
Mobil yang dikendarai Hendrik melaju di terowongan bawah tanah dengan kecepatan tinggi.
Alana dan Agung yang baru pertama kali naik mobil setelah bertahun-tahun lamanya merasa sangat tegang di dalam mobil, tetapi setelah beberapa waktu mereka mulai terbiasa dan menikmati perjalanan itu.
"Perutku terasa tidak nyaman, Apakah ibu merasakan hal yang sama?" Agung tiba-tiba bertanya setelah 10 menit mobil tersebut melaju.
"Ya,, Ibu juga merasa tidak nyaman tapi ini adalah hal yang wajar ketika kita baru pertama kali naik mobil." Kata Alana berusaha tersenyum pada putranya.
"Ya,, Apakah Ayah juga merasakan hal yang sama?" Agung bertanya pada Hendrik sembari melihat pria yang tampak keringat dingin mengendarai mobil.
"Ya,, Ini pertama kalinya Ayah mengendarai di tempat ini, jadi ayah sedikit gugup." Jawab Hendrik meski Sebenarnya dia lebih khawatir dengan apa yang terjadi di villa.
Jika dia tidak salah prediksi maka seharusnya Villa mereka sudah dikuasai oleh orang-orang yang menyerang mereka.
Tetapi jika orang-orang itu menemukan pagar penghubung antara vilanya dengan Villa milik Romi maka bisa Jadi mereka juga akan memeriksa Villa milik Romi.
Saat itu, dia tidak tahu apakah Romi berada di villanya atau tidak.
__ADS_1
"Seandainya Kakek ada di sini, dia pasti akan sangat," tiba-tiba ucapan Agung membuat Alana teringat akan ayahnya.
Perempuan itu langsung menoleh pada Hendrik, "Apakah Ayahku akan baik-baik saja?" Tanyanya cemas.
"Ya,, Dia mungkin berada di kantor." Jawab Hendrik meski dia juga tidak yakin karena beberapa hari terakhir Romi mengatakan bahwa dia akan bekerja dari rumah.
"Syukurlah,, pokoknya nanti kau harus menjelaskan semua ini padaku." Kata Alana dijawab anggukan Hendrik.
Akhirnya setelah 20 menit berkendara mereka keluar dari terowongan, pemandangan hutan yang rimbun langsung menyambut mereka.
"Wahh!!! Ada tempat seperti ini,, sangat indah!!!" Agung berseru kegirangan melupakan gejolak pada perutnya yang sedari tadi membuatnya tidak nyaman.
Sementara Hendrik, pria itu mengeluarkan ponselnya lalu menghubungi Romi.
"Halo," jawab seseorang dari seberang telepon.
"Anda dimana?" Tanya Handrik.
__ADS_1
"Di kantor, apa ada sesuatu?" Tanya Romi yang belum mengetahui apapun.
"Villaku diserang oleh seseorang, saat ini aku membawa Alana dan Agung keluar." Jawab Hendrik mengagetkan Romi.
"Apa?!! Sial!!! Siap yang melakukan nya?!!" Tanya Romi dengan kaget.
"Sepertinya orang-orang suruhan Hans." Ucap Hendrik sembari menoleh pada Alana yang terus melihat kearahnya mendengarkan pembicaraannya dengan Romi.
"Ayah harus hati-hati!!" Kata Alana pada Romi.
"Baiklah,, ayah akan menanganinya, kalian hubungi aku ketika kalian berada di tempat yang aman. Aku akan mengirim seseorang untuk menjemput kalian." Ucap Romi dari seberang telepon lalu panggilan itu diakhiri.
Setelah berkendara melewati hutan yang rimbun mereka keluar di sebuah area pantai yang membuat Agung langsung terpaku di tempatnya.
Dia adalah anak kecil yang baru pertama keluar dari villa, jadi melihat pemandangan seperti itu pria kecil itu begitu tersihir dan tak bisa berkedip melihat keindahan di depannya.
"Apakah di sini aman?" Alana bertanya dengan cemas, meski dia juga merasa senang melihat pemandangan indah itu, tetapi dia lebih cemas lagi setelah mengetahui fakta bahwa mereka sedang diincar oleh para pembunuh.
__ADS_1
"Tenanglah, Aku tidak akan membiarkan orang-orang itu menyentuh kalian." Ucap Hendrik terus menyetir mobilnya menyusuri tepi pantai.