
Hendrik sampai lupa berapa kalia dia harus melakukannya sampai pengaruh obat di tubuh Alana menghilang.
Tapi setelah selesai, ia memakaikan baju pada perempuan itu dan membaringkan Alana di tempat tidurnya.
Cup!
Sebuah ciuman mendarat di bibir Alana. Hendrik menatap perempuan itu dengan perasaan bergejolak.
'Aku berjanji, aku akan melindungimu.' ucap Hendrik dalam hati.
Tok tok tok...
Tiba-tiba suara pintu kamarnya di ketuk.
Hendrik segera membuka pintu kamarnya dan pria itu berdiri gemetaran saat melihat Hans berdiri di depannya.
Brak!!
Hendrik menutup pintu dengan keras lalu menguncinya. Dia muak pada ayahnya!!
Dia benci melihat pria jahanam itu!
"Ayah ingin membicarakan sesuatu yang penting denganmu. Kalau kau tidak menemui ayah kau mungkin akan menyesal seumur hidupmu. Perempuan itu mungkin akan bunuh diri!!" Ucap Hans dari balik pintu membuat Hendrik berdiri gemetar sembari menggertakkan giginya.
Beraninya pria tua itu mengancamnya!!!
Akhirnya Hendrik tidak punya pilihan lain, dia kembali membuka pintu dan melihat Hans senyum ke arahnya lalu pria itu berjalan ke ruang kerjanya.
__ADS_1
Hendrik melirik kearah Alana yang sedang terbaring di tempat tidur lalu pria itu menutup dan mengunci pintu kamarnya lalu mengikuti Hans.
Ketika berjalan ke ruang kerja ayahnya mereka bertemu dengan Lina jadi Hendrik menghentikan langkahnya.
"Tolong jangan biarkan siapapun masuk ke dalam kamar saya." Ucap Hendrik di angguki Lina dan terdengar oleh Hans.
Hans hanya tersenyum menyerigai 'Aku bisa memnafaatkan perempuan itu untuk mengendalikannya. Beraninya dia membuka mulut pada orang lain sementara padaku dia tidak pernah mau berbicara!'
Akhirnya ayah dan anak itu sudah duduk berhadapan dengan Hans yang memegang sebuah kota kecil di tangannya.
Setelah beberapa detik Hans melempar kotak kecil itu ke hadapan Hendrik dengan tatapan datar penuh kemenangan.
"Itu hadiah untukmu karena sudah berani memukul ayah!" Ucap Hans.
Hendrik tidak mengatakan apapun pria itu hanya menatap ayahnya beberapa detik lalu mengalihkan perhatiannya pada kotak kecil yang di ada di atas meja lalu meraih dan membukanya.
Kuncinya adalah Alana!
Dia bisa mengendalikan putranya dengan memanfaatkan Alana!
Kotak kecil di tangan Hendrik sudah terbuka, dan pria itu langsung terdiam memegang kotaknya saat melihat isi kotaknya.
Foto-foto Alana tanpa busana!!
"Sialan..!!" Hendrik berteriak marah membanting kotak itu dan dan melompat ke arah Hans lalu memberi pukulan di wajah pria itu.
"Beraninya kau..!!" Hans tidak pernah menduga bahwa pria itu akan kembali memukulnya, tetapi karena Hendrik sangat marah maka dia hanya bisa berusaha melindungi diri dari pukulan putranya.
__ADS_1
Memang soal kekuatan Sebenarnya dia lebih kuat tetapi ia ingin melihat sampai sejauh mana pria itu berani memukulnya.
Setelah beberapa menit ia mulai kewalahan menghadapi Hendrik jadi dia langsung berkata "Sekali lagi kau memukulku foto-foto itu akan segera tersebar!" Ancamnya.
Dengan segera tangan Hendrik yang masih diayunkan kini menggantung di udara dan pria itu menggertakkan giginya dengan tubuh gemetar.
"Keparat!! Apa yang kau inginkan?!" Teriak Hendrik sangat marah.
"Ha ha ha... Aku suka kau menjadi marah." Ucap Hans merasa snagat senang.
Seharusnya dari dulu Hendrik bersikap seperti ini!
Sayang sekali, sudah banyak hal terjadi yang mempermalukannya barulah putranya berubah, tetapi tidak masalah yang penting sekarang dia sudah bisa bernafas dengan tenang.
"Kita bicara nanti, kau urus dulu perempuan yang kau cintai itu!" Ucap Hans kini bangkit dan menyeka darah yang memenuhi sudut bibirnya.
Hendrik menggertakkan giginya dan amarah menyelimuti hatinya, tetapi ketika dia melihat ke lantai di mana foto-foto Alana yang bertebaran, pria itu berusaha menahan diri dan memungut foto-foto itu satu persatu.
Setelah mengembalikannya ke dalam kotaknya ia menutupnya dan meninggalkan ruangan ayahnya.
Ia benar-benar ingin membunuh pria itu!
Tapi kalau dia membunuhnya sekarang, maka seluruh anak buah ayahnya akan menyebarkan foto itu, lalu bagaimana dengan Alana?
Alana....
__ADS_1