
"Bagaimana kau akan membantuku?" Tanya Alana dimana dirinya sendiri juga tidak tahu bagaimana pria itu akan membantunya sementara yang terluka bukan hanya tubuhnya tetapi hati dan pikirannya juga terluka lebih parah.
"Aku akan bertanggungjawab atas apa yang ayahku lakukan. Biarkan aku menghilangkan trauma mu." Ucap Hendrik sembari mengepal erat tangannya, dia tahu kalau apa yang ia bicarakan ini akan sulit di lakukan, tapi rasa bersalahnya pada Alana tak mampu ia kendalikan.
Ia tak bisa tenang setiap kali mendengar suara Alana yang ketakutan dan gemetaran karena apa yang sudah dilakukan ayahnya pada perempuan itu.
Sementara Alana yang mendengar ucapan Hendrik, perempuan itu menahan ketakutannya dan berusaha mengeluarkan suaranya yang tercekat "Bagaimana kau bisa menghilangkan traumaku? Pria itu,, ayahmu,, hiks,, dia,,, dia sudah menyentuhku...." Alana terisak mengingat Hans telah menyentuh seluruh tubuhnya.
Bahkan,, dia hampir kehilangan kegadisannya seandainya dia tidak sadar lebih cepat.
Semakin mendengar suara Alana yang ketakutan semakin membuat Hendrik mempererat kepalan tangannya lalu pria itu memejamkan matanya.
Ia mengumpulkan seluruh keberaniannya lalu berbalik dan menghampiri Alana.
"Biarkan aku membantumu." Ucapnya memeluk Alana hingga perempuan itu kembali menangis keras.
"Hiks,,, bagaimana kau membantuku?! Bagaimana bisa?" Alana merasa sesak, pelukan Hendrik memang terasa nyaman tetapi dalam pelukan pria itu dia merasa sangat gelisah.
Dia merasa sangat marah dan sedih tetapi ada dorongan aneh yang membuatnya merasa nyaman disentuh oleh Hendrik.
__ADS_1
"Kalau kau mengijinkan, biarkan aku membersihkan bekas pria itu di tubuhmu,, aku janji,, aku akan melakukannya dengan lembut." Ucap Hendrik saat ia mengingat buku yang pernah ia baca.
Cara terbaik melupakan sebuah trauma adalah menerobos rasa trauma itu!
Kalau Alana terluka karena di sentuh oleh Hans, maka perempuan itu hanya akan sembuh ketika dia mendapat sentuhan yang sama, tapi sentuhan yang didasari ketulusan dan perasaan menerima.
Alana menatap Hendrik, ia menelan air liurnya saat dirinya tergoda oleh pria itu.
Perasaan meledak dalam hatinya entah muncul dari mana, dia juga tidak mengerti, tapi tangannya bergerak dari selimut dan memeluk Hendrik dengan erat.
"Tolong bantu aku,," ucapnya meneteskan air matanya.
Dengan segera Hendrik mengangkat Alana ke kamar mandi dan membaringkan perempuan itu dalam baht up yang kebetulan berisi air. Keduanya kemudian berendam di sana.
"Apa kau masih sadar?" Tanya Hendrik saat melihat wajah Alana snagat merah menahan kegelisahannya.
"Mmhh, aku merasa baik di peluk begini." Ucap Alana mengeratkan lingkaran tangannya di punggung Handrik.
Entah perasaan apa itu, tapi rasa ketakutannya menghilang hanya dengan Hendrik di dekatnya.
__ADS_1
Ia seperti tersihir dan merasa gelisah karena ingin terus di belai Hendrik.
'Pria tua sialan..! Dia pasti memberi sesuatu pada Alana.' Amarah dalam hati Hendrik membesar, tapi melihat Alana yang menderita, ia menepis dendamnya dan menundukkan kepalanya menciumi Alana.
"Aku akan melakukannya hanya kalau kau mengijinkannya, aku janji akan bertanggungjawab." Ucap Hendrik di sela-sela ciumannya.
"Tolong lakukan,, aku sangat ketakutan,, aku butuh kamu." Suara Alana yang parau di setengah kesadarannya.
Hendrik akhirnya melanjutkan pekerjaannya, ia akan menghapus luka Alana dengan sentuhannya.
"Ngghh..." Lenguhan panjang dari perempuan yang di kuasai obat segera menghiasi kamar mandi itu.
Noda merah yang melebur dalam air dan keringat yang tersamar oleh air menjadi saksi dua orang yang sedang berusaha melepaskan perasaan mereka.
Entah itu dendam, rasa bersalah, ketakutan, kekecewaan, kesedihan, trauma, semuanya menghilang seiring waktu yang terus dilalui dalam sentuhan mereka.
'Hari ini, aku kembali memiliki seseorang yang berharga di hidupku. Aku berjanji akan melindunginya selamanya...' Ucap Hendrik dalam hati saat ia bersandar di bath up dengan Alana di pelukannya.
Dia merasa kembali hidup, wanita kedua dalam hatinya sedang dalam pelukannya.
__ADS_1