Pewaris Yang Kabur

Pewaris Yang Kabur
¹²¹. Remot TV untuk Alana


__ADS_3

Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya orang yang ditunggu-tunggu kini muncul dari tangga.


Dua pria yang sedari tadi menunggu di ruang keluarga terkejut melihat penampilan Alana yang serba tertutup dari ujung rambut sampai ujung kaki.


Topi hitam, masker hitam, kacamata hitam, jaket hitam celana panjang hitam, sepatu hitam dan kaos tangan hitam menutupi seluruh tubuh perempuan itu hingga sedikitpun kulitnya tidak dapat terlihat selain rambut panjangnya yang terurai.


"I,, ibu? Kenapa pakaian ibu seperti itu?" Tanya Agung dengan mata tak berkedip saking terkejutnya dia melihat penampilan Alana.


"Hm,, , Aku tidak mau ada orang yang melihatku di sana," jawab Alana dengan suara acuh tak acuh.


"Tapi,, kami sudah menelpon ke sana supaya semua penjaga meninggalkan Villa jadi, tidak ada orang lain di sana selain Kita bertiga." Kata Agung tanpa mengalihkan pandangannya dari penampilan Alana.


"Hm,, aku tidak peduli, pokoknya aku akan menggunakan semua ini," kata Alana berjalan ke samping pintu mengambil sebuah payung hitam yang diletakkan di tempat payung.


"Untuk apa payung itu?" Tanya Agung kini semakin bingung dengan tingkah Alana.


"Kalau hujan, payung ini bisa melindungiku dari hujan, kalau ada orang yang jahat padaku, ujung payung ini cukup runcing, bisa melindungiku juga!" Ucap Alana memperlihatkan ujung payung yang runcing.


Jika ada yang berani bermacam-macam padanya, ujung paling runcing itu akan berakhir tertancap di tubuh orang itu!

__ADS_1


"Sudah,, tidak masalah, ayo pergi," kata Hendrik menggendong Agung lalu berjalan ke arah pintu keluar.


Ketiga orang itu melewati taman samping rumah dengan Alana yang terlihat seperti agen rahasia yang berjalan dengan sangat waspada.


Dari gendongan ayahnya, Agung memperhatikan ibunya dengan bingung.


"Ibu,, kediaman kita terjaga sangat aman, tidak mungkin ada orang jahat di sekitar sini." Katanya.


"Hm!!! Orang jahatnya bahkan berada di sampingku! Jadi aku harus berjaga-jaga!" Ucap Alana menyindir Hendrik.


"Kenapa Ibu berkata begitu? Itu artinya Ibu baru saja menerima tamu orang jahat di rumah Ibu," ucap Agung membuat Alana menghentikan langkah kakinya.


"Sangat mengesalkan!!" Gerutu Alana menggertakkan giginya sembari membuang muka dari tatapan Agung.


Mereka terus berjalan ke arah Villa hingga mereka melewati tembok pembatas.


Sesaat Alana menghentikan langkahnya lalu menoleh ke arah Villa ayahnya, ini adalah kali pertamanya dia meninggalkan villa itu dan dia merasa sangat berat untuk terus melangkahkan kakinya.


"Ibu. Ayo!!" Seru Agung pada ibunya saat melihat perempuan itu berhenti, seperti ingin kembali ke arah villa mereka.

__ADS_1


"Ya!" Jawab Alana dengan ketus lalu dengan berat hati melangkahkan kakinya menyusul dua orang itu.


Dia hanya perlu masuk ke dalam villa sebentar lalu keluar dari sana, lagi pula itu tidak membutuhkan waktu yang lama.


Mereka berjalan melewati beberapa ruangan dan berbelok beberapa kali sampai mereka tiba di ruang utama Villa tersebut.


'Hah... Mengapa Villa ini jauh lebih luas dari villa milik kami?' Alana merasa heran sebab sedari dulu dia pikir villa mereka adalah Villa yang paling luas, dia sendiri belum menyentuh seluruh ruangan di Villa tersebut.


Tetapi setelah memasuki sebuah vila lain yang tak lain ialah villa milik Hendrik, Alana merasa kesal bahwa ternyata ada rumah yang lebih besar dari milik mereka.


"Duduklah, aku akan memasak untuk kalian," kata Hendrik menurunkan Agung di sofa lalu mengambil remot TV yang diberikan pada Alana.


"Aku akan membantumu memasak!!!" Agung berseru riang mengikuti Hendrik ke dapur meninggalkan Alana sendirian di depan TV.


Keduanya telah lupa bahwa Alana masih terjebak dalam keadaan 5 tahun yang lalu hingga seharusnya mereka tidak memberikan remote tersebut pada Alan.


Siaran TV di rumah Hendrik tak seperti di rumah Alana.


Tuk!

__ADS_1


Jari Alana menekan tombol on pada remot.


__ADS_2