Pewaris Yang Kabur

Pewaris Yang Kabur
³⁴. Bagaimana akan membantu?


__ADS_3

"Tuan muda..!!" Lina berteriak memperingatkan Hendrik saat Hans mengangkat patung pajangan untuk memukul kepala hendricks.


Untung saja saat itu Hendrik dengan sikap berbalik lalu kembali memukuli ayahnya beberapa kali sebelum mendekati Alana dan dengan paksa mengangkat perempuan itu.


"Lepas..!! Lepaskan aku!! Hiks,, hiks hiks,,," Alana menangis histeris, tapi Hendrik tidak memperdulikan tangisan perempuan itu, dia hanya membawa Alana pergi dari ruang kerja ayahnya lalu membawa perempuan itu ke kamarnya.


Setelah membaringkan Alana di tempat tidur Hendrik mengunci pintu kamarnya dan mengambil air putih di atas meja.


"Kau baik-baiks aja? Minum ini," ucap Hendrik dengan wajah cemas nya menyerahkan segelas air putih pada Alana.


Alana yang tampak sangat ketakutan terlihat sangat berhati-hati pada Hendrik tetapi melihat Hendrik yang tidak mendesak nya Alana akhirnya mengulurkan tangannya dan mengambil air putih itu.


"Mimumlah," ucap Hendrik lalu pria itu pergi ke arah pintu untuk meninggalkan alana sendirian supaya perempuan itu memiliki waktu untuk menenangkan diri.


Tetapi, ketika Hendrik meraih handle pintu dan hendak keluar Alana tiba-tiba berseru "Jangan!!"


Suara Alana yang tercekat dan disertai isakan langsung menghentikan gerakan Hendrik lalu pria itu berbalik menatap Alana.

__ADS_1


Alana tampak ketakutan dan gemetaran saat perempuan itu memaksakan dirinya untuk berbicara "Jangan,, pergi,, aku takut.."


Hendrik terdiam memandangi Alana, dia hendak pergi ke ruang kerja ayahnya dan mengambil kamera yang dipakai oleh ayahnya.


Tetapi melihat Alana yang ketakutan dan gemetaran seperti itu Hendrik akhirnya menghentikan langkahnya lalu pria itu kembali ke sisi ranjang dan duduk di tepi ranjang.


Hendrik terus terdiam sembari mengepal erat tangannya dan hatinya penuh dengan kekacauan mendengar masih terus terisak dengan tubuh gemetaran nya.


'Aku gagal lagi,, aku gagal lagi melindungi 1 perempuan. Orang tua keparat itu...!!' dendam dalam hati Hendrik semakin membesar apalagi ketika ia ingat bagaimana suasana dalam ruang tersembunyi ayahnya ketika dia membuka pintu.


Pria itu,, melecehkan Alana!


"Baiklah," kata Hendrik sembari mengangguk lalu pria itu berjalan kearah lemari dan dan mendapatkan sebuah gaun untuk Alana.


"Kenakan ini," ucap Hendrik menyodorkan gaun untuk Alana.


"Te,, terima kasih.. tapi,, tapi bisakah kau tidak meninggalkan kamar ini? Aku,, aku takut,," ucapan Alana dengan tubuh gemetaran dan air mata perempuan itu masih terus mengaliri wajahnya.

__ADS_1


"Aku akan di sini." Ucap Hendrik.


"Kalau begitu,, berbalik," perintah Alana diikuti oleh Hendrik yang segera berbalik lalu pria itu berjalan ke tembok.


Melihat Hendrik yang sangat patuh dengannya, Alana merasa lebih tenang lalu perempuan itu menyibak selimut dari tubuhnya dan melihat tubuhnya yang dipenuhi tanda kemerahan.


Wajah Alana mematung lalu dia teringat kejadian bersama Hans....


"Hiks,, hiks,, hiks,," Alana merasa seluruh keberaniannya untuk melihat tubuhnya menghilang ia kembali terisak dengan keras dan tubuhnya gemetaran mengingat bagaimana pria itu telah menyentuh seluruh tubuhnya.


Hendrik yang mendengar tangisan memiluhkan Alana hanya bisa mengepal erat tangannya dan tubuhnya juga ikut gemetaran membayangkan kesakitan yang dialami Alana.


Awalnya dialah yang berpikir untuk melakukan hal seperti itu pada Alana, tapi ternyata,,,, sekarang ia dipenuhi penyesalan.


"Hiks....." Alana sudah tidak sanggup lagi perempuan itu kini meremas erat selimutnya dan tak berani lagi membuka selimut itu.


"Biarkan aku membantumu," tiba-tiba kata Hendrik membuat Alana mengangkat wajahnya dan melihat pria itu masih menghadap ke tembok.

__ADS_1


"Bagaimana kau akan membantuku?" Tanya Alana dimana dirinya sendiri juga tidak tahu bagaimana pria itu akan membantunya sementara yang terluka bukan hanya tubuhnya, tetapi hati dan pikirannya juga terluka lebih parah.



__ADS_2