Pewaris Yang Kabur

Pewaris Yang Kabur
⁸². Tidak tega memisahkan ayah dan anak


__ADS_3

Gagal membujuk putrinya untuk merubah sikapnya pada cucunya, Romi kemudian menghela nafas, percuma membujuk Alana sebab Alana tidak pernah tahu bahwa Agung adalah putranya.


"Ya sudah... Bagaimana kalau kita makan malam dulu? Lanjutkan nontonnya nanti saja." Ucap Romi pada Alana.


"Iya,, aku juga sudah lapar." Kata Alana mematikan TV lalu kedua orang itu bergegas meninggalkan ruang keluarga menuju ruang makan.


Begitu tiba di ruang makan, dilihatnya Agung sudah duduk di kursinya sembari menatap kearah mereka dengan senyum mengembang.


"Ayo makan,," kata Romi berusaha mencairkan suasana yang tidak terkendali antara putrinya dan cucunya.


"Iya! Ayo makan!!" Seru Agung dengan penuh semangat sembari memegang sendok dan garpu nya menunggu Romi dan Alana selesai mengambil makanan.


"Apakah ini masakan para pelayan?" Tiba-tiba tanya Alana saat ia hendak mengambil tumis terong yang diletakkan di atas meja.


"Ya,, harusnya begitu! Pelayan kita sangat rajin mempersiapkan seluruh makanan,, iya 'kan Kakek?!" Tanya Agung pada Romi.


"Iya, makanlah," kata Romi mengambil sesendok nasi dan meletakkannya di piring Agung.


"Terima kasih Kakek!" Ucap Agung tersenyum senang saat kakeknya kembali menambah beberapa sayuran dan daging ke piringnya.


"Lalu dimana makanan yang kau bawa tadi? Mengapa kau tidak memakannya dan malah memakan masakan para pelayan?" Tanya Alana yang masih curiga pada pria kecil di hadapannya.


Dia tahu kalau pria kecil di hadapannya itu sangat pintar hanya saja dia selalu kesal melihat wajah Agung yang terus memanggilnya Ibu!


"Ahh itu,, tadi aku melihat makanannya dan makanannya tidak terlihat enak. Jadi aku membuangnya sesuai perintah ibu," jawab Agung tanpa rasa bersalah.


"Benarkah?" Alana masih tetap curiga.

__ADS_1


"Ya,, kalau tidak percaya, cek saja di tempat sampah!" Ucap Agung sembari memasukkan sepotong daging ke dalam mulutnya.


Baru saja pria kecil itu mengunyah dan merasakan masakan ayahnya saat ia menghentikan kunyahannya dan mengerjapkan matanya.


"Ada apa?!" Romi bertanya dengan panik, mungkinkah makannaya tidak enak?


"Hmmm, Kakek, Ayo cepat coba, masakan para pelayan hari ini sangat enak!!" Ucap Romi sembari menikmati rasa masakan yang menurutnya sangat sempurna di lidahnya.


"Benarkah?" Romi kemudian mencoba sepotong terong tumis.


Pria itu menikmatinya beberapa detik lalu menganggukkan kepalanya "Sepertinya pelayan hari ini akan menjadi koki tetap kita." Komentar Romi.


'Ya!! Tentu saja, ini kan masakan ayahku!!' pikir Agung merasa sangat senang.


"Ibu cobalah!!" Agung kini menatap ibunya.


Ia mengunyah beberapa kali sebelum menghentikan kunyahannya dan mengambil beberapa potong lagi.


"Enak bukan?!! Apa ibu menyukainya?" Tanya Agung.


"Ya, lumayan." Jawab Alana.


"Bagus!!" Agung bersorak dengan sangat senang, ternyata ayahnya bisa juga diandalkan!


Romi memperhatikan cucunya yang terlalu antusias, pria itu bisa menebak bahwa Agung telah mengganti semua makanan diatas meja dan dia juga cukup terkejut kalau makanan itu memang sangat cocok di lidah mereka.


Akhirnya makan malam itu berlangsung dengan harmonis meski Alana jarang berbicara dan hanya fokus pada makanannya.

__ADS_1


"Aku sudah selesai." Kata Alana setelah dia merasa kenyang lalu perempuan itu bergegas meninggalkan meja makan.


Setelah putrinya pergi, Romi langsung melihat ke cucunya "Makanan ini, siapa yang membuatnya?" Tanya Romi.


"Pria itu yang membuatnya!" Jawab Agung sembari memasukkan sepotong terong ke dalam mulutnya.


Romi bisa melihat bahwa cucunya sangat senang akan Hendrik, tapi yang membuatnya bingung adalah cucunya tidak menyebut Hendrik sebagai ayahnya.


"Apa yang kau lakukan di rumah pria itu?" Kemudian tanya Romi untuk mencari informasi dari cucunya sendiri.


"Tidak ada, aku hanya pergi ke sana dan tidur di kamarnya. Begitu bangun dia sudah selesai memasak lalu dia mengantarku kembali ke sini." Jawab Agung.


"Lalu, Apakah pria itu menemui Ibu mu?" Tanya Romi membuat Agung menghentikan kunyahan nya lalu pria kecil itu menatap kakeknya.


"Apakah kakek marah kalau pria itu menemui ibu?" Tanya Agung.


Romi langsung diam, jelas saja dia marah sebab pria itu adalah sumber masalah yang menghampiri keluarganya.


Tapi ketika dia melihat bagaimana Agung, cucu kandung nya sangat menyayangi Hendrik maka dilema dalam hatinya semakin membesar.


Mana mungkin dia tega misahkan seorang ayah dan anak, terutama bila anak itu sangat menyayangi ayahnya?


"Kakek tidak marah, tapi Ibumu--"


"Bagus!! Pria itu memang menemui Ibu tadi pagi, tetapi ibu sedang tidur. Jadi pria itu hanya melihat ibu lalu membawaku pergi ke villanya." Jawab Agung dengan jujur setelah mengetahui bahwa kakeknya tidak marah.


__ADS_1


__ADS_2