Pewaris Yang Kabur

Pewaris Yang Kabur
⁵⁶. Foto Ayah


__ADS_3

Agung yang melihat kakeknya kini terdiam tak mengatakan apapun segera menghela nafas dan menggerutu "Huh,, kakek ini ditanya malah diam..! Aku tanyakan saja pada ibu!" Kata Agung Langsung melompat dari tempat tidur meninggalkan kakeknya yang masih dalam keadaan linglung.


Peri kecil itu berlari dengan langkah kecilnya ke ruangan sebelah di mana kamar Alana berada.


"Ibu...!!" Agung berteriak dengan sangat senang sembari memegang erat foto-foto di tangannya.


"Ibu..!!" Lagi teriak Hendrik saat ia tiba di ruang khusus Alana belajar.


Alana yang sedang mengikuti kelas online langsung berdecak kesal melihat pria kecil itu kembali mengganggunya.


"Aku sedang belajar..! Jangan menggangguku!" Kesal Alana.


"Maaf Ibu, tapi aku hanya ingin menanyakan sesuatu yang sangat penting. Hanya butuh 1 menit saja, ya Bu?!" Ucap Agung merengek.


"Haiss,, merepotkan saja, seandainya Ayah tidak menyuruhku menjagamu Aku tidak akan mau melakukannya." Kesal Alana kembali melihat ke komputernya dimana kamera dan mic nya sedang di mute.


"Apa yang ingin kau tanyakan?!" Tanya Alana dengan wajah judesnya.


"Ini Bu,," Agung menyerahkan foto-foto ditangannya pada alamat "Apakah Ibu mengenalnya? Apakah dia ayahku?!" Tanya Agung dengan suara yang sangat bersemangat.


Tetapi detik berikutnya ketika Alana yang melihat foto itu, wajah Alana menjadi pucat pasi dan kepalanya terasa sangat sakit.

__ADS_1


Tangannya gemetaran megang foto itu sebelum lemas dan foto-foto tersebut jatuh ke lantai.


"Ahhkk...!!" Dengan keringat dingin membanjiri keningnya, Alana memegang kepalanya yang terasa sangat sakit.


"Ibu kenapa?!" Tanya Agung kini menjadi panik melihat ibunya dalam keadaan yang tidak baik.


"Ibu,, ibu,," Agung berbicara dengan cemas sampai Romi datang menghampiri mereka.


"Kakek...!!" Agung menatap kakeknya dengan rasa bersalah tetapi Romi tidak menghiraukannya, pria itu hanya mendekati Alana dan menggendong Alan yang pingsan ke tempat tidur.


"Ibu..." Agung mengikuti kakeknya lalu pria kecil itu segera naik ke tempat tidur Alana dan memegang tangan Alana dengan cemas.


"Jangan menangis, tunggu ibumu di sini, Kakek akan memanggil dokter." Kata Romi lalu pria itu segera pergi meninggalkan kamar Alana untuk menelepon dokter.


Setelah menelepon dokter, Romi kembali ke dalam kamar dan mendapati Agung sedang menangis memegang tangan ibunya.


"Sudah, jangan menangis, ibumu hanya pingsan biasa." Kata Romi berusaha menenangkan Agung, padahal dia sendiri tidak tahu bagaimana keadaan Alana.


Alana memang sering menyebut nama Hendrik, tetapi ketika Romi menanyakan pada Alana siapa itu Hendrik perempuan itu hanya mengatakan mengingat namanya.


Dia lupa akan banyak hal termasuk Hendrik telah dilupakan oleh Alana, namun nama pria itu entah kenapa masih diingat juga.

__ADS_1


"Kakek,, Aku menyesal, seharusnya aku tidak memperlihatkan foto-foto itu pada ibu. Sakit Ibu jadi tambah parah karena aku hiks,, hikss,,," Isak Romi dengan mata polosnya meneteskan air mata.


"Tidak sayang, tidak begitu, ibumu hanya kebetulan saja jatuh sakit." Ucap Romi mengelus kepala Agung.


"Tapi ini salahku,,, aku terlalu senang karena aku bisa melihat foto ayah. Tapi ternyata foto ayah malah menyakiti ibu." Ucap Agung masih terus menangis.


"Bukan,, tidak seperti itu." Romi segera menarik cucunya ke pangkuannya dan memeluk pria berumur 4 tahun itu.


"Jangan menangis, ibumu tambah sedih kalau kau terus menangis." Ucap Romi.


Mendengar kata ibunya yang akan semakin sedih, dengan patuh Agung menahan tangisannya dan hanya suara nafas yang dihembuskan yang didengar Romi dari pria kecil itu.


"Tapi Kakek,, Apakah orang difoto itu benar-benar ayahku?" Tanya Agung setelah diam beberapa menit.


Romi terdiam, dia belum siap untuk menceritakannya pada Agung, sebab Dia masih memiliki dendam pada Hendrik, dia berharap dia bisa membunuh anak dan ayah itu sebagai balasan atas menderitanya Putri dan cucunya selama 5 tahun terakhir.


Namun,, mampukah dia menyembunyikan semuanya? Agung terlahir dengan wajah yang hampir mirip dengan Hendrik, pokonya wajah cucunya perpaduan Alana dan Hendrik.


"Kakek akan menceritakannya kalau kau sudah besar. Ok?"


"Tapi sekarang aku sudah besar." Ucap Agung.

__ADS_1


"Nanti, saat lebih besar lagi." Ucap Romi.



__ADS_2