Pewaris Yang Kabur

Pewaris Yang Kabur
¹⁰⁵. Perasaan aneh yang begitu kuat


__ADS_3

"Sa,, saya tidak sengaja,," kata Alana gelagapan di tempatnya sebab dia tidak mau bersentuhan dengan Hendrik.


"Ini akan sembuh kalau di tiup!" Kata Hendrik mengagetkan Alana.


"Ta,, tapi aku tidak mau melakukannya!!" Kata Alana yang masih bersikukuh tidak mau bersentuhan dengan Hendrik.


"Ahh!! Sakit!!! Telingaku berasa meledak!!" Tiba-tiba rintih Hendrik membuat Alana semakin ketakutan.


Kalau telinga pria itu meledak maka dia harus bertanggung jawab karena sudah melukai pria itu.


'Mungkinkah aku akan di penjara?' Alana berpikir sembari menutup mulutnya dengan kedua tangannya, wajahnya memucat ketakutan.


"Di,, dimana,, aku meniupnya??" Tanyanya dengan tubuh gemetar mendekati Hendrik sebab dia terlalu takut dan enggan untuk bersentuhan dengan pria itu.


Tetapi dia masih harus meniup telinga pria itu supaya dia tidak mendapat sanksi hukum karena sudah melukai seseorang!


"Di sini,," Hendrik memperbaiki posisinya lalu menunjukkan telinganya pada Alana.


"Oh," Alana mendekatkan wajahnya ke telinga Hendrik hingga berjarak 50 cm dari telinga pria itu lalu meniup dengan pelan.


Hendrik ".."


Meniup telinga atau udara?


"Kau terlalu jauh," kata Hendrik mendekat kearah Alana membuat perempuan itu dengan spontan mundur hingga punggungnya membentur dinding.

__ADS_1


Melihat Alana yang tak bisa pergi lagi, Hendrik tersenyum dalam hati lalu dengan cepat mendekatkan telinganya ke bibir Alana hingga jarak mereka hanya tersisa satu cm saja.


"Tiuplah," kata Hendrik.


Alana menahan nafasnya dan wajahnya memerah dengan kedekatannya bersama Hendrik.


Jantungnya berpacu lebih kencang lagi hingga ia tidak bisa mendengar ucapan Hendrik.


Pikirannya teralihkan akan Posisi mereka yang terlalu dekat.


"Kenapa tidak meniup?" Tiba-tiba Hendrik berkata sembari memutar kepalanya hingga tanpa sengaja hidung mereka yang mancung bersentuhan.


Deg!


Alana semakin tertegun di tempatnya.


"Ahh,,," Hendrik kembali berpura-pura merintih dengan wajah yang penuh kesakitan membuat Alana yang kini menjadi panik lagi.


"Biar saya tiup!!" Katanya mengulurkan tangannya memutar wajah Hendrik lalu dengan cepat mendekatkan bibirnya ke telinga pria itu.


Fuuh.....


Satu tiupan yang lembut seperti angin musim semi yang bertiup di hati Hendrik.


Sangat teduh, sangat nyaman, sangat menenangkan dan membuat jiwanya bergetar bahagia.

__ADS_1


"Ahh, satu tiupan saja tidak cukup, kau juga harus lebih dekat dan meniupnya dengan lembut." Ucap Hendrik.


Alana mengerjapkan matanya, dia tidak ingin melakukannya lagi tetapi melihat telinga Hendrik sangat merah dan wajah pria itu juga terlihat pucat, maka dia menuruti keinginan Hendrik.


'Biarkan saja, lagi pula kami memang sudah bersentuhan.' pikir Alana mulai meniup telinga Hendrik.


Satu tiupan, dua tiupan, tiga tiupan, akhirnya perasaan ketakutan Alana pada Hendrik perlahan-lahan mulai memudar.


Perempuan itu dengan santai meniup telinga Hendrik bahkan sesekali menyentuh daun telinga Hendrik yang warnanya mulai kembali seperti semula.


'Astaga ini memang berhasil,' pikir Alana memperhatikan perubahan warna telinga Hendrik.


Menikmati sentuhan-sentuhan lembut di telinganya, Hendrik tak bisa menahan senyumnya hingga pria itu tanpa sadar melengkungkan bibirnya.


"Anda tersenyum?!" Kata Alana saat melihat bibir Hendrik yang melengkung sempurna.


"Ya,," kata Hendrik kini menjauhkan diri dari Alana dan duduk bersila kaki memandang perempuan yang ada di depannya.


"Untuk kali ini sudah cukup, tapi mungkin besok pagi kau masih harus melakukannya lagi. Ini akan sembuh lalu tiba-tiba muncul lagi, jadi beberapa waktu kedepan aku akan bergantung padamu." Ucap Hendrik tersenyum.


"Apa maksudmu?!!" Tanya Alana sembari mengerutkan keningnya.


Apakah pria yg di depannya sedang berkata bahwa akan ada banyak pertemuan mereka ke depan karena dia harus mengobati telinga Hendrik?


"Sudah malam, ayo tidur." Ucap Hendrik segera berdiri lalu meninggalkan Alana ke kamarnya.

__ADS_1


Alana yang ditinggal sendirian di tempatnya merasakan jantungnya berdegup kencang.


Rasa ketakutan yang selalu melingkupi nya setiap kali bertemu Hendrik perlahan-lahan memudar digantikan perasaan aneh yang begitu kuat.


__ADS_2