
Hendrik membutuhkan waktu lama untuk menjelaskan semuanya pada Alana dan memberi pemahaman pada perempuan itu hingga Alana bisa mengerti dengan apa yang ia katakan.
"Jadi,, pria kecil tadi,," Alana merasakan nafasnya memburu mengingat apa yang telah Ia katakan di depan pria kecil tadi.
Dia bisa merasakan bagaimana sakit hatinya pria kecil itu melihat ibunya tidak mengenali dirinya.
"Hm,, namanya agung, dia adalah putra kita." Ucap Hendrik mempererat genggamannya pada kedua tangan Alana.
"Astaga,, apa yang sudah aku lakukan??" Alana mengerjapkan matanya.
"Kau mau menghampirinya?" Tanya Hendrik dengan suara yang lembut karena dia tidak mau memaksa Alana.
"Tentu saja!! Kau bilang dia anak kita berdua, aku harus menghampirinya dan meminta maaf padanya." Ucap Alana berdiri.
"Kalau begitu ayo," ucap Hendrik menggenggam tangan Alana lalu kedua orang itu keluar dari kamar.
"Dimana dia?" Jantung Alana berpacu dengan sangat kencang karena dia tidak mengingat Agung sedikitpun.
Tetapi mendengar dari Hendrik bahwa Agung adalah putra mereka, dia memang merasakan ada ikatan antara dirinya dengan pria kecil itu.
"Agung?!" Hendrik setengah berteriak.
__ADS_1
"Dia pasti sangat sedih,," ucap Alana merasa bersalah.
Keduanya mencari Agung di lantai 2 sampai akhirnya mereka menemukan Agung di sudut sebuah ruangan sedang terisak dengan kepala disembunyikan di lingkaran tangannya.
"Agung," ucap Hendrik memanggil Agung membuat pria kecil itu mengangkat wajahnya dan terlihat jelas kalau pria kecil itu baru saja menangis dengan sangat keras.
Mata yang bengkak dan sisa-sisa air mata di pipinya membuat Agung terlihat seperti anak kecil yang begitu kasihan.
Hendrik langsung menghampiri Agung lalu membawa pria kecil itu ke gendongannya dan menenangkannya.
"Jangan menangis,, ayah di sini,," ucap Hendrik pada Agung sembari menepuk pelan punggung pria kecil yang kini memeluknya dengan sangat erat.
"Namanya Agung?" Alana bertanya dengan suara pelan sembari berusaha melihat wajah Agung tetapi Agung malah menyembunyikan wajahnya ke leher Hendrik.
"Tidak apa, dia hanya malu karena Kau melihatnya saat dia sedang menangis." Ucap Hendrik sembari tersenyum karena merasakan Agung semakin erat memeluknya.
"Ahh, begitu,, kalau begitu aku tidak akan melihatnya sekarang." Ucap Alana tersenyum pada Hendrik lalu perempuan itu dengan tahu diri meninggalkan Hendrik dan Agung.
Setelah meninggalkan dua pria itu, Alana berjalan-jalan di sekitar Villa yang sangat asing baginya lalu dia tanpa sengaja melihat Romi sedang duduk di bangku yang diletakkan di teras Villa.
"Ayah,," ucapan langsung menghampiri pria itu lalu memeluknya dengan erat.
__ADS_1
"Apa yang Ayah lakukan di sini?" Tanya Alana.
"Putriku,," Romi balas memeluk Alana.
"Ayah,, Aku sudah mendengar semuanya dari Hendrik, ternyata waktu sudah begitu lama berlalu,, Aku bahkan sudah memiliki seorang Putra yang sangat tampan. Tapi,, hiks,," Alana berusaha menahan emosinya, tetapi air matanya terus bercucuran.
"Tapi,, aku malah mengecewakan perasaannya karena tidak mengingatnya. Bagaimana caranya dia hidup selama 4 tahun terakhir saat Ibunya tidak mengenali dan mengakuinya??" Alana terus terisak menyalahkan dirinya sendiri di dalam pelukan ayahnya.
"Putramu anak yang kuat, dia bahkan tidak pernah menangis di depanmu. Saat ini dia pasti merasa sangat senang karena Ibunya sudah sembuh." Kata Romi.
"Tapi,, aku baru saja melihatnya menangis,," ucap Alana terus terisak.
"Sudah,, tunggu sebentar lagi dan temui dia, dia pasti akan memelukmu dengan erat. Tapi,, Ayah mau bertanya satu hal padamu, Apakah kau ingat semua kejadian 5 tahun yang lalu?" Tanya Romi.
"Ya,, aku mengingatnya,, itu peristiwa yang sangat menyakitkan,, pria itu,, hiks,, hiks,," Alana kembali menangis mengingat peristiwa ketika dia dilecehkan oleh Hans.
"Lalu, bagaimana dengan Hendrik?" Tanya Romi.
"Hendrik?? Aku mencintainya,, aku sudah ingat waktu itu ketika aku melakukannya dengannya,, akulah yang memintanya,, tapi aku malah menyalahkannya hingga dia meninggalkanku ke luar negeri. Pada hal,, saat itu,, aku berharap dia--'"
"Itu salah Ayah,, ayahlah yang memaksanya pergi ke luar negeri. Saat itu Ayah pikir kalau dia tetap disisimu kau akan semakin tersakiti,, tapi ternyata,, seharusnya Ayah tidak pernah memisahkan kalian." Ucap Romi menyesal.
__ADS_1
Seandainya dulu dia tidak begitu egois dan tidak mengikuti emosinya, maka selama 5 tahun ini Alana tidak akan semenderita ini.
Sangat menyesal.