
Deg!
Deg!
Alana memandang pada pintu yang telah tertutup, 'Ku mohon jangan bangun!!'
Kedua orang itu terdiam beberapa detik lalu Alana menghela nafas lega karena ternyata tidak ada yang muncul dari kamar itu.
"Ayah, ayo kembali tidur," ucap Alana.
"Tapi kau belum menjawab pertanyaan ayah, apa yang kau lakukan malam-malam di kamar seorang pria?" Tanya Romi.
"Ayah,, bukankah tadi aku sudah mengatakan kalau aku hanya penasaran padanya?! Tidak ada maksud lain," ucap Alana menghela nafas.
"Baiklah, Lalu kenapa sampai jam segini kau belum tidur juga dan masih berkeliaran di rumah?" Tanya Romi yang merasa aneh dengan putrinya, sebab selama ini Alana tidak pernah bersikap seperti itu.
"Oh,, itu, itu karena aku tidak bisa tidur sebab memikirkan pria bernama Hendrik itu." Jawab Alana menghela nafas.
"Memangnya ada apa denganku?" Tiba-tiba tanya seorang pria muda yang kini keluar dari pintu kamar di belakang Alana.
Mendengar suara familiar yang selalu membuatnya ketakutan, Alana langsung berbalik menatap Hendrik yang berdiri memandangi nya.
"Apa yang anda pikirkan tentang saya sampai tidak bisa tidur hingga jam segini?" Tanya Hendrik menatap lekat pada Alana.
__ADS_1
Dalam hatinya dia merasa sangat senang karena ternyata Alana sampai tidak bisa tidur karena memikirkan nya.
Entah bagaimana perempuan itu memikirkannya, baik atau buruk, yang penting perempuan itu memikirkannya!!! Dia sudah merasa sangat senang!
"Ayah,," Alana yang merasa sangat malu dan terkejut langsung bersembunyi di belakang Romi karena merasa bahwa wajahnya kini memanas.
Ketahuan memikirkan seorang pria sampai tidak bisa tidur!!!
Tetapi, ketika Alana berpikir ayahnya akan membelanya, malah Romi tersenyum dan berkata "Alana, kalau kau memikirkan seorang pria dan ketahuan oleh pria itu, bukankah kau harus menjelaskan alasannya padanya?" Tanya Romi.
"Eh? Ayah,, apa yang ayah katakan??" Alana kalangkabut dibelakang Romi sampai perempuan itu meremas erat baju tidur Romi.
Bagaimana bisa ayahnya menghianatinya di depan orang asing?
"Ya, ini memang urusan anak muda, jadi ayah akan membiarkan kalian berdua." Kata Romi menatap putrinya lalu pria itu berjalan pergi meninggalkan Alana dan Hendrik.
Jantung Alana berdegup kencang dan keringat memenuhi punggungnya saat ia langsung mundur beberapa langkah hingga punggungnya membentur tembok setelah Romi pergi tanpa persetujuannya.
"Jadi,, Kenapa Nona Alana memikirkan saya sampai tidak bisa tidur?" Hendrik kembali bertanya sembari memandang perempuan yang terlihat panik di depannya.
"Itu,, aku,," Alana tidak fokus berbicara perempuan itu lebih fokus memikirkan cara untuk kabur dari Hendrik sehingga nada bicaranya sangat pelan, hampir-hampir tidak bisa didengar oleh Hendrik.
"Oh,, sepertinya Nona Alana ingin berbisik di telinga saya, silahkan," Hendrik mendekatkan diri ke Alana lalu menunduk memberikan telinganya tepat di depan wajah Alana, "Saya akan mendengarkannya." Ucap Hendrik.
__ADS_1
Alana yang terjepit di antara tubuh Hendrik dan tembok di belakangnya langsung menegang di tempatnya sembari mengangkat wajahnya memperhatikan telinga Hendrik yang hanya berjarak 3 cm dari wajahnya.
"Tu,, tuan,,, Hendrik,, to,,long MENJAUH!!!!" Teriak Alana pada akhir katanya.
"Oh,, ahhhgggg!!!" Hendrik pura-pura terjatuh kelantai sembari memegangi telinganya yang baru saja diteriaki Alana dengan keras.
"Ahhkkk!!! Sakit!!" Dengan kemampuannya Hendrik berpura-pura kesakitan sembari memegangi telinganya.
Pria itu bahkan meremas serat daun telinganya supaya terlihat merah untuk meyakinkan Alana bahwa dia benar-benar kesakitan.
"Tu,, tu,, tu,,tu,, tuan baik-baik saja??" Alana menjadi sangat panik, Dia baru saja melukai seseorang dengan suaranya??
"Ahhhgg!! Sakit!!! Ini buruk!!!" Ucap Hendrik terus berakting membuat Alana semakin panik.
"Sa,, saya tidak sengaja,," kata Alana gelagapan di tempatnya tanpa ada niat memeriksa keadaan Hendrik sebab dia tidak mau bersentuhan dengan Hendrik.
"Ahh!!! Menatap kau diam saja?? Ini sakit sekal,,,,iiii ahhkkkhhhh!!!!" kembali teriak Hendrik sembari berlutut di lantai dalam kepura-puraannya.
Melihat pria di depannya benar-benar terlihat sakit, Alana mengepal kuat tangannya. Ia berada dalam kedilemaan.
"Lalu,, apa yang harus saya lakukan??" Ia bertanya dengan panik saat melihat Hendrik semakin tak berdaya menahan rasa sakitnya..
"Ini akan sembuh kalau di tiup!" Kata Hendrik mengagetkan Alana.
__ADS_1
Di tiup?