Pewaris Yang Kabur

Pewaris Yang Kabur
²⁶. Kantong tebal si culun


__ADS_3

Setengah hari di kampus berlalu dengan sangat cepat dan akhirnya waktu makan siang telah tiba.


Hendrik sangat terkejut ketika Alana tiba-tiba mengambil tasnya dan memakainya.


"Bagaimana penampilanku? Apakah ini sudah penampilan untuk berkencan?" Alana berkata sembari memperlihatkan sederet gigi putihnya yang yang muncul di balik senyumnya.


Namun, Alana tidak tahu saja pertanyaan Alana membuat Hendrik merasa semakin kacau di dalam hatinya.


"Ya, Tuan Putri sangat cantik." Ucap Hendrik dengan suara yang dipaksakan lalu dia segera menunduk, tidak mau lagi melihat wajah kasmaran dari perempuan di depannya.


Alana merasa sangat senang "Dua jam kedepan kau bebas dariku, tapi setelah itu kau harus menungguku di depan kampus! Mengerti?!"


"Baik Tuan Putri." Jawab Hendrik.


"Kalau begitu sampai jumpa kacungku!!" Ucap Alana lalu perempuan itu segera berlalu dari hadapan Hendrik.

__ADS_1


Hendrik berdiri diam menatap Alana yang pergi dengan langkah buru-buru.


'Dia benar-benar berkencan. Hah,, apa yang kupikirkan?! Tidak mungkin aku cemburu!' Hendrik berusaha meyakinkan hatinya lalu pria itu segera pergi ke perpustakaan dan mencari ruang sepi untuk bersembunyi dari orang-orang.


Selama dia membaca buku, pikirannya tidak fokus jadi dia melepaskan bukunya dan memikirkan Alana.


Hendrik mengepal kuat tangannya memikirkan perasaan bahagia yang dimiliki Alana saat dia akan pergi berkencan.


'Benarkah selama ini tidak ada yang bisa memperlakukanku dengan tulus? Hanya Ibu yang bisa melakukannya, tapi sekarang ibu sudah tidak ada. Sekarang ini aku sendirian!' kepalan tangan Hendrik semakin kuat dan ia menyertakan giginya sebelum meraih tasnya dan dengan hati dipenuhi amara ia meninggalkan kampus.


Dia tidak ingat lagi bagaimana dia berjanji pada Alana untuk menunggu perempuan itu di depan kampus dia langsung pergi.


"Halo, selamat datang," resepsionis pada klub besar itu menyambut Hendrik yang terlihat berhati-hati memasuki lobby.


"Saya ingin mendaftar bela diri. Tapi saya ingin melakukannya secara private tanpa diketahui oleh orang lain." Ucap Hendrik dengan suara setengah berbisik.

__ADS_1


"Baik, silakan isi formulir ini." Kata perempuan yang terlihat memiliki tubuh atletis dan wajah yang sempurna.


Hendrik segera mengambil formulir itu lalu dia mengisinya dengan cepat dan mengembalikannya.


"Kami akan menghubungi mu setelah mendapat pelatih private untukmu. Ini tagihan awalmu." Ucap resepsionis itu menyerahkan secarik tagihan pada Hendrik lalu Hendrik membayarnya dengan cepat.


"Terima kasih,," resepsionis itu terlihat sangat senang dengan tumpukan uang yang ia dapat.


Pelatihan private memang sangat jarang dipesan Karena harganya yang mahal sebab akan dilatih secara pribadi oleh pelatih profesional. Berbeda dengan pelatihan umum yang yang dilakukan bersama-sama dengan peserta lainnya.


"Wahh,, si culun itu ternyata memiliki uang yang banyak." Rekan resepsionis itu memandang kagum ke arah Hendrik.


Bukan kagum karena wajah atau bentuk tubuh Hendrik, tetapi dia kagum pada kantong tebal yang dimiliki oleh seorang pria culun.


Pria culun jauh lebih mudah dikendalikan dan didapatkan daripada pria-pria biasa lainnya.

__ADS_1


"Aku yakin dia berasal dari keluarga kaya, kau bisa mendekatinya ketika dia sudah terdaftar menjadi anggota. Orang tuanya pasti kaya." 2 resepsionis itu mulai membicarakan Hendrik dengan mata dipenuhi gambar uang.



__ADS_2