Pewaris Yang Kabur

Pewaris Yang Kabur
204. Rahasia para pria


__ADS_3

Setelah meninggalkan pusat perbelanjaan, Hendrik Langsung kembali ke villanya dan mendapati Agung yang sedang berlari ke arah dapur.


"Ayah pulang," ucap Hendrik memasuki Villa langsung menghentikan langkah Agung lalu pria itu berbalik berlari ke arahnya.


"Ayah!!!!!!!" Teriak Agung Langsung melompat ke gendongan ayahnya.


Pria kecil itu selalu suka digendong oleh ayahnya, karena sewaktu Alana masih sakit, dia selalu bermimpi mimpi bisa digendong oleh ayahnya.


Dan sekarang, karena mimpi tersebut sudah menjadi kenyataan, jadi setiap kali dia tidak pernah membuang-buang kesempatan untuk digendong oleh ayahnya.


"Apa yang membuatmu berlari-lari di dalam rumah?" Tanya Hendrik memperhatikan wajah putranya yang tampak berseri-seri.


"Hm,, Ibu baru saja membuka Yutube dan melihat sebuah acara memasak yang ingin dipraktekkan oleh ibu. Ibu akan memasak udang!!" Ucap Agung sembari bertepuk tangan kecil karena akhirnya ayahnya kembali.


Dia tidak yakin rasa udang itu akan enak jika ibu nya yang memasaknya, tetapi sekarang karena Hendrik ada di situ maka dia yakin dia akan sangat menikmati udang yang akan menjadi menu makan malam mereka.


"Begitu ya, kalau begitu Ayo kita ke dapur melihat ibumu." Kata Hendrik menggendong Agung ke arah dapur.


"Ibu!" Seru Agung ketika mereka sudah memasuki dapur dan melihat Alana sementara mengobrak-abrik kulkas.


Alana yang sedang fokus mengambil bahan-bahan yang ia lihat di yutube kini mengangkat wajahnya lalu terkejut melihat Hendrik dan Agung datang secara bersamaan.


"Apa kau perlu bantuan?" Tanya Hendrik pada Alana.


"Tentu saja!!" Agung yang menjawab pertanyaan Hendrik sebab dia tidak mau membiarkan ibunya memasak sendirian karena nanti rasa masakannya jadi tidak enak.


"Ya, kau bisa membantuku mencuci udang." Ucap Alana.

__ADS_1


"Ah baiklah, kalau begitu aku pergi dulu ganti baju." Ucap Hendrik menurunkan Agung dari gendongannya lalu pria itu meninggalkan dapur menuju kamar.


Hendrik langsung meletakkan paper bag yang ia bawa di atas meja rias Alana, lalu tersenyum membayangkan reaksi Alana ketika melihat hadiah pemberiannya.


Setelah itu, Hendrik berganti baju lalu kembali ke dapur dan melihat Alana sedang memotong-motong bawang.


"Ibu, Kenapa mataku terasa perih?" Ucap Agung yang berdiri di samping Alana sembari menutup matanya yang tiba-tiba terasa perih


"Hm,, ini aneh, mata ibu juga terasa perih," ucap Alana meletakkan pisau dan bawangnya lalu perempuan itu hendak mengucek matanya dengan tangannya ketika Hendrik datang menghentikannya.


"Matamu akan semakin perih kalau kau menguceknya dengan tangan yang baru saja memegang bawang merah." Kata Hendrik menarik tangan perempuan itu menjauh dari matanya.


"Ayah,, Apakah mata kami peri karena bawang ini?" Tanya Agung sambil menunjuk bawah yang sudah setengah diiris oleh Alana.


"Hm,, ini karena aroma bawang yang kalian iris itu." Ucap Hendrik lalu menarik Alana ke wastafel dan mencuci tangan Alana sampai bersih.


Setelah mencuci tangan, Hendrik memakai celemeknya lalu dia menggantikan Alana mengiris iris bawang.


"Lalu apa hang kulakukan?" Tanya Alana.


"Cuci bersih telurnya lalu rebus." Ucap Hendrik.


"Ah,, ya!!! Aku sampai melupakan telurnya!!" Alana dengan semangat mengambil telur puyuh yang sudah ia keluarkan dari kulkas lalu perempuan itu mencuci telurnya sampai bersih.


Mereka terus melanjutkan acara memasak mereka sampai 40 menit kemudian semua masakan sudah tersaji di atas meja.


Agung dengan semangat mengambil piring, sendok dan juga gelas lalu menatanya di atas meja.

__ADS_1


Mereka pun duduk bersama untuk makan malam keluarga.


"Hari ini, apa yang ayah kerjakan di luar rumah? Bukankah ayah bilang Ayah sudah tidak bekerja lagi?" Agung bertanya pada Hendrik ketika dia merasa aneh bahwa ayahnya yang sudah tidak bekerja lagi masih berkeluyuran di luar rumah tanpa membawa mereka.


Hendrik tersenyum lalu pria itu mendekatkan bibirnya ke telinga Agung dan berbisik pelan, "Jangan beritahu ibumu, ini rahasia antar pria."


"Tentu!!" Seru Agung merasa sangat senang karena dia akan memiliki rahasia bersama ayahnya.


"Baiklah, jadi ayah keluar untuk diam-diam mempersiapkan acara pernikahan ayah dan ibumu." Ucap Hendrik membuat Agung melototkan matanya lalu pria kecil itu hendak berseru menanyakan sesuatu ketika Hendrik memberinya kode untuk tetap diam.


Dengan wajah menggemaskannya, Agung tersenyum sembari mengangguk-anggukkan sebagai kepalanya pertanda bahwa dia mengerti dengan apa yang dimaksud oleh ayahnya.


Alana mengerutkan keningnya melihat dua pria di depannya kini sudah berani menyimpan rahasia darinya.


Alana menatap tajam pada dua pria itu lalu berkata, "Apakah menyenangkan menyimpan rahasia dariku??"


Hendrik dan Agung saling berpandangan selama beberapa detik lalu keduanya menatap Alana.


"Ini rahasia antar pria, sebaiknya perempuan cantik sepertimu tidak perlu tahu." Ucap Hendrik.


Tetapi Agung kemudian berseru, "Ibu tenang saja nanti aku akan diam-diam memberitahu ibu!!"


"Benarkah?" Alana merasa sangat senang lalu perempuan itu melemparkan tatapan kemenangannya pada Hendrik.


Melihat itu, Hendrik kembali menatap putranya, tetapi Agung mengedipkan sebelah matanya padanya hingga membuat Hendrik menahan tawanya.


Dia tahu bahwa putranya sangatlah pandai, jadi pria kecil itu pasti menyiapkan sesuatu yang lain untuk diberitahukan pada Alana.

__ADS_1


__ADS_2