
Ketika rombongan mereka hampir mendekati apartemen maka mobil tersebut terpisah-pisah ke sembarang arah dengan mobil yang membawa Hendrik memasuki tower lalu menurunkan Hendrik di tempat yang sepi.
Setelah menurunkan Hendrik mobil tersebut keluar dari tower lalu bertemu dengan mobil-mobil lain yang tadi berkelompok, mobil-mobil itu pergi meninggalkan tempat itu.
Hendrik naik ke apartemen diikuti oleh Dirga, terlihat para pengawal masih berjaga di lantai apartemen itu.
Dirga bergabung dengan para pengawal sebab dia tidak berani masuk ke apartemen untuk mengganggu tuannya.
"Ayah pulang," ucap Hendrik memasuki apartemen dan melihat apartemen itu sangat hening.
Pria itu naik ke lantai 2 dan mendapati Alana dan Agung sedang duduk di depan meja rias.
Agung sedang memegang sisir dan menyisir rambut Alana.
"Ayah!!" Seru Agung saat melihat Hendrik memasuki kamar.
"Apa yang kalian lakukan?" Tanya Hendrik sembari duduk di pinggir ranjang memperhatikan dua orang yang tampak serius.
"Aku membuka salon dadakan, Apakah Ayah juga mau mendapat perawatan di salonku?" Tanya Agung pada ayahnya membuat Hendrik mengerutkan keningnya.
__ADS_1
Mengapa putranya malah bermain-main seperti perempuan?
Pria itu langsung menatap Alana dengan tatapan penuh tanya.
Alana jelas mengerti tentang apa yang sedang ditanyakan pria itu padanya, jadi dia mengangkat bahunya lalu menjawab, "Tidak ada salahnya jika seorang pria mendandani ibunya sendiri."
"Betul!! Aku juga tidak keberatan Kalau harus membantu Ayah merapikan rambut 5ayah." Ucap Agung tersenyum sangat senang.
Dia benar-benar menikmati kebersamaannya dengan Alana.
Hendrik terdiam memikirkan ucapan putranya, setelah beberapa saat pria itu membuka mulutnya, "Hm,, ayah akan membiarkanmu merapikan rambut Ayah setelah kau selesai merapikan rambut ibumu." Ucap Hendrik.
"Tentu!!" Seru Agung bersemangat lalu dia dengan cepat menyelesaikan sisiran pada rambut Alana.
"Silakan datang lagi di salon saya, "ucap Agung membalas candaan ibunya lalu pria kecil itu melihat pada ayahnya.
"Pelanggan selanjutnya," ucap Agung membuat Hendrik tak bisa menahan senyumnya lalu pria itu duduk di kursi dan membiarkan putranya mengacak-ngacak rambutnya.
Puas bermain di depan meja rias, 3 orang itu naik ke tempat tidur dan tidur berpelukan.
__ADS_1
"Ayah,, Aku ingin makan makanan masakan Ayah." Tiba-tiba kata Agung yang dipeluk Alana.
Hendrik yang sementara memeluk Alana langsung duduk menatap dua orang itu, "Apa yang ingin kalian makan?" Tanya Hendrik.
"Sup ayam!!" Ucap Agung bersemangat.
"Baiklah," ucap Hendrik turun dari tempat tidur lalu pergi ke lantai satu untuk memasak.
Beberapa menit berkutat dengan pisau di dapur, Hendrik terkejut ketika seseorang tiba-tiba memeluknya dari belakang.
"Apa kau perlu bantuan?" Suara Alana membuat Hendrik tersenyum.
Pria itu segera berbalik lalu mengangkat Alana dan mendudukkan perempuan itu di meja.
"Yang perlu kau bantu adalah duduk di sini menunggu aku selesai memasak." Ucap Hendrik mendaratkan sebuah ciuman di bibir ranum Alana lalu pria itu berbalik untuk melanjutkan acara memasaknya.
"Di mana Putra kita?" Hendrik bertanya sembari memotong-motong sayur.
"Dia sedang mandi, dia tidak mau dibantu mandi, katanya perempuan dan laki-laki tidak boleh saling lihat," cerita Alana sambil terkikik memikirkan putranya yang sangat dewasa sebelum waktunya.
__ADS_1
Jika itu adalah anak-anak lain maka sampai berumur 7 tahun pun mereka tidak akan malu dilihat oleh ibunya.
Tapi Agung..... Sangat istimewa!