Pewaris Yang Kabur

Pewaris Yang Kabur
²⁵. Perasaan apa ini?


__ADS_3

Keesokan harinya, Hendrik bangun pagi-pagi sekali dan memaksakan tubuhnya yang masih terasa lemas untuk turun dari tempat tidur lalu membersihkan diri.


Dia harus ke kampus dan memastikan bahwa Alana baik-baik saja dan sekaligus memperingatkan perempuan itu supaya tidak pernah lagi datang ke rumahnya.


"Aden mau kemana?" Lina begitu terkejut ketika dia hendak menaiki tangga untuk membawa bubur bagi Hendrik dan mala melihat pria itu dalam setelan kuliahnya.


"Saya mau ke kampus Bi," ucap Hendrik sembari mengambil susu di nampan yang dipegang Lina dan meneguknya sampai habis.


"Tapi Aden masih sakit bagaimana kalau--"


"Aku pergi dulu Bi!" Hendrik tidak memperdulikan ucapan Lina dia langsung bergegas meninggalkan rumah dan menaiki taksi yang telah Ia pesan.


Begitu tiba di dekat kampus Hendrik langsung turun dari taksi dan berjalan ke depan kampus sembari mengelilingi kan pandangannya.


"Hei lihat si culun itu, dia sudah berani mengangkat wajahnya!" Beberapa mahasiswa terkejut melihat Hendrik yang kini berjalan dengan wajah yang terangkat tinggi.


Karena memang selama ini setiap kali dia hendak datang ke kampus pria itu akan selalu berjalan tertunduk seolah lehernya akan patah kalau dia mengangkatnya lebih dari 1 cm.

__ADS_1


'Dimana dia?' hati Hendrik berdebar-debar saat ia mencari Alana diantara kerumunan, seharusnya perempuan itu menunggunya di depan kampus bukan?


Setelah berjalan semakin dekat, tiba-tiba sebuah mobil berhenti tepat di depan Hendrik.


Seorang lelaki keluar dari mobil lalu membukakan pintu untuk seorang perempuan yang ternyata adalah Alana.


"Terima kasih," ucap Alana pada pria yang membukakan pintu untuknya.


"Sama-sama. Aku akan menjemputmu untuk makan siang nanti. Semangat kuliahnya." Kata Arga dengan wajah tampan mempesona.


"Baik, kalau begitu sampai jumpa." Ucap Alana lalu Alana segera berjalan ke depan kampus dipandangi oleh Arga dengan senyum kasmaran.


Dia datang cepat cepat sekali karena menghawatirkan Alana, ternyata perempuan itu sedang bersama lelaki lain.


'Jadi itu kekasihnya, kalau begitu aku,,' Hendrik kembali menunduk dan menggelengkan kepalanya.


'Apa yang ku pikirkan? Mana mungkin aku cemburu pada mereka! Hal tidak penting saja!' pikir Hendrik lalu pria itu berbalik hendak meninggalkan kampus.

__ADS_1


Namun beberapa langkah saja dia meninggalkan tempat itu saat sebuah tas tiba-tiba dilempar ke arahnya.


Hendrik menangkap tas itu dan melihat ke orang yang melempar.


"Kau lumayan cekatakan juga." Ucap Alana dengan senyum menghiasi wajah perempuan itu.


Hendrik tidak mengatakan apapun, dia hanya memandangi Alana dan menyadari bahwa dirinya sudah tersihir oleh perempuan itu.


'Kapan aku mulai memiliki perasaan ini? Apakah saat pertama kali bertemu dengannya atau ketika aku melihatnya tertidur dengan wajah yang polos? Atau ini hanya perasaan sementara sebab Dia adalah orang pertama yang datang ke rumahku mengunjungiku ketika aku sedang sakit?' Hendrik bertanya-tanya pada dirinya sendiri.


Namun begitu dia mengingat Bagaimana Alana berinteraksi dengan seorang pria tampan yang mengantarnya ke kampus, pria itu menggelengkan kepalanya lalu kembali tertunduk.


"Tuan Putri," Hendrik menghampiri Alana sembari berkutat dengan hatinya sendiri.


"Ayo cepat...! Kau harus menemaniku kelas pagi dan mencatatkan semua materi untukku!" Kata Alana berjalan dengan santai diikuti oleh Hendrik.


Dari belakang Hendrik memperhatikan Alana yang terlihat sangat bahagia.

__ADS_1


'Dia benar-benar senang bersama pria itu,' pikirnya merasa kacau.


__ADS_2