
Alana meninggalkan kamar Hendrik setelah dia mengetahui seluruh rahasia pria itu.
'Sial...! Aku sudah menduganya dari awal, tapi Kenapa dia tidak mau menjadi pewaris? Meski bisnis ayahnya terbilang besar dan memiliki banyak penyimpangan, tapi Bukankah semua orang yang memiliki bisnis pasti memiliki rahasia gelap mereka masing-masing?' Alana bertanya-tanya di depan pintu kamar Hendrik.
Dia merasa sangat aneh dengan alasan Hendrik. Hanya karena tidak mau menjadi pewaris...!!!
"Tuan Gibran," tiba-tiba Lina datang menghampirinya.
"Oya Bibi Lina, saya sudah mau pamit pulang. Hendrik sudah menghabiskan semua buburnya dan saya meletakkan piring kotornya di atas meja." Ucap Alana.
"Terima kasih Tuan Gibran. Tapi dapatkah Tuan Gibran mengikuti saya sebentar? Tuan besar ingin bertemu dengan Tuan." Ucap Lina membuat Alana mengerutkan keningnya.
Meski dia dapat menipu Lina yang merupakan pembantu, tetapi belum tentu dirinya ahli menipu seorang pria yang sudah berpengalaman seperti Hans.
Pria itu pasti memiliki kemampuan untuk menilai seseorang. Dan kalau dia ketahuan... Alana menelan air liurnya.
"Maaf Bibi, tapi ada apa Ayah Hendrik ingin menemui saya?" Alana bertanya dengan hati-hati.
"Saya cuma pembantu di rumah ini, jadi saya tidak tahu apapun, saya hanya ditugaskan untuk memanggil Tuan Gibran menemui Tuan besar setelah Tuan Gibran selesai bertemu dengan Aden." Ucap Lina.
__ADS_1
"Maaf Bibi, tapi saya ada kuliah mendesak, jadi sepertinya hari ini saya mungkin tidak bisa menemui Ayah Hendrik." Ucap Alana yang tidak mau mengambil resiko.
Kalau sampai ketahuan anak kandung dari musuh besar Tuan Hans ada di rumahnya maka bisa jadi dia tidak akan keluar hidup-hidup dari rumah ini.
Lagipula, tidak ada yang tahu kalau dia berada di tempat itu!
"Begitu ya, kalau begitu saya akan mengatakan pada tuan besar Kalau tuan Gibran sedang terburu-buru. Mari saya antar ke depan." Kata Linq tidak mau memaksa Alana lalu keduanya berjalan menuruni tangga.
'Syukurlah, ternyata tidak sulit menolaknya.' Alana menghela nafas dengan lega sembari menuruni satu persatu anak tangga.
Sayangnya, mereka baru berada di pertengahan tangga ketika suara Hans tiba-tiba menghentikan langkah mereka.
"Selamat siang paman." Kata Alana dengan suara yang diusahakan semirip mungkin dengan suara lelaki.
"Tuan besar, Tuan Gibran sedang terburu-buru karena dia memiliki kuliah mendesak jadi--"
"Hanya 5 menit saja, Saya hanya ingin berterima kasih karena kalau sudah datang mengunjungi Putra saya." Ucap Hans memotong ucapan Lina.
'Sial, aku tidak mungkin menolaknya atau dia akan semakin curiga.' pikir Alana lalu dia langsung menyetujui permintaan Hans dan mereka memasuki sebuah ruangan yang terlihat seperti ruang kerja yang jarang digunakan.
__ADS_1
'Aku dengar pria tua ini sangat suka bermain perempuan. Bagaimana kalau dia menyerang ku Di sini? Meskipun aku jago beladiri tapi tidak mungkin mengalahkannya kan?' Alana berpikir dengan cemas sembari mengikuti langkah Hans yang berjalan ke arah sofa.
Setelah keduanya duduk, Alana berusaha bersikap layaknya pria muda.
"Saya cukup terkejut saat mengetahui seorang teman Putra saya yang datang mengunjunginya. Kau pasti sudah tahu bagaimana gosip tentang anak saya." Kata Hans memulai pembicaraan.
'Orang ini sungguh tidak berbasa-basi, paling tidak tanyakan dulu namaku.' gerutu Alana dalam hati.
"Iya, Saya adalah ketua angkatan jadi saya kemari hanya untuk melakukan tugas saya." Ucap Alana berusaha membuat dirinya seperti orang yang tidak menyukai Hendrik namun masih harus bertanggung jawab pada tugasnya.
"Begitu ya,, dulu Hendrik juga pernah sakit sampai 1 minggu tapi tidak ada ada yang datang mengunjunginya. Mungkinkah--"
"Saya minta maaf atas kejadian itu, tapi sepertinya hari itu saya juga sedang tidak berada di ibukota jadi saya tidak datang mengunjungi Handrik." Ucap Alana memotong ucapan Hans.
"Bagitu ya.. kalau begitu mulai sekarang saya berharap kau akan sering-sering datang menemani anak saya. Dia tidak punya teman dan dia selalu merasa kesepian, jadi tolong sering-seringlah datang menemaninya." Ucap Hans mengagetkan Alana.
Hanya itu saja?
"Baik Paman." Jawab Alana.
__ADS_1