Pewaris Yang Kabur

Pewaris Yang Kabur
⁵⁷. Kepulangan Hendrik


__ADS_3

Bandar udara Internasional ibukota.


Sebuah pesawat baru saja lepas landas, seorang pria yang menggunakan jas hitam dengan kacamata hitamnya turun dari pesawat diikuti beberapa pengawal pribadinya.


Setiap kali pria itu melangkahkan kakinya orang-orang akan menatap ke arahnya dengan penasaran tentang Siapa orang besar yang terlihat disegani itu.


Pria itu berwibawa layaknya seorang pemimpin besar yang ditakuti dan pesona ketampanan dari tubuh yang luar biasa selalu menarik perhatian ke mana pun pria itu pergi.


Namun begitu, pria itu adalah pria yang dingin dia tidak suka disentuh dan tidak suka berbicara lama-lama dengan seseorang.


"Tuan,, Tuan Hendrik.."


"Tolong beri kesempatan wawancara sebentar..."


"5 menit saja,, tolong..."


Para wartawan yang sudah mendengar desas-desus kepulangan salah satu pewaris terbesar di ibukota sudah memenuhi bandara sejak pagi hari.


Ketika melihat pria itu keluar, mereka mengerumuni Hendrik untuk mencari informasi dari pria itu tetapi sayangnya para pengawal dengan sigap menghalau mereka dan Hendrik berjalan dengan santai ke arah mobilnya.


Duduk di dalam mobil mewah miliknya, Hendrik melepaskan kacamata hitamnya dan menatap lurus ke depan melihat jalanan yang dilalui oleh mobilnya.

__ADS_1


"Apa jadwal pertama?" Tanya Hendrik pada asistennya yang bernama Raffi.


Raffi dengan sigap membuka buku agenda nya lalu berkata "Hari ini tidak ada jadwal, hanya ada pertemuan dengan tuan besar pada pukul 7 malam nanti."


"Pukul 7 malam? Pertemuan Apa itu?" Hendrik balik bertanya.


"Itu Tuan,," Raffi tidak bisa mengatakannya sebab pertemuan itu adalah pertemuan Hendrik dengan seornag perempuan yang telah di atur Hans untuk perjodohan mereka.


Kalau dia mengatakannya dan rencana itu sampai gagal maka dia akan terkena amukan dari Hans, sementara kalau dia tidak mengatakannya, maka dia akan terkena amukan dari Hendrik!


"Saya juga belum mendapat kabar yang pasti, ini hanya pengaturan dari Tuan Dani." Jawab Raffi berbohong.


"Batalkan itu, aku tidak akan memiliki jadwal sampai besok pagi." Kata Hendrik lalu pria itu memejamkan matanya.


Raffi yang mendengar ucapan Hendrik tak bisa berkata apapun, pria itu memijat keningnya sebelum mengambil ponselnya dan mengirim pesan singkat pada Dani.


"Tuan Hendrik tidak mau bertemu dengan Tuan Hans, undur pertemuannya Di keesokan paginya."


"Aku mengerti." Pesan dari seberang telepon akhirnya bisa membuat Raffi bisa bernafas dengan lega.


Mobil yang ditumpangi Hendrik dan beberapa pengawalnya akhirnya tiba di sebuah Villa mewah yang sudah diatur oleh Hendrik sejak beberapa tahun yang lalu untuk ia tinggali ketika kembali ke ibukota.

__ADS_1


Dia tidak mau tinggal bersama ayahnya jadi pria itu memilih memiliki sebuah rumah untuk dirinya sendiri.


Begitu turun dari mobil, berjalan ke dalam villa miliknya dan ponsel miliknya yang dipegang oleh Raffi tiba-tiba berdering.


"Halo Tuan," Raffi langsung mengangkat ponsel itu.


"Berikan ponselnya pada Hendrik." Perintahan dari seberang telepon langsung membuat Raffi mendekati Hendrik.


"Telepon dari tuan besar," katanya.


Hendrik terdiam sesaat sebelum mengulurkan tangannya dan memindahkan benda pipih itu ke dekat telinganya "Ada apa?!"


"Ha ha ha... Putraku,,, akhirnya kau kembali ke ibu kota. Jam 7 malam nanti kita akan makan malam bersama, datanglah ke restoran--"


"Aku lelah." Hendrik menyala ucapan ayahnya lalu mengembalikan ponsel itu pada Raffi.


Dengan tangan gemetar nya Raffi mengambil ponsel itu dan mendekatkan ke telinganya "Maafkan saya Tuan," katanya.


"Tidak masalah,, pastikan besok pagi dia mau bertemu perempuan itu!" Perintah Hans dari seberang telepon.


"Baik Tuan." Jawab Raffi.

__ADS_1



__ADS_2