
Setelah makan malam, Hendrik Alana dan Agung langsung duduk di depan TV untuk menonton.
Tetapi beberapa saat duduk, Hendrik berdiri menarik Alana ke lantai dua.
Agung duduk memperhatikan dua orang itu, tentu saja dia ingin mengikuti Ayah dan Ibunya, tetapi melihat Hendrik mengedipkan mata padanya, Agung langsung mengangguk-angguk lalu pria kecil itu dengan sadar diri tidak mengganggu urusan orang dewasa.
"Ada apa?" Alana bertanya sembari melirik ke arah Agung, di mana pria kecil itu sedang terfokus ke layar TV.
"Aku ingin memberimu sesuatu." Ucap Hendrik menarik Alana ke dalam kamar lalu mendudukkan perempuan itu di meja rias.
Alana memandangi bayangan Hendrik di kaca rias miliknya lalu melihat pria itu mengulurkan tangannya mengambil paper bag yang entah dari mana bisa berada di atas meja riasnya.
"Apa itu?" Tanya Alana sembari terus melihat Hendrik dari pantulan kaca meja riasnya.
Hendrik tidak langsung menjawab pertanyaan Alana, pria itu hanya menarik kotak dari dalam paper bag itu lalu kembali meletakkan paper bag nya di meja rias.
Alana begitu penasaran dengan kotak di tangan Hendrik, jadi perempuan itu tak pernah melepaskan tatapannya dari kotak itu, apalagi saat Hendrik meletakkannya di depan Alana.
"Aku keluar mencari barang ini untuk istriku," ucap Hendrik membuka kotaknya.
Alana menutup mulutnya dengan kedua tangannya saat melihat sebuah kalung yang indah dengan berlian berwarna pink yang tampak sangat memikat hatinya.
"Dari mana kau mendapatkan berlian seindah ini?" Tanya Alana mengulurkan tangannya menyentuh berlian yang menjadi liontin pada kalung di kotak itu.
"Hm,, tentu saja aku membelinya di toko perhiasan." Kata Hendrik kemudian mengambil kalung dari dalam kotaknya lalu pria itu memakaikannya pada Alana.
__ADS_1
Alana tak henti-hentinya tersenyum melihat kalung yang begitu indah hampir melingkar di lehernya.
"Kau menghabiskan banyak uang untuk membeli benda ini bukan?" Tanya Alana sembari menatap sinis pada Hendrik.
Alana sangat tahu bahwa pria itu baru saja mengakuisisi sebuah perusahaan, jadi tentunya Hendrik mengeluarkan banyak uang untuk hal tersebut.
Lagi pula, pria itu masih harus mengeluarkan banyak modal agar perusahaannya terus berkembang, jadi dia akan merasa sayang jika pria itu memberikannya sebuah barang yang memiliki nilai terlalu tinggi.
"Jangan berpikir banyak, aku hanya membelinya dengan harga satu juta rupiah." Kata Hendrik berbohong.
Pastilah Alana tidak akan mengetahui dan tidak akan bisa memperkirakan berlian kecil yang ada di kalungnya merupakan sebuah berlian yang memiliki nilai fantastis.
"Begitu ya... Tapi kau sangat pandai membelinya, berlian ini terlihat sangat indah." Ucap Alana menyentuh berlian di lehernya sembari memandanginya lewat pantulan kaca.
Pria itu langsung memeluk Alana dari belakang dan memberi sebuah ciuman di pipi Alana.
"Ke depannya, aku akan membelikan mu kalung yang jauh lebih baik daripada ini." Ucap Hendrik yang merasa bahwa kalung senilai 1 miliar lebih itu masih belum cocok disandingkan dengan penampilan Alana yang terlalu sempurna.
"Kau tidak perlu memberikanku perhiasan yang mahal, asalkan itu dari mu, aku sudah sangat senang." Ucap Alana tersenyum melihat Hendrik.
"Tidak,, aku tidak bisa memberimu sesuatu yang biasa-biasa saja, karena itu tidak sesuai dengan dirimu yang sangat luar biasa." Kata Hendrik langsung membuat Alana tertawa.
Bagaimana mungkin dia bisa dikatakan sebagai perempuan yang luar biasa?
Memasak saja tidak bisa, mencari uang pun tidak bisa, jadi dari sisi mana pria itu melihatnya sebagai perempuan yang sangat luar biasa?
__ADS_1
"Kenapa kau tertawa?" Hendrik langsung bertanya sembari mengerutkan keningnya saat melihat perempuan itu malah menertawakannya.
Padahal dia sedang berbicara dengan serius!!!
"Tidak,, aku hanya merasa beruntung bahwa aku memiliki seorang yang pria yang luar biasa bersamaku. Lagi, pria itu bukan hanya satu, tetapi ada tiga!! Ayahku, suamiku, dan seorang Putra yang menggemaskan." Ucap Alana.
"Hm,, ke depannya kau akan memiliki tambahan orang luar biasa di sisimu. Bagaimana kalau kita memberi Agung beberapa adik?!" Ucap Hendrik langsung membuat Alana berdecak kesal.
"Tidak!! Jangan bicarakan masalah ini ketika kita hanya berdua saja. Lagipula, kita belum menikah jadi--"
"Apakah pernikahan adalah sebuah syarat untuk memiliki seorang anak?" Tanya Hendrik langsung membungkam Alana.
Jika dia menjawab iya maka itu akan menyalahi kenyataan yang sudah mereka alami.
Mereka belum menikah tetapi sudah memiliki seorang Putra yang sangat menggemaskan, dan terlebih Putra itu sangat pintar seperti Hendrik.
Namun, jika dia menjawab tidak maka pria itu akan memanfaatkan kesempatan!!
"Kita bicarakan nanti!!!" Ucap Alana segera melepaskan pelukan Hendrik padanya lalu perempuan itu berdiri.
"Aku akan ke lantai bawah untuk menemani Agung menonton TV." Ucap Alana segera berlari dari kamar agar Hendrik tidak memiliki kesempatan untuk menahannya.
Hendrik memandang perempuan yang terburu-buru meninggalkan kamar, lalu pria itu tertawa kecil sembari berjalan ke kamar mandi.
"Sangat menggemaskan." Katanya
__ADS_1