Pewaris Yang Kabur

Pewaris Yang Kabur
⁸⁹. Penggemar rahasia


__ADS_3

Dengan wajah yang tampak marah, Agung meninggalkan ruang makan.


Membuka pintu Villa, dia terkejut melihat seorang pria sedang mengintip ke dalam villa.


'Huh!! Bukannya membawa makanan itu kedalam malah tinggal di sini mengintip?!' Gerutu Agung memperhatikan paper bag yang berada di sebelah tangan Hendrik.


Dengan wajah datar dan menggembungkan pipinya, Agung menghampiri Hendrik lalu mengulurkan tangannya untuk mengambil paperbag dari tangan pria itu.


Karena sedari tadi perhatian Hendrik terus terpaku pada Alana, maka pria itu tidak menyadari bahwa Agung telah keluar dari villa.


Hendrik sangat terkejut hingga di hampir memukul orang yang menyentuh barang miliknya.


"Huh!! Kau ingin memukulku??!" Tanya Agung sembari menatap tajam pada ayahnya yang mana tangan pria itu melayang di udara, hampir saja mendaratkan sebuah pukulan pada Agung.


"Hah,, Kenapa muncul tiba-tiba? Ayah pikir ada orang jahat yang berniat mencuri makanan untuk Ibumu." Ucap Hendrik menghela nafas.


Hampir saja dia memukul putranya.


"Huh!! Memangnya Apa yang kau pikirkan sampai aku yang datang kemari tidak kau sadari?!!" Gerutu Agung masih setia dengan tatapan tidak sukanya pada Hendrik.


"Bukan apa-apa, bawalah makanan ini supaya kalian bisa sarapan lebih cepat." Ucap Hendrik.


Agung masih terdiam selama beberapa detik, ia meniti pria dewasa di depannya sebelum berbalik dengan acuh tak acuh.


"Pergi saja sendiri dan tata di meja makan!" Katanya mengagetkan Hendrik.

__ADS_1


Sampai saat ini Hendrik belum berani menemui Alana, apalagi setelah membaca laporan medis Alana yang mengatakan bahwa apa yang menimpa Alana sekarang semuanya terjadi karena rasa trauma yang didapatkan perempuan itu atas kejadian yang terjadi di rumah keluarganya pada 5 tahun yang lalu.


Jika dia bertemu Alana, kemungkinan perempuan itu akan mengalami syok karena teringat akan kejadian menyakitkan pada 5 tahun yang lalu.


Jadi,, Bagaimana bisa dia masuk kedalam Villa dan menemui Alana?


"Bukankah kau yang bilang kalau ibumu mungkin jatuh pingsan kalau melihatku?" Ucap Hendrik memperhatikan Putranya.


"Huh!! Dasar bodoh!! Memangnya kau pikir pintu untuk memasuki Villa ini hanya satu?! Pergilah ke belakang villa!" Kata Agung melemparkan tatapan mencemoohnya pada Hendrik lalu pria kecil itu meninggalkan Hendrik.


"Astaga,," Hendrik tersenyum di tempatnya, sejak 5 tahun terakhir dia sudah tidak pernah mendengar seseorang menyebut kata bodoh di depannya.


Tapi sekarang, akhirnya ada seseorang yang kembali menyebutnya sebagai orang bodoh.


Apalagi sebutan itu datang dari Putra kandungnya sendiri!!!


Begitu tiba di pintu belakang, ia langsung disambut oleh Agung yang membukakan pintu untuknya lalu pria kecil itu menuntunnya ke ruang makan.


"Tata dengan rapi, ibuku tidak suka sesuatu yang berantakan." Kata Agung memperingatkan Hendrik saat pria itu mulai menata makanan diatas meja.


Hendrik tidak menjawab apapun, pria itu hanya melanjutkan pekerjaannya sembari sesekali melihat ke arah putranya yang diam memperhatikannya.


"Huh!! Dia pandai juga menata makanan, menambah 1 poin untuk menjadi ayahku!' pikir Agung dalam hati.


"Kau boleh memanggil ibumu sekarang," ucap Hendrik setelah semua makanan telah tertata dengan rapi.

__ADS_1


Agung tidak mengatakan apapun, pria itu hanya berbalik keluar dari ruang makan lalu menemui Alana.


"Ibu,, makanan sudah siap, ayo kita sarapan," Ucap Agung.


"Baiklah," jawab Alana yang memang sudah dari tadi merasa lapar, tetapi karena pelayan di rumah itu tidak ada maka dia tidak tahu harus menyalakan siapa, sedangkan dirinya sendiri tidak pandai memasak.


Perempuan itu mematikan TV lalu berjalan ke ruang makan bersama dengan Agung.


Begitu tiba di ruang makan mereka melihat sederet makanan yang terlihat menggugah selera sudah ditata di atas meja.


Dan yang paling mengejutkan, setangkai bunga mawar merah diletakkan di atas sala satu piring.


"Ayo Bu,, aku sudah lapar!!" Ucap Agung segera berjalan ke kursi yang selalu Ia duduki.


"Kenapa ada bunga?" Alana mengerutkan keningnya saat melihat piringnya di beri bunga.


"Hm?!" Ucap Agung mengangkat bahunya.


'Dasar pria itu!! Kapan dia menyiapkan bunga mawar untuk ibu?' Agung bertanya-tanya dalam hati, tetapi dia merasa senang dengan cara ayahnya.


Sementara Alana, perempuan itu duduk di kursinya lalu mengambil setangkai bunga itu dan melihatnya beberapa waktu sebelum menyisihkannya ke samping.


"Itu bunga mawar untuk ibu, pasti seseorang telah menyusup ke sini dan diam-diam memberikannya pada ibu! Sepertinya Ibu memiliki penggemar rahasia!!" Seorang Agung memperlihatkan wajah cerianya membuat Alana semakin menyipitkan matanya.


Penggemar rahasia?

__ADS_1


Kedengarannya tidak buruk!


__ADS_2