Pewaris Yang Kabur

Pewaris Yang Kabur
196. Imbalan ciuman


__ADS_3

Setelah Hendrik terbangun, pria itu membawa Alana dan Agung ke kamarnya dan tak lupa mengambil kamera dari sang pengawal.


Karena mereka juga sudah makan malam maka Hendrik tidak melakukan apapun selain naik ke tempat tidur memeluk Alana lalu terlelap bersama dua orang yang sangat berarti dalam hidupnya.


Mungkin karena dia sudah menyatakan dirinya sebagai pengangguran maka pada pagi hari Hendrik sangat lambat terbangun.


Bahkan dia tidak menyadari ketika Alana dan Agung sedang duduk di sampingnya sembari melihat lihat foto mereka.


"Ibu,, ini terlihat keren, aku terlihat seperti sedang terbang!!" Ucap Agung mengomentari fotonya yang sedang diangkat oleh Hendrik.


"Ya,, kau terlihat sangat keren di sini, ibu akan mencetak semua foto yang bagus di sini lalu kita akan mengaturnya di dinding kamar kita." Kata Alana sembari tersenyum menggeser hasil foto mereka.


"Bagus!! Aku tidak sabar untuk melihatnya!!" Agung berseru begitu senang.


"Tapi sepertinya foto ini terlalu banyak kalau hanya dipajang di dinding kamar kita. Kita juga harus membeli beberapa album untuk menyimpannya, nanti di saat luang kita bisa melihatnya bersama-sama." Ucap Alana sambil tersenyum.


"Iya!! Pokoknya aku akan membantu ibu menyusun foto-fotonya." Seru Agung bersemangat


Keduanya terus mengomentari foto-foto mereka sambil di tatap oleh Hendrik yang sedari tadi telah mendengarkan percakapan mereka.


Hendrik baru bangun ketika ponselnya yang diletakkan di nafas tiba-tiba berdering.

__ADS_1


"Selamat pagi Ayah!!" Sapa Agung pada ayahnya saat melihat bahwa ayahnya ternyata telah bangun.


"Selamat pagi sayang," ucap Hendrik mencium kening Agung lalu mencium bibir Alana dan mengulurkan tangannya mengambil ponselnya.


Terlihat panggilan dari Dirga, jadi pria itu langsung menekan tombol terima.


"Ada apa?" Tanya Hendrik pada orang di seberang telepon.


"Tuan Juan mengajukan kerjasama dengan perusahaan kita. Haruskah saya--"


"Bodoh! Jangan meladeni mereka dan jangan pernah memberitahukan pada siapapun mengenai identitasku sebagai pemilik perusahaan itu!" Perintah Hendrik pada Dirga selalu menutup panggilan itu.


Dia tahu bagaimana sikap Juan yang gila harta.


Siapa yang mau menikah dengan perempuan manja dan memiliki menantu yang bermata duitan?


Lagipula, dia sudah memiliki Alana dan Agung di sampingnya, jadi dia tidak butuh perempuan manapun lagi meskipun perempuan itu adalah malaikat yang menjelma menjadi manusia.


'Sepertinya aku masih harus membereskan tuan-tuan ini, atau suatu kelak dia mungkin akan merusak hubunganku dengan Alana.' pikir Hendrik yang merasa sangat cemas.


"Ada apa?" Alana bertanya pada Hendrik saat melihat pria itu sudah lama sekali memandangi layar ponsel yang telah menggelap.

__ADS_1


"Ah,," Hendrik menaruh kembali ponselnya ke nafas lalu melihat Alana, "Bukan apa-apa, ini hanya telepon dari Dirga yang membicarakan masalah perusahaan." Jawab Hendrik.


Alana hanya mengangguk saja karena dia benar-benar tidak tertarik untuk mengurusi masalah perusahaan, perempuan itu lalu turun dari tempat tidur dan menarik Hendrik, "Ayo ajari aku memasak." Katanya pada Hendrik.


"Oh, Ok!" Ucap Hendrik sembari melihat ke arah Agung yang sedang sibuk dengan kamera jadi pria itu tidak mengganggu putranya lagi dan hanya pergi bersama Alana ke dapur.


"Apa imbalan untukku jika aku mengajarimu memasak?" Tanya Hendrik sembari membuka kulkas untuk mengambil bahan-bahan makanan.


Sementara Alana yang mendengar ucapan Hendrik, perempuan itu memicingkan matanya lalu dengan kesal memukul bahu Hendrik.


"Beraninya kau meminta imbalan untuk sesuatu yang kau lakukan pada istrimu sendiri?!!" Kesalnya pada Hendrik sembari menyertakan giginya.


"Ah,,, itu sakit. Tapi di dunia ini bahkan antara ayah dan anak saja tidak gratis, apalagi antara Aku dan kau yang belum menikah???" Ucap Hendrik sembari meletakkan bahan-bahan di atas meja.


"Apa katamu?!! Kau mau di pukul?!!" Kesal Alana mendekati Hendrik untuk memukul pria itu.


Tetapi, karena tangan Hendrik sudah bebas maka dia langsung menahan Alana dan mengulurkan tangannya menarik Alana ke atas meja.


"Imbalan yang kuminta hanya sederhana, sebuah ciuman cinta dari perempuan pemarah ini!!" Kata Hendrik langsung mencium bibir Alana dengan lembut.


Sembari dicium, Alana tersenyum lalu perempuan itu mengulurkan tangan dan kakinya untuk memeluk Hendrik.

__ADS_1


Hanya sebuah ciuman, dia bisa melakukannya sebanyak ribuan kali jika pria itu memintanya.


Atau bahkan jika tidak diminta, dia akan tetap mencium pria itu jika dia mau.


__ADS_2