
"Tuan, bunga untuk Nyonya diletakkan di mana?" Salah satu pelayan bertanya saat melihat Alana yang sedang duduk menonton TV.
Hendrik melihat bunga itu lalu melihat Alana yang tampak cuek.
"Buatmu saja," katanya kesal.
"Eh? Tapi Tuan--"
"Kau tuli?!" Bentak Hendrik.
Alana mendengarkan percakapan itu dan mengepal erat tangannya.
'Jadi dia menyiapkan bunga untukku?' perasaan Alana menjadi sangat kalut.
Perempuan itu melirik Hendrik yang berjalan ke arah balkon di mana meja dengan taplak meja putih dan lilin sudah dinyalakan di atas meja tersebut.
Makanan juga di tata dengan rapi, setangkai bunga mawar diletakkan di tengah-tengah meja dalam sebuah vas kecil yang terlihat manis.
"Wah!! Ayah,, kita makan malam di sini?!" Tanya Agung merasa sangat senang.
"Ya, apa kau suka?" Tanya Hendeik.
"Tentu!!! Oya, Apakah tadi ketika Ayah mengajak kami keluar Ayah sebenarnya ingin mengajak kami makan malam?" Tanya Agung.
__ADS_1
"Hm,, Ayah menyiapkan makan malam untuk keluarga kita di atas atap, tapi karena ibumu tidak bisa pergi jadi ayah memindahkannya kemari." Ucap Hendrik.
"Wah,,,, terima kasih Ayah!!" Seru Agung berlari memeluk Hendrik.
Sembari memeluk putranya, Hendrik pendekatan bibirnya oke telinga putranya lalu berbisik "Pergi panggil Ibumu dan makan malam lah berdua. Ayah masih punya urusan untuk dikerjakan."
Wajah Agung tanpa kecewa mendengar ayahnya tidak akan makan malam bersama mereka, tetapi pria kecil itu tidak mau memaksa ayahnya, jadi dia langsung menunjukkan senyum terbaiknya pada Hendrik.
"Baik," jawab Agung dengan suara tertekannya.
"Kalau begitu, Ayah harus pergi sekarang." Ucap Hendrik lalu melepaskan pelukan Agung.
Hendrik melihat pada para pelayan, "Jika makan malamnya sudah selesai, kalian boleh membereskannya lalu pulang," ucap Hendrik.
Setelah berbicara dengan pelayan, Hendrik masih melihat ke arah Alana lalu pria itu keluar dari apartemen.
Agung melihat kepergian ayahnya lalu menghela nafas melangkahkan kakinya ke arah Alana.
"Ibu,," katanya memanggil Alana.
Alana yang sedari tadi melihat TV akhirnya melihat putranya, ia tersenyum dan menjawab, "Iya sayang."
"Waktunya makan malam." Kata Agung.
__ADS_1
"Baiklah," ucap Alana mematikan TV lalu membiarkan Agung menarik tangannya ke arah balkon.
Keduanya makan bersama sembari Alana yang sesekali-kali memandangi satu kursi kosong yang ada di sampingnya.
'Hah,, Apakah aku sudah keterlaluan padanya? Tapi,,, Apa yang sebenarnya ia lakukan hingga aku tidak boleh menyentuhnya?' Alana mendengus sambil memasukkan makanan ke dalam mulutnya, tetapi makanan itu terasa hambar.
"Hm!! Makanan yang disiapkan oleh ayah sangat enak. Sayang sekali Ayah tidak di sini untuk makan malam bersama kita,," ucap Agung memandang kursi kosong.
"Makan yang banyak,," kata Alana mengambil sedikit makanan di piringnya lalu meletakkannya di piring Agung.
"Terima kasih Bu," ucap Agung tersenyum.
Sementara itu, dari gedung seberang pada lantai yang sama, seorang pria duduk di jendela sembari menikmati makanannya.
Pria itu tak lain adalah Hendrik yang duduk makan sembari melihat ke arah Alana dan Agung yang makan di seberang.
Lampu di tempat itu dimatikan sebab jika dinyalakan maka dua orang yang ada di seberang dapat melihatnya.
Hendrik tersenyum konyol pada dirinya sendiri, 'Ini pertama kalinya aku makan gelap-gelapan seperti ini,,'
Sementara Dirga yang berdiri di satu sudut, dia juga tidak kelihatan karena suasana di situ memang gelap.
Pria itu memandang sendu pada tuannya yang makan malam sediri.
__ADS_1
'Hah,, apalagi masalah yang mereka hadapi? Tuan benar-benar kasihan. Hari ini hampir mati dan sekarang diusir dari apartemennya lalu berakhir makan malam di tempat gelap seperti ini!!!' pikir Dirga.