Pewaris Yang Kabur

Pewaris Yang Kabur
⁷⁸. Bagaimana kau akan memperbaikinya?


__ADS_3

Hendrik melihat pintu yang sudah ditutup oleh Agung lalu pria itu kembali fokus pada Alana yang sedang tertidur.


Hendrik mengulurkan tangannya yang gemetaran dan menyentuh rambut panjang Alana.


"Alana," ucapnya menatap wajah Alana yang terlihat pucat karena tidak pernah terkena sinar matahari.


"Hendrik," tiba-tiba suara Alana mengejutkan Hendrik.


"Kau mendengarku?" Tanya Hendrik mengamati wajah Alana, tapi Alana tidak merespon apa pun.


Hendrik menghela nafas lalu mendaratkan sebuah ciuman di kening Alana.


Ciuman itu tidak singkat, Hendrik memejamkan matanya dan berusaha menikmati sentuhan pertamanya dengan Alana setelah 5 tahun berpisah.


'Aku sudah di sini, aku sudah menemukanmu,,' gumam Hendrik dengan perasaan berdebar-debar yang berkecamuk.


Pria itu masih terus menikmati momen kebersamaan nya dengan Alana ketika pintu kamar yang sedari tadi tertutup tiba-tiba terbuka.


"Kau harus pergi sekarang! Sebentar lagi ibuku akan bangun!" Ucap Agung.


Hendrik menatap putranya, "Lalu kenapa?" Tanyanya.


"Ibuku jatuh pingsan setelah melihat fotomu jadi dia mungkin akan kembali pingsan kalau dia melihatmu secara langsung!!" Ucap Agung dengan wajah cemasnya menatap ke arah Alana.

__ADS_1


"Benarkah?" Hendrik bertanya dengan raut wajah tak percaya sebab baru saja dia mendengar Alana menyebut namaNya dalam mimpi.


Itu artinya Alana mungkin sedang merindukan nya jadi kenapa dia harus bersembunyi?


"Kau harus percaya padaku! Ibuku sedang sakit!" Ucap Agung dengan wajah yang tampak seperti orang dewasa yang tak bisa dibantah.


Hendrik melihat pria kecil di depannya, jika putranya itu memang menginginkannya untuk tidak berdekatan dengan Alana maka tidak mungkin pria kecil itu mengijinkannya berduaan di dalam kamar bersama Alana.


Jadi dia memercayai ucapan Agung.


"Baiklah, aku akan pergi." Ucap Hendrik kembali melirik Alana lalu mendekati perempuan itu dan mendaratkan ciuman hangat di kening Alana.


"Aku akan kembali lagi menemuimu," ucapnya lalu sebuah ciuman tambahan di bibir ala mendarat dengan sempurna.


"Lepaskan aku!!" Agung merontah dalam pelukan Hendrik, dia tidak mau pergi bersama pria itu, dia hanya ingin tinggal bersama ibunya.


Hendrik tidak memperdulikan rontahan Agung, kalau pria itu tidak memberinya waktu lebih lama bersama Alana, maka dia akan menculik Agung.


Segera Hendrik menggendong Agung ke meninggalkan kamar Alana lalu pria itu membawa Agung ke kediamannya.


"Lepas!!!" Teriak Agung saat mereka melewati pagar yang tadi dibongkar oleh orang-orang Hendrik.


"Tuan,," Dirga berkata penuh kecemasan saat melihat tuannya menculik seorang pria kecil!

__ADS_1


"Perbaiki pagar itu dan buat pagarnya bisa dibuka dengan mudah." Perintah Hendrik pada Dirga.


"Ba,, baik,," jawab Dirga sembari memperhatikan pria kecil di gedongan hendrik.


'Mengapa anak kecil ini terlihat seperti Tuan?' pikirnya yang merasa sedang melihat Hendrik kecil yang sedang marah.


Setelah berbicara dengan Dirga, Hendrik melanjutkan langkah kakinya membuat Agung kembali meronta-rontah.


"Lepas! Aku ingin pergi dengan ibu!" Ucapnya.


"Kau sudah lama bersama ibu tapi kau belum bersamaku, jadi hari ini kau tinggal bersamaku." Ucap Hendrik dengan wajah acuh tak acuh melangkahkan kakinya memasuki Villa miliknya.


Agung berdecak kesal "Huh! Memangnya salah siapa sehingga selama 4 tahun kau tidak pernah bertemu denganku dan ibu?" Gerutu Agung menghentikan langkah kaki Hendrik.


Benar,, salah siapa??


"Maafkan ayah, semuanya terjadi di luar kehendak ayah. Tapi mulai sekarang, ayah akan memperbaiki semuanya." Ucap Hendrik.


"Huh! Kau pikir semudah itu memperbaikinya? Kakek bilang Ibu sakit seperti itu karena ditinggalkan olehmu! Ibu bahkan tidak mengakuiku sebagai anaknya karena penyakitnya yang semakin parah dari hari ke hari! Bagaimana kau akan menebus kesalahan itu?!" Tanya Agung pada Hendrik sembari memperlihatkan wajah menentangnya.


Meski dia ingin menerima Hendrik sebagai ayahnya, tetapi dia tidak mau memaafkan Hendrik dengan mudah.


Sebab jika dia dengan mudah memaafkan Hendrik maka di lain hari Hendrik bisa melakukan kesalahan karena ia mudah memafkannya.

__ADS_1


"Kita liat nanti." Kata Hendrik kembali melangkahkan kakinya sembari merenungkan ucapan putranya.


__ADS_2