Pewaris Yang Kabur

Pewaris Yang Kabur
⁵¹. Suara Alana


__ADS_3

Hendrik tiba di kantor Gonedra, ia mengikuti Dani yang menuntunnya ke sebuah ruangan di lantai paling atas gedung pencakar langit.


"Silakan duduk," kata Dani ketika mereka tiba di dalam ruangan lalu pria itu bergegas ke sebuah meja mengambil beberapa tumpukan berkas.


"Apa ini?" Hendrik membuka salah satu berkas ketika ia sudah mendapatkannya dari Dani.


"Tuan besar memerintahkan saya untuk memberikan berkas-berkas ini pada Tuan Muda. Berkas-berkas ini adalah berkas-berkas rahasia perusahaan luar negeri yang mulai hari ini akan menjadi tempat Tuan Muda belajar." Ucap Dani langsung menghentikan gerakan tangan Hendrik.


"Apa katamu?" Tanda Hendrik tak percaya, sekarang ayahnya akan melengserkannya ke luar negeri? Kenapa?


"Ya, saya sudah menyiapkan semua keperluan Tuan, besok sore Tuan Muda akan berangkat ke luar negeri." Ucap Dani kembali membuat Hendrik tak mampu berkata apapun.


Kalau hal itu terjadi maka dia tidak akan punya kesempatan lagi untuk bertemu dengan Alana.


Lagipula, surat perjanjian yang Ia janjikan pada Romi belum ia buat. Kalau sampai dia pergi sebelum membuat surat perjanjian itu maka Romi akan menganggapnya telah mengingkari janjinya.


Peperangan akan terjadi, yang akan terluka adalah Alana...!!!!


"Aku mengerti. Aku akan membawa ini." Kata Hendrik segera mengambil berkas berkas itu lalu pria itu meninggalkan kantor milik ayahnya.


Di tengah perjalanan ke rumah salah satu seorang notaris, Hendrik menghubungi Romi.

__ADS_1


Kebetulan saat itu Romi sedang berbicara dengan bawahannya dan ponselnya tertinggal di kamar Alana.


Drrttt... Drrrtt... Drrtttt....


Alana yang sedang memandang keluar jendela dengan tatapan kosong tidak memperdulikan ponsel yang bergetar di meja samping tempat tidurnya.


Perempuan itu sedang berada dalam pikiran yang kosong, tidak mau memikirkan apapun dan dia hanya ingin merasakan ketenangan pada pikiran dan hatinya.


Drrtt.... Drrtttt.... Drrrtt....


Drrtt.... Drrtttt.... Drrrtt....


Drrtt.... Drrtttt.... Drrrtt....


"Nona, ponsel Anda sudah bergetar sebanyak 5 kali." Kata perawat saat melihat 5 panggilan tak terjawab dari sebuah nama kontak 'Sampah'


Melihat Alana yang tidak bergeming, perawat itu akhirnya mengabaikan ponselnya tetapi ketika dia hendak meninggalkan ruangan itu ponselnya kembali bergetar dan menampilkan sebuah pesan singkat di layar ponselnya.


'Tolong angkat telepon saya, ini sangat darurat.'


Perawat itu membaca pesannya Lalu setelah beberapa detik sebuah panggilan kembali masuk.

__ADS_1


"Nona, Apakah Nona benar-benar tidak ingin mengangkat teleponnya? Katanya telepon ini sangat darurat." Sang perawat kembali berbicara pada Alana, tapi seperti yang terjadi sebelumnya, sedikit pun Alana tidak bergeming.


Akhirnya karena perawat itu khawatir ada keadaan darurat yang sangat mendesak maka perawat itu mengambil ponselnya dan mengangkat panggilan itu.


Ia sengaja menekan tombol loudspeaker supaya Alana bisa mendengarnya agar tidak terkesan bahwa dia sudah sangat lancang menerima panggilan seseorang secara sepihak.


"Halo, tuan Romi, Sekarang juga kita harus bertemu!" Suara seorang pria dari seberang telepon.


Suara itu langsung tertangkap oleh indera pendengar Alana dan seketika Alana yang sedari tadi terbengong melihat ke jendela kini memutar kepalanya dan melihat ponsel yang ada di tangan Sang perawat.


"Hendrik?" Ucapnya dengan suara lemah membuat Sang perawat terkejut.


Pasien yang bisu sejak masuk rumah sakit akhirnya berbicara!!


Orang yang berada di seberang telepon pun juga sangat terkejut begitu mendengar suara perempuan yang ia rindukan.


Hati Hendrik langsung bergetar tak karuan dan dengan tangan gemetaran pria itu mempererat genggamannya pada kemudinya.


"Alana?" Katanya dengan jantung berdegup kencang, Apakah itu benar-benar Alana?


Suara Alana yang terdengar lemah dan menyedihkan?

__ADS_1



__ADS_2