cibir Hendrik saat melihat wajah Sheila sudah berubah warna secara tak karuan.


Perempuan itu bahkan tidak bisa mendengar ucapan Hendrik karena telinganya sedang berdengung tak percaya dengan kejadian yang baru saja ia lihat.


'Apakah aku baru saja menolak suami seorang miliarder?' perempuan itu berpikir dalam hati sembari melihat pelayan yang kini berjalan ke arah mereka.


Pelayan itu membawa kartu limited milik Hendrik dan juga kotak berisi kalung berlian pink seharga 1 miliar lebih.


"Tuan, pesanan Anda sudah berhasil dibayar, jadi sekarang perhiasan ini adalah milik Tuan." Ucap Sang pelayan menyimpan perhiasan itu dengan hati-hati lalu memberikan kantong belanjaannya pada Hendrik.


Hendrik juga menerima kartu kredit miliknya lalu menyimpannya ke dalam dompet miliknya.


Begitu dompet Hendrik terbuka, semua orang di situ bisa melihat ada berapa banyak jenis kartu limited edition yang dikoleksi oleh Hendrik di dompetnya.


Pelayan dan Sheila beserta temanya yang melihat hal itu tak mampu berkata-kata lagi.


Memiliki satu jenis kartu kredit epic sudah dianggap sebagai orang terkaya, tetapi mengoleksi kartu kredit seperti itu,,,


"Astaga,, berapa banyak pajak yang harus ia bayar setiap tahunnya untuk seluruh kartu kredit itu?" Seorang pelayan berbisik pelan.


Hendrik mengabaikan semua orang, dia hanya menyimpan dompetnya lalu memegang paper bagnya sembari menatap Sheila yang tertegun melihat ke arahnya.

__ADS_1


"Kali ini aku akan membiarkanmu, tapi lain kali, sebaiknya kau berhati-hati terhadapku." Ucap Hendrik yang tampak puas melihat Sheila yang kini berdiri pucat memandanginya tanpa mampu mengatakan satu patah kata pun.


Para pelayan yang kini melihat Hendrik menjauh hanya bisa mencibir Sheila dengan berkata, "Ck,, inilah resikonya jika kita menjadi orang yang sok kaya!! Jadinya malu sendiri."


"Benar,, lihat wajahnya, tadinya dia merasa sebagai orang yang berada di atas angin hingga berani menghina Tuan Hendrik, tapi sekarang dia malah ditampar dengan kenyataan!!"


Teman Sheila yang mendengar bisik-bisik pelayan merasa sangat malu memiliki teman seperti perempuan di sampingnya.


Perempuan itu perlahan-lahan pergi meninggalkan Sheila.


'Lebih baik tidak memiliki teman daripada memiliki teman yang malah mempermalukanku!!' pikir perempuan itu segera berlari keluar toko mendahului Hendrik yang melangkah dengan santai.


Hendrik hanya mengangkat sedikit alisnya melihat teman Sheila kini meninggalkan Sheila.


Hendrik mengerutkan keningnya melihat perempuan yang kini menghalangi jalannya.


"Apalagi yang kau inginkan?" Tanya Hendrik dengan suara yang dingin.


"Tunggu, aku mau minta maaf, aku rasa apa yang dikatakan Ayahku dan dikabarkan di berita mengenai kebangkrutan keluargamu itu adalah sesuatu yang salah. Jadi aku sudah memutuskan kalau kita akan terus bersama dan perjanjian kita yang terakhir akan terus dilanjutkan. Aku bersedia menjadi istrimu." Ucap Sheila.


Hendri tersenyum licik, beraninya perempuan itu kembali lagi mengingat janji mereka saat perempuan itu telah menghinanya berkali-kali?

__ADS_1


Tidak bisa dibiarkan!!


Hendrik kemudian berkata, "Aku akan memikirkan untuk melanjutkan kembali perjanjian kita kalau kau merangkak keluar dari pusat perbelanjaan ini."


Mendengar itu, wajah Sheila langsung berubah menjadi pucat sekali.


Bagaimana bisa pria di depannya ini begitu kejam pada seorang perempuan cantik sepertinya?


"Kau,, kau masih mengingat percakapan kita yang tadi? Aku benar-benar minta maaf atas hal itu, dan juga aku akan menyuruh Ayahku untuk meminta maaf karena kejadian terakhir kali ketika kita bertemu di hotel. Tapi,, Aku benar-benar mencintaimu dan sudah memutuskan dalam hatiku bahwa apapun yang terjadi aku akan menikahimu." Ucap Sheila.


Hendrik langsung tersenyum mencibir, "Heh,, sebelum kau memikirkan itu dalam hatimu sebaiknya kau berkaca dulu, memangnya kau pantas untukku?"


Begitu mendengar bahwa dirinya tak pantas untuk Hendrik, Sheila langsung mematung di tempatnya, dia benar-benar tidak tahu bahwa pria itu memiliki lidah yang sangat tajam.


Bahkan terang-terangan menghinanya di depan semua orang hingga para pelayan di toko itu dan Beberapa pelanggan yang baru saja masuk kini melihat mereka dengan tatapan menghina.


"Ada apa dengan kedua orang itu? Mengapa si prianya menghina perempuan itu sampai seperti itu?" Salah satu perempuan yang baru saja memasuki toko bertanya pada sang pelayan.


Sang pelayan menggelengkan kepalanya lalu berkata, "Perempuan tadi baru saja menghina-hina si pria, tapi kemudian setelah mengetahui bahwa si pria itu adalah pria yang sangat kaya, dia kini meminta pria itu untuk menikahinya."


Beberapa pelanggan baru langsung menatap Sheila dengan tatapan mencibir lalu seorang berkata, " Ck!! Perempuan itu langsung meminta menikah setelah mengetahui pria itu adalah pria kaya raya? Ck!! Perempuan itu memang terlihat matre, bagus sekali pria itu tidak tertipu olehnya."

__ADS_1


"Benar sekali, lagi pula wajah perempuan itu biasa-biasa saja, sangat tidak cocok disandingkan dengan pria tampan yang sedang berbicara dengannya."


Satu persatu dari pelanggan itu langsung mengatakan pendapat mereka di mana semuanya menghina Sheila dan memuji Hendrik.


__ADS_2