
Akhirnya Setelah semua persiapan sudah cukup dan mereka sudah lama mengelilingi kota maka mobil mereka berbelok ke sebuah kafe.
Hendrik sendirian memasuki cafe, sementara Dirga, pria itu berdiri di depan cafe mengamati orang-orang yang lalu lalang di sekitar cafe itu.
Meski orang-orang di sekitar situ tampak tidak mencurigakan, tetapi bukan berarti di antara mereka tidak ada orang-orang dari Black yang sedang menyamar.
'Sial!! Semakin berbahaya keluar seperti ini dan terlebih Tuan belum menggunakan rompi anti peluru.' Dirga merasa sangat cemas pada Hendrik.
Sementara Hendrik yang memasuki kafe, pria itu berjalan ke arah ruang VIP menembus sebuah ruangan rahasia sebelum keluar di belakang cafe menaiki sebuah mobil yang dari tadi menunggunya.
"Silakan gunakan rompi anti peluru," kata seorang pria yang menyambut Hendrik di dalam mobil.
"Jalankan mobilnya," ucap Hendrik sembari menerima rompi anti peluru yang disodorkan oleh bawahannya.
"Baik Tuan," jawab sang bawahan.
Brrrrruummm....
Mobil yang ditumpangi Hendrik melaju meninggalkan kafe.
Dilihat dari luar mobil mereka sama sekali tidak mencolok karena tampak seperti mobil biasa yang melaju di jalanan.
__ADS_1
Tapi sejatinya, mobil tersebut adalah mobil sport dengan mesin berkapasitas tinggi yang dilengkapi kerangka anti peluru.
"Bawa aku menemui istri dan anakku," ucap Hendrik setelah mobil mereka cukup lama berada di jalanan dan situasi tampak lengang.
"Baik Tuan," jawab pria yang terus berkomunikasi dengan Dirga lalu mobil mereka segera berjalan ke sebuah tower yang terletak di bagian selatan ibukota.
Begitu mobilnya tiba, Hendrik yang telah berganti pakaian di mobil kini turun dari mobil dengan penampilan yang biasa-biasa saja lalu memasuki gedung.
Menaiki lantai 18, Hendrik kemudian dibawa ke sebuah apartemen di mana Alana dan Agung sedang menunggunya.
"Ayah!!" Agung berseru sembari berlari ke arah Hendrik saat melihat pria itu telah kembali.
"Apa yang kalian lakukan?" Tanya Hendrik membawa Agung ke gendongannya lalu melihat Alana yang sedang duduk di ruang keluarga.
"Kalian sudah makan?" Tanya Hendrik.
"Sudah!! Tapi ayah, aku ingin sekali melihat di jendela sana, tetapi pelayan yang tadi melarang kami dekat-dekat dengan jendela." Agung mengeluh sembari menunjuk jendela yang mana tirai jendela tersebut ditutup padahal hari masih sangat siang.
Hendrik mengerti mengapa pelayan melarang mereka untuk mendekati jendela karena mungkin saja seseorang akan melihat mereka.
"Berada di luar itu sangat berbahaya, makanya kita tidak boleh sembarang memperlihatkan diri pada orang lain." Ucap Hendrik berusaha memahami putranya.
__ADS_1
"Begitu ya,, padahal tadi ibu bilang kita berada di tempat yang sangat tinggi. Aku ingin melihat pemandangan dari tempat yang tinggi seperti yang pernah kulihat di TV." Ucap Agung menghela nafas.
"Lain kali ayah akan membawamu ke gedung yang paling tinggi lalu kita akan melihat pemandangan dari sana. Tapi sekarang kau harus menurut pada ayah, tidak boleh bertindak sembarangan. Ok?!"
"Baik Ayah," jawab Agung sembari tersenyum dengan tangannya memasang puzzle yang diletakkan di atas meja.
Alana melihat Hendrik lalu memberi kode pada pria itu agar mereka berbicara secara pribadi.
"Agung, ayah dan ibu akan membicarakan sesuatu, kau selesaikan pasalnya sendiri." Kata Hendrik dijawab anggukan Agung.
Alana dan Hendrik kemudian memasuki sebuah kamar.
"Apa yang terjadi? Mengapa hari ini ada banyak sesuatu yang membutuhkan penjelasan?" Tanya Alana yang merasa bahwa sesuatu telah terjadi hingga mereka tiba-tiba meninggalkan Villa dengan buru-buru lalu mereka juga meninggalkan hotel dengan pengawalan yang sangat ketat.
Hendrik menghela nafas lalu memeluk perempuan itu dengan erat, "Beberapa orang baru saja menyerang ayahmu hingga saat ini ayahmu terbaring di rumah sakit." Ucap Hendrik langsung membuat Alana gemetar menatap Hendrik.
"Apakah orang-orang itu adalah suruhan ayahmu?" Tanya Alana ketakutan.
"Ya,, tapi semuanya sudah diatasi. Aku pastikan kau dan Agung akan aman di sini," ucap Hendrik.
"Lalu bagaimana dengan ayahku? Bagaimana kondisinya?" Tanya Alana dengan tubuh gemetaran.
__ADS_1
"Baru saja selesai dioperasi, sekarang Dokter sedang mengawasi perkembangannya, tapi kita tidak bisa pergi ke sana karena sangat berbahaya." Ucap Hendrik diangguki Alana dengan kesedihan dan ketakutan di wajahnya.
Melihat perempuan itu masih ketakutan, Hendrik mempererat pelukannya pada Alana, "Jangan takut, aku akan berusaha mengatasinya." Ucap Hendrik.