Pewaris Yang Kabur

Pewaris Yang Kabur
¹⁴⁴. Pagi hari yang menggemaskan


__ADS_3

Pada keesokan harinya Hendrik bangun pagi-pagi sekali lalu membakar semua foto-foto Alana yang ia dapatkan dari Dani.


Setelahnya, pria itu menelepon Romi.


"Halo, apa yang kemarin kau bicarakan dengan Alana? Apakah foto-foto yang kau maksud itu adalah foto-foto yang selama ini kita cari?" Langsung tanya Romi ketika panggilan telepon itu telah terhubung.


Sepanjang hari dia sudah memikirkannya dan dia benar-benar berharap foto-foto itu sudah ditemukan supaya bisa membuatnya menjalani hari-harinya dengan tenang.


Bagaimanapun, foto-foto itu sudah menjadi sebuah bom yang selama ini menghantui mereka, bisa diledakkan katakan saja untuk merusak mental anaknya.


"Ya,, aku sudah menemukannya dan membakar semua foto-foto tersebut, sekarang tidak ada lagi yang perlu kita khawatir kan." Jawab Hendrik.


"Bagus,, lalu apa rencanamu sekarang? Kau akan meninggalkan perusahaan ayahmu dan pindah ke perusahaanku atau kau masih memiliki hal lain untuk diselesaikan?" Tanya Romi.


"Ya,, masih ada hal lain yang perlu ku selesaikan, dan juga aku tidak akan menjadi parasit di keluarga calon istriku. Selama beberapa tahun di luar negeri aku sudah diam-diam membangun sebuah perusahaan, jadi perusahaan itulah yang akan ku teruskan." Ucap Hendrik.


"Begitu? Lalu kapan kau akan memutuskan hubungan dengan para perempuan perempuan itu? Aku tidak ingin kau memiliki skandal dengan mereka yang mungkin saja akan diketahui oleh Alana." Ucap Romi yang kuatir jika Alana sampai mendengar berita hubungan perjodohan antara Patra dan Hendrik.


"Aku akan mengatasinya hari ini." Jawab Hendrik.


"Kalau begitu lakukan," jawab Romi dari seberang telepon lalu mereka mengakhiri panggilan tersebut.


Hendrik bernafas dengan lega, sekarang ketakutannya sudah hilang, jadi pria itu pergi ke dapur untuk memasak bagi dua orang terpenting dalam hidupnya.

__ADS_1


Setelah memasak, ia naik ke kamar.


Begitu memasuki kamar, dilihatnya Agung yang sedang di peluk Alana dari belakang menatapnya dengan tatapan mengandung permusuhan.


"Selamat pagi," ucap Hendrik menghampiri dua orang itu dan mengulurkan tangannya untuk mengelus kepala Agung.


Belum sempat dia menyentuh kepala pria kecil itu saat tangan kecil aku menahan tangannya.


"Kau masih marah??" Tanya Hendrik kini menarik tangannya.


"Huh!! Aku tidak akan memaafkan orang yang sudah menyakiti ibuku!" Ucap Agung berbalik memunggungi Hendrik dan memeluk Alana dengan erat.


Merasakan pergerakan di pelukannya, Alana membuka matanya dan melihat Hendrik duduk menatap mereka.


"Selamat pagi," kata Alana pada Hendrik.


Agung yang sedari tadi diam diperlukan Alana kini mengangkat wajahnya saat merasakan gerakan Hendrik mendekati ibunya.


Namun saat ia mengangkat wajahnya, ciuman Hendrik sudah mendarat di pipi Alana, pria kecil itu terlambat mencegahnya.


"Jangan cium ibuku!!!" Kesal Agung pada Hendrik sembari mengulurkan tangannya menggosok pipi Alana yang baru saja dicium oleh Hendrik.


Kotor kotor kotor!!!!

__ADS_1


Melihat hal itu, Alana terkikik dengan kelakuan dua orang itu.


Agung menggembungkan pipinya, "Ibu,, pokoknya Ibu tidak boleh lagi dekat-dekat dengannya!!" Ucap Agung dengan suara penuh peringatan.


"Astaga putraku,, kalau ibu tidak dekat dengan dengan ayahmu, Ibu tidak akan bisa bernafas dengan tenang. Kalian berdua ini orang penting dalam hidup Ibu, jadi tidak ada yang bisa memisahkan kita bertiga. Mengerti?!!" Tegas Alana.


"Tapi Bu!! Kemarin dia sudah melukai Ibu!! Apakah badan Ibu masih sakit karena ditekan olehnya??" Tanya Agung dengan cemas.


Pertanyaan pria kecil itu membuat Hendrik ingin tertawa, tetapi dia tidak mengatakan apapun dan hanya berlalu ke kamar mandi.


Bagaimana dia akan menjelaskan pada pria kecil itu bahwa saling menindih antara orang dewasa yang saling mencintai Itu adalah sebuah hal yang wajar?!


"Tidak,, Ibu, tidak sakit,, kemarin Ayah melakukan itu karena dia menyayangi ibu." Ucap Alana berusaha memberi penjelasan pada Putra kecilnya.


"Benarkah??" Tanya Agung merasa tak yakin.


"Hm!! Lagipula kemarin ayahmu tidak menekan ibu dengan keras, dia menggunakan tangannya untuk menumpuh. Bukan hal yang membaut ibu kesakitan." Kata Alana.


"Tapi,, kemarin--"


"Sttt,, ayahmu bisa sedih kalau kau tidak mempercayainya." Ucap Alana.


Agung terdiam menatap ibunya, ia memikirkan ucapan Alana, beberapa saat kemudian pria kecil itu akhirnya mengangguk lalu kembali memeluk Alana.

__ADS_1


"Tapi lain kali kalau Ayah menyakiti ibu, pokoknya katakan padaku supaya aku melindungi Ibu!!" Ucap agung dengan tegas.


"Ayahmu tidak akan pernah menyakiti ibu,, percayalah," ucap Alana menarik gemas pipi Agung yang imut.


__ADS_2