
"Huh...! Sakit Ibu benar-benar deh! Masa membuat ibu jadi lupa akan anaknya sendiri! Umur ibu saja tidak diingat!" Gerutu Agung keluar dari villa dan berjalan ke taman samping Villa.
Pria kecil itu duduk di bangku taman dan mengeluarkan sebuah foto dari sakunya.
"Duh!! Ayah!! Aku gagal membujuk ibu untuk keluar dari villa!! Kalau begini, bagaimana bisa aku menemukan ayah dan menyembuhkan ibu?!!" Gerutu pria kecil itu memegang erat foto di tangannya sembari mengerucutkan bibir kecilnya.
Suaranya tidak pelan jadi Hendrik yang juga duduk tak jauh dari situ kini mendengar suara pria kecil itu.
Segera Hendrik berdiri dan berjalan ke arah pagar.
'Apakah baik kalau aku menyapanya?' Hendrik berpikir dalam hati sembari memandangi pria kecil yang terlihat kesal.
"Ahhh!! Kenapa si Kakek tidak mengijinkanku keluar dari villa kalau tidak bersama ibu?! Jadinya 'kan aku tidak bisa mencari ayah!! Ayah dimana sih??" Kesal Agung setengah berteriak sembari mengangkat foto yang ada di tangannya.
Saat itulah Hendrik bisa melihat isi foto yang ada di tangan Agung.
Itu adalah, fotonya!!
Hendrik sangat terkejut hingga pria itu langsung memegang pagar pembatas dan memperjelas penglihatannya.
'Mengapa pria kecil itu menyebutku ayah?' Jantung Hendrik berdegup kencang.
"Hei--" ucapnya dengan suara tercekat hingga tak terdengar oleh Agung.
__ADS_1
"Awas saja!! Awas saja kalau aku menemukan ayah! Aku akan sangat marah karena sudah 4 tahun Saya tidak pernah mengunjungiku!!!" Suara Agung tak kembali terdengar kesal sembari memandangi foto di tangannya.
Empat tahun!
Empat tahun!
'Jangan-jangan--"
"Hei?!" Akhirnya suara Hendrik yang cukup besar kini keluar dari mulutnya.
Agung yang mendengar suara seorang pria segera berbalik ke sumber suara dan pria kecil itu mematung saat melihat orang yang sedang memandanginya.
"Kau?!!" Agung berkata dengan raut wajah tak percaya nya lalu pria kecil itu mengangkat foto di tangannya dan mencocokkan wajah di foto dengan wajah pria yang menatapnya.
"Siapa ayahmu?" Tanya Hendrik sambil mempererat pegangan nya pada pagar pembatas.
Agung yang mendengar ucapan Hendrik segera berlari ke arah Hendrik dan menatap pria itu dengan seksama.
Hendrik pun tak kalah terkejut, pria itu juga menatap pria kecil di depannya.
"Wajah kita,, bukankah kita mirip? Kau--"
"Huh! Tentu saja mirip!! Kau kan Ayahku!!" Tiba-tiba suara Agung yang terdengar kesal dan acuh tak acuh membuat Hendrik semakin mematung.
__ADS_1
Sikap pria kecil di depannya sangat mirip dengan Alana, bahkan ketika Hendrik semakin memperhatikannya, beberapa bagian dari wajah Agung juga sangat mirip dengan Alana.
Singkatnya, wajah pria kecil itu adalah perpaduan antara wajahnya dan Alana.
"Kau,, siapaa nama ibumu?" Tanya Hendrik dengan suara tercekat.
Meski wajah pria itu adalah perpaduan antara wajahnya dan Alana, tetapi dia masih ingin memastikan. Apakah hal yang mereka lakukan lima tahun yang lalu ternyata menghasilkan sebuah berkat yang sudah disembunyikan Romi selama 5 tahun?
"Huh!! Tentu saja Alana Xionir!! Tapi Kau ini!! Kenapa baru muncul sekarang?!! Apa kau benar-benar ayahku?!" Tanya Agung dengan wajah judesnya.
Namun, pertanyaan Agung tidaklah penting bagi Hendrik, yang paling penting adalah nama yang baru saja diucapkan oleh Agung.
Alana Xionir!!!
"Jadi,, siapa namamu?!" Tanya Hendrik ketika ia kembali tersadar bahwa di depannya ada seorang pria kecil yang sedang memandang judes padanya.
Itu adalah putranya!
"Huh!! Kau ini memang tidak pantas menjadi Ayahku, kau bahkan tidak tahu nama anakmu sendiri!!" Jawab Agung dengan suara judesnya.
Meski Dia sangat senang sudah menemukan ayahnya, tetapi tidak semudah itu memaafkan ayahnya yang sudah menghilang selama 4 tahun dia berada di dunia!!!
Ayah mana yang begitu tega meninggalkan istri dan anaknya, apalagi ibunya kini sedang sakit!
__ADS_1