Pewaris Yang Kabur

Pewaris Yang Kabur
¹¹⁶. Pesan dari Agung


__ADS_3

Di dalam mobil yang sedang berjalan di jalanan ibukota, Hendrik duduk memikirkan ketakutannya akan foto-foto Alana yang tersebar Jika dia menghancurkan perusahaan milik Hans.


'Apa yang harus kulakukan dengan masalah ini?' pikirnya menghela nafas lalu menoleh pada Dani yang duduk di kursi penumpang depan.


"Apa kau sudah menyelidiki semua tentang Dani? Pria itu benar-benar tidak memiliki foto Alana?" Tanya Hendrik.


"Saya sudah menyelidikinya, semua properti atas namanya sudah saya geledah, tapi tidak ada satu pun yang menunjukkan bahwa pria itu memiliki foto-foto milik Nona Alana. Tapi saya akan menyuruh beberapa orang untuk melakukan pengecekan ulang," jawab Dirga.


"Hah,, pria tua itu benar-benar sulit dihadapi," ucap Hendrik menghela nafas.


"Mengapa kita tidak menggunakan serangan cyber untuk menyerang dua perusahaan sekaligus? Kalau perusahaan dalam negeri dan luar negeri hancur maka hanya yang tersisa adalah Black, Tuan bisa pelan-pelan mengendalikan orang-orang yang ada di black." Usul Dirga.


"Kau benar, tapi Black adalah kelompok mafia yang sulit ditangani, sampai sejauh ini saja kita baru bisa menguasai 30% dari Black. Itu pun, mereka bukanlah orang-orang yang memiliki posisi tinggi di Black." Ucap Hendrik.


Awalnya dia berpikir Hans juga akan menyerahkan kekuasaan Black padanya, tetapi ternyata pria itu hanya menyerahkan satu perusahaan. Jadi,, rencananya gagal se gagal gagalnya!


"Lalu apa yang akan Tuan lakukan?" Tanya Dirga.

__ADS_1


"Kuncinya adalah foto Alana, bagaimanapun, cari tahu semuanya Itu. Periksa juga seluruh barang dan safe deposito box di negara ini, mungkin saja mereka menaruhnya di sana." Ucap Hendrik.


"Benar, saya belum memeriksanya, tapi akan sulit untuk memeriksanya karena mereka memiliki privasi yang sangat tinggi. Seandainya kita mengenal seseorang yang dekat dengan--" Ucap Dirga.


"Patra, perempuan itu akan membantuku. Atur pertemuan dengannya tetapi pastikan Juan dan Stella tidak mengetahui apapun tentang pertemuan ini." Ucap Hendrik.


Keluarga Wijaya memiliki koneksi yang baik dengan pemerintah, sala satu petinggi perbankan juga merupakan anggota keluarga Wijaya.


"Baik, akan saya lakukan," jawab Dirga.


Pria itu baru menyalakan ponselnya ketika dia melihat ada 10 panggilan tak terjawab dari kontak yang bernama Putraku.


Hendrik tersenyum lalu melihat kotak pesan yang belum terbaca begitu banyak, semuanya berasal dari nomor yang sama yaitu nomor ponsel yang ia berikan pada Agung.


*Kau dimana?!!!*


*Ibuku jatuh sakit lagi karenamu!! Kau harus bertanggung jawab! Cepat datang!!!*

__ADS_1


*Kau punya waktu 10 menit, kalau tidak ada di sini, kau akan ku pecat jadi kenalanku!!!*


*Sudah sembilan menit 30 detik, waktumu hampir habis!!!*


*Kau benar-benar tidak datang?!!!*


*Baiklah!! Jangan pernah datang lagi!!!!*


Membaca pesan itu, Hendrik tersenyum dengan tingkah putranya yang begitu menggemaskan menurutnya.


"Kembali ke Villa," perintah Hendrik pada sang supir membuat Dirga terkejut lalu pria itu menoleh pada Hendrik.


"Tuan, pekerjaan di kantor--"


"Bawa ke Villa ku," ucap Hendrik sembari menatap layar ponselnya dengan senyum yang tak pernah putus dari wajahnya.


'Hah,, Sepertinya dia mendapat kabar dari orang yang menghuni Villa sebelah.' pikir Dirga.

__ADS_1


__ADS_2