Pewaris Yang Kabur

Pewaris Yang Kabur
⁷⁴. Sakit Ibu semakin parah


__ADS_3

Setelah melampiaskan amarahnya dengan memukul benda di ruangannya, Hendrik tidak bisa lagi bekerja. Pria itu bangkit melihat ruangannya yang terlalu berantakan lalu keluar dari ruangannya.


Dirga yang yang baru saja keluar dari lift untuk mengantar berkas ke ruangan Hendrik menghentikan langkahnya saat melihat penampilan berantakan Hendrik dan tangan pria itu berlumuran darah.


"Tuan," ucapnya terkejut.


"Bersihkan ruangan itu, semua pekerjaan hari ini bawa ke Villa ku untuk ku kerjakan di sana." Ucap Hendrik.


"Baik Tuan, tapi tangan Tuan--"


"Kerjakan tugasmu." Ucap Hendrik lalu pria itu berjalan meninggalkan Dirga yang kini menatap prihatin ke arahnya.


Memasuki lift dan menaiki mobil ke Villa nya Hendrik akhirnya tiba di villanya dan membersihkan diri serta mengobati luka di tangannya.


Setelah mengobati lukanya, Hendrik teringat akan pria kecil di samping vilanya jadi dia berjalan ke arah balkon dan melihat pria kecil itu sudah tidak ada di kursi taman.


"Kemana dia?" Hendrik menatap ke arah taman di samping rumahnya sebelum turun ke lantai bawah dan berjalan ke pagar pembatas untuk melihat ke arah taman di villa itu.


'Kosong,' gumamnya juga merasa kosong dalam hatinya.

__ADS_1


Pria itu lalu dia berjalan ke arah kursi taman dan duduk di sana sembari memejamkan matanya.


'Apa yang harus kulakukan?' Ucapnya dalam hati.


Ia merasa gila akan dua pilihan yang begitu sulit, mana mungkin dia membangkrutkan Romi?


Ketika Hendrik terus duduk ditaman memikirkan jalan keluar dari permasalahannya maka di Villa sebelah itu Agung sedang duduk di meja makan memandangi ibunya yang sedang makan dengan lahap.


"Ada apa kau melihatku? Cepat pergi sana dan bermain!" Gerutu Alana yang merasa kesal pada Agung karena dari tadi pria kecil itu terus mengikutinya.


"Aku ingin berbicara dengan ibu," ucap Agung.


"Nanti saja, aku sedang sibuk!" Jawab Alana dengan ketus sembari memasukkan sesendok nasi ke dalam mulutnya.


Setelah menunggu beberapa menit akhirnya Alana selesai makan, perempuan itu membereskan piringnya lalu berjalan ke ruang tamu untuk menonton TV.


Agung dengan cepat mengikuti Alana lalu duduk di samping ibunya.


"Apakah Ibu mau keluar rumah untuk jalan-jalan?" Tanya Agung.

__ADS_1


Alana yang menatap TV berbalik menatap Agung selama beberapa detik sebelum menjawab "Tidak!"


Dia tidak pernah mau keluar rumah karena perasaannya selalu mengatakan bahwa di luar rumah sangat berbahaya.


"Kenapa? Bukankah keluar rumah akan membuat hati ibu jadi lebih baik?" Tanya Agung.


Alana menghela nafas "Hatiku akan jauh lebih baik kalau kau berhenti memanggilku ibu dan kau menghilang dari hadapanku! Mengerti?!!"


Wajah Agung menjadi terlihat sendu setelah mendengar ucapan ibunya, "Ibu sangat tega, kenapa bicara seperti itu?"


"Karena itu memang kenyataannya. Aku ini baru berumur 20 tahun, mustahil memiliki seorang anak berumur 5 tahun!" Ucap Alana dengan ketus.


"Tapi aku belum berumur 5 tahun, masih 4 tahun." Ucap Agung.


"Sama saja, hanya beda satu tahun!" Ucap Alana dengan ketus.


Agung menghela nafas 'Ibu benar-benar lupa kalau aku anak Ibu, apa sakit ibu semakin parah ya? Dia bahkan lupa umurku.'


"Padahal aku ingin makan es krim, tapi kalau tinggal di rumah saja mana bisa makan es krim?" Ucap Agung kemudian melangkahkan kakinya untuk pergi meninggalkan Alana.

__ADS_1


Dia tahu, bagaimanapun dia membujuk ibunya, ibunya tidak akan memenuhi keinginannya sebab ibunya masih dalam keadaan sakit.


'Kenapa dia jadi seperti orang yang ku sakiti? Padahal dialah yang membuatku merasa sakit karena dianggap tua olehnya!! Mana mungkin aku sudah punya Putra seusia dia? Menyebalkan sekali!!' gerutu Alana dengan kesal.


__ADS_2