
Agung berdiri di depan Villa Hendrik memandangi ayahnya yang sudah berada di dalam mobil.
'Huh! Dia bekerja sangat keras, sepertinya pekerjaannya memang menghalanginya untuk bertemu denganku dan ibu.' pikir Agung dalam hati lalu berbalik menatap pelayan yang memegang paperbag berisi makanan.
"Ayah pergi dulu, jaga ibumu baik-baik." Kata Hendrik dari mobil sembari memandangi putranya yang kini membelakanginya.
"Huh! Tidak disuruh pun aku akan melakukannya!" Gerutu Agung mengambil paper bag dari tangan pelayan lalu pria kecil itu berjalan meninggalkan Hendrik yang masih memandanginya dari mobil.
"Dasar cecunguk kecil!" Ucap Hendrik dengan suara pelan sembari tersenyum menutup jendela mobilnya.
"Jalankan mobilnya." Perintah Hendrik pada sang supir lalu mobilnya keluar meninggalkan Villa.
"Tuan, Anda yakin ingin melakukan hal ini? Tuan masih baru dan belum akrab dengan orang-orang itu, saya takut bila nantinya mereka malah menolak negosiasi Tuan," ucap Dirga sembari melihat agenda yang akan mereka lakukan agar hari ini.
Agenda hari ini adalah menemui dewan direksi dan partner bisnis Gonedra untuk bernegosiasi agar mau mendesak Hans segera memindahkan seluruh saham atas namanya pada putranya.
"Aku sudah menemukan wanitaku dan ternyata aku sudah memiliki seorang Putra. Wanitaku sedang sakit,,, jadi mana mungkin aku menunda lebih lama lagi? Lagipula ini waktu yang tepat untuk bergerak, pria tua itu berada di luar negeri." Ucap Hendrik sembari memejamkan matanya.
"Baik Tuan," jawab Dirga yang masih tetap cemas.
Hans memang berada di luar negeri untuk berlibur, tetapi karena pertama kalinya pria itu meninggalkan perusahaan dalam negeri maka bisa jadi Hans telah membuat sebuah rencana untuk berjaga-jaga jika ternyata Hendrik malah melakukan kesalahan.
__ADS_1
Apalagi sekarang, sekertaris Hans yang bernama Dani masih berada di perusahaan, lagipula pria itu sangat sulit untuk ditarik ke sisi Hendrik.
'Aku harap Tuan sudah memikirkan semuanya dengan matang matang atau rencana yang disusun 5 tahun akan hancur karena terlalu buru-buru.' pikir Dirga.
Akhirnya mobil mereka terus melaju hingga tiba di sebuah bangunan pinggir kota yang terletak di bawah tanah.
Bersama dengan Dirga, Hendrik memasuki bangunan itu dan turun ke lantai 7.
Keduanya langsung disambut oleh orang kepercayaan Hendrik yang bertugas sebagai penanggung jawab di tempat itu.
"Selamat datang, saya sudah menunggu Tuan," kata pria bernama Jaksel yang merupakan seorang pria berumur 35 tahun.
"Silahkan duduk Tuan," kata Jaksel ketika mereka tiba di dalam ruangan.
"Bagiamana persiapannya?" Tanya Hendrik tidak mau basa-basi sebab Hari ini adalah hari dimulainya peperangan.
"Semuanya sudah siap, segala sistem di perusahaan Gonedra telah kami kuasai tetapi kami belum melakukan serangan apapun dan hanya berjaga-jaga menyimpan segala sandi dan celah yang telah kami terobos." Jawab Jaksel.
"Lalu foto-foto yang kumaksud?" Tanya Hendrik.
"Satu tahun terakhir saya secara diam-diam menyelidikinya, tetapi bahkan di komputer pribadi milik Tuan Hans tidak ada satupun foto itu. Kami hanya menemukan bekas foto yang telah dihapus dan kami sudah membuatnya tak bisa dipulihkan lagi." Jawab Jaksel.
__ADS_1
"Mungkinkah foto-foto itu telah dicetak dan disimpan di suatu tempat?" Dirga menatap Hendrik yang terlihat duduk dengan tenang.
"Hmm, pria tua itu,,," Hendrik memejamkan matanya sembari memikirkan di mana tempat Hans menyembunyikannya.
"Sekertaris itu,, bukankah kau sudah menyelidikinya?" Hendrik kini menatap Dirga.
"Benar Tuan, tapi dia hanya yatim piatu yang semasa kecil diselamatkan oleh Tuan Hans, sepertinya hal inilah yang membuatnya begitu bersikukuh tidak mau mengkhianati Tuan Hans." Jawab Dirga.
"Kembali cari tahu latar belakangnya, mengenai serangan cyber yang kita rencanakan, aku ingin kalian memanipulasi serangan itu dilakukan oleh keluarga Wijaya." Ucap Hendrik yang ingin membalas Patra yang sudah berani menyentuhnya dengan sembarangan.
"Saya mengerti." Jawab Jaksel bersemangat.
Selama 3 tahun didirikannya bangunan di mana dia melakukan banyak hal untuk mencari tahu tentang keluarga Gonedra, akhirnya hari pertempurannya akan segera tiba.
"Aku akan mengirim informasi tambahan mengenai waktunya. Kalian hanya perlu menunggu." Kata Hendrik yang tidak mau terburu-buru.
Sebelum menghancurkan perusahaan Gonedra, maka dia harus memastikan keberadaan foto-foto Alana untuk berjaga-jaga kalau-kalau kan sudah memerintahkan seseorang untuk menjaga foto itu jika terjadi sesuatu.
"Baik Tuan," jawab Jaksel.
Merasa tidak ada yang perlu dibicarakan lagi dan seluruh pengecekannya telah selesai, Hendrik lalu berdiri bersiap untuk kembali ke ibukota menemui beberapa rekan bisnis keluarga Gonedra.
__ADS_1