Pewaris Yang Kabur

Pewaris Yang Kabur
⁷⁹. Akan melihat kehebatan Hendrik


__ADS_3

Hendrik tiba di ruang kerjanya dan melihat tumpukan dokumen yang sudah disiapkan Dirga di atas meja.


Pria itu menghela nafas lalu duduk di kursinya sembari meletakan putranya di pangkuannya.


"Apa kau mau makan sesuatu?" Tanya Hendrik sembari melihat wajah cemberut yang di tampakkan putarannya.


"Huh!! Aku bisa pergi mencari makanan sendiri!" Kata Agung melihat sinis pada ayahnya lalu pria kecil itu turun dari pangkuan ayahnya.


Melihat tingkah Agung yang sangat mirip dengan Alana yang ia kenal dulu, pria itu tersenyum dan membiarkan putarannya berjalan kemanapun ia suka.


Bagaimanapun, Agung tidak akan bisa meninggalkan villa karena vilanya dijaga dengan sangat ketat.


Jadi Hendrik dengan tenang bekerja sambil sesekali istirahat memikirkan ucapan Agung padanya.


'Benar, semua yang terjadi adalah salahku, tapi aku belum bisa melakukan apapun sekarang karena Tuan Romi menginginkan harta warisan pria tua itu dan juga kepala pria tua itu. Tapi,, hah,, rencanaku belum sempurna untuk melakukannya karena sekretaris itu masih bersikeras berada di pihak si pria tua.' pikir Hendrik memijat kepalanya.


Hampir semua orang yang berada di sisi Hans setelah ditarik ke sisi nya tetapi sekretaris Hans yang bernama Dani benar-benar sulit untuk dipengaruhi.


'Pasti ada sesuatu yang disembunyikan oleh Hans sehingga Dani tidak berani menghianatinya,, tapi apa itu?' Hendrik memijat keningnya.


Akhirnya setelah seharian memikirkannya Hendrik tidak menemukan jawaban apapun, pekerjaannya juga telah selesai jadi pria itu beranjak meninggalkan ruang kerjanya untuk mencari Agung.

__ADS_1


"Diamana putraku?" Tanya Hendrik pada beberapa pengawal yang berjaga di dalam vila.


"Putra?" Salah satu pengawal bertanya dengan bingung.


"Pria kecil itu!" Ucap Hendrik.


"Ahh, dia ada di kamar Tuan, tadinya kami sudah mencegahnya masuk ke sana tetapi dia mengancam kami akan melukai dirinya sendiri jika kamu tidak mengizinkannya masuk. Jadi--"


"Kalian lanjut bekerja." Sela Hendrik lalu berjalan kearah kamarnya.


Begitu membuka pintu kamar, didapatinya seorang pria kecil sedang terbaring di atas tempat tidur sembari memegang bingkai foto yang biasanya dipegang oleh Hendrik.


Hendrik menghela nafas dan perasaan aneh melingkupi dirinya ketika ia melangkahkan kakinya mendekati Agung.


Hendrik tersenyum "Tenyata aku sudah memiliki putra, putraku dan Alana..." Ucapnya merasa terharu meski perasaan sedih juga menyelimuti hatinya.


Cukup lama Hendrik memandangi Agung sampai pria itu memutuskan untuk turun ke dapur memasak beberapa makanan untuk makan malam mereka.


Setelah selesai, Hendrik membungkus beberapa makanan lalu kembali naik ke lantai dua dan melihat Agung sudah bangun.


"Kau sudah bangun? Mau kembali ke ibumu?" Tanya Hendrik kembali melangkahkan kakinya memasuki ruangan, mendekati putranya yang duduk di tempat tidur sembari melihat foto Alana.

__ADS_1


Begitu melihat ayahnya, wajah Agung yang sedari tadi memandang sedih pada foto ibunya langsung berubah judes menatap Hendrik.


"Huh! Sudah dari tadi aku ingin kembali!" Katanya segera turun dari tempat tidur sembari membawa foto Alana.


Hendrik menyipitkan matanya melihat pria itu. Apakah pria kecil itu akan membawa satu-satunya foto Alana yang ia miliki?


Ketika dia hendak bertanya, Agung sudah menghentikan langkahnya lalu berbalik menatap Hendrik.


"Ambil ini!" Kata Agung menyodorkan foto di tangan pria kecil itu.


"Anak baik," ucap Hendrik memuji Agung lalu mengambil foto dari Agung.


"Huh! Kau pikir aku akan tersenyum dengan pujianmu? Aku hanya khawatir nanti malam kalau tidak bisa tidur karena tidak melihat foto ibuku!" Kata Agung dengan ketus.


Seharian ini dia sudah mengelilingi Villa besar itu, selain lukisan abstrak yang diletakkan di setiap dinding Villa maka tidak ada lagi hal lainnya.


Jadi Agung bisa menebak bahwa satu-satunya foto Alana yang ada di vila itu adalah foto yang tadi ia pegang jadi dia tidak tega membiarkan ayahnya tersiksa Jika dia membawa pergi foto itu.


"Aku sudah memasak dan membungkus makanannya, kau bisa makan bersama ibumu." Kata Hendrik mengikuti putranya yang sudah keluar dari kamar.


Agung tidak mengatakan apapun dia hanya turun bersama Hendrik lalu melihat Hendrik mengambil sebuah paper bag yang mungkin berisi makanan.

__ADS_1


'Huh! Saat ini kakek pasti sudah pulang dan sedang cemas mencariku di vila. Aku akan melihat kehebatan orang ini menghadapi kakek, kalau dia tidak berhasil menghadapi kakek maka percuma saja menemukannya! Tidak akan beguna untukku dan ibu!!' pikir agung.



__ADS_2