
Semua orang kini menaiki kapal dengan Patra yang langsung diseret ke sebuah kamar lalu dikunci di dalam kamar tersebut.
Dor dor dor...
Patra menggedor-gedor pintu kamar tersebut sambil berteriak, "Tolong!! Tolong selamatkan aku, siapapun yang bisa menyelamatkanku akan kuberikan imbalan yang sesuai!! Kalau kalian ingin bermain dengan wanita, aku bisa membayar ratusan wanita untuk melayani kalian, tapi tolong lepaskan aku!!!"
Patra terus berteriak-teriak sambil menggedor pintu, sampai suaranya terasa serak dan tangannya yang menggedor pintu terasa sakit dan memerah.
Perempuan itu kemudian tersungkur di lantai sembari menangis meratapi nasibnya yang terlalu sial.
Siapa yang menyangka Jika beberapa waktu yang lalu dia masih menjadi putri terpandang dari keluarganya, dan akan menikah dengan seorang pria yang sempurna, namun sekarang, dia berada dalam sebuah kamar dan sebentar lagi akan dilecehkan oleh banyaknya pria di kapal tersebut.
Ketika dia sedang menangis di lantai, dia terkejut saat sebuah ledakan besar di dekat kamarnya memekikkan telinganya.
Boom!!!
Boom!!
Boom!!
Ledakan pertama disusul berbagai ledakan lainnya lalu terdengar rentetan senjata dari luar.
Dor dor dor...
Drrrrrr....ddr............
"Sial!!" Patra Minggu 4 sembari merangkak ke bawah tempat tidur untuk menyembunyikan dirinya.
Namun dia belum sampai menyentuh tempat tidur ketika sebuah ledakan terjadi di dekat kamarnya hingga membuat jendela di kamar itu menjadi pecah.
__ADS_1
Boom!!!
Boom!!
Kebakaran di kapal tak terhindarkan, seluruh orang berlari kesana kemari mencari perlindungan, tetapi 5 helikopter yang mengepung mereka terus menembak ke arah mereka.
"Sial!!!!" Gerutu Aristo berusaha melindungi dirinya sendiri.
Pria itu hendak berlari ke sebuah ruangan ketika ruangan yang hendak dijadikan tempat perlindungannya sudah meledak oleh bom yang ditembakkan dari helikopter.
Mereka benar-benar tidak memiliki persiapan untuk melawan helikopter helikopter yang menyerang mereka sebab mereka baru saja naik ke kapal dan semua senjata diletakkan di gudang.
Tapi gudang itu,, telah diledakkan oleh musuh mereka.
Di atas helikopter, Aldo memperhatikan kapal yang sudah terbakar di semua sisinya.
Aldo masih memperhatikan kapal yang telah mereka lumpuhkan ketika dia melihat seorang perempuan berusaha keluar dari sebuah jendela.
Menggunakan teropong, pria itu bisa mengenali perempuan bergaun merah itu, adalah anak dari sala satu pengusaha terkenal yang baru saja mengalami kebangkrutan kerena ulah Hans.
Dirga juga pernah membahas perempuan itu bahwa Hendrik memiliki hutang padanya dan harus menyelamatkan perempuan itu.
"Sial!! Selamatkan perempuan bergaun merah yang ada di sisi kanan kapal." Perintah Aldo.
Sementara Patra yang berhasil keluar dari jendela, perempuan itu berteriak-teriak ke arah helikopter.
"Tolong!!! Saya adalah tawanan di sini!! Tolong bawa saya!!" Teriak Patra sembari berpegangan pada penyanggah besi.
Namun dia terhempas ketika kapal mengalami kemiringan karena sisi kiri kapal mulai tenggelam.
__ADS_1
Untungnya salah seorang yang menggunakan tangga tali dari helikopter langsung meraihnya lalu merangkulnya menjauh dari kapal yang semakin turun ke dasar laut.
"Terima kasih,," kata Patra sebagai memeluk erat pria yang bergelantungan di tangga tali yang diulurkan dari helikopter.
Perempuan itu memejamkan matanya tak berani menatap lautan yang ada di bawah mereka.
Cukup lama bergelantungan, helikopter yang membawa mereka akhirnya mendaratkan mereka kembali ke dermaga.
Patra langsung terjatuh di lantai dermaga dengan nafas tersengal membayangkan dirinya yang hampir saja mati.
Pria yang bersama Patra hendak membantu perempuan itu ketika suara Waldo tiba-tiba terdengar lewat earpice-nya.
"Tinggalkan saja dia di situ," perintahnya.
"Baik tuan," jawab pria yang bersama Patra lalu pria itu kembali menaiki tangga tali dan helikopter menjauh meninggalkan Patra.
Melihat hal itu, Patra sangat terkejut dan berlari mengejar helikopter yang menjauh darinya.
"Hei!! Tunggu!!!" Teriak Patra dengan nafas tersengal.
"Hei!!!" Patra akhirnya terjatuh dan melihat helikopter yang semakin menjauh darinya.
"Bagaimana ini..?" Patra melihat sekelilingnya, Bagaimana bisa dia ditinggalkan di pulau sendirian?
Tidak sendirian, dia bersama Hans yang sedang sekarat di Villa pria itu.
Dan dia tidak mungkin pergi ke villa itu atau dia akan tinggal bersama sebuah mayat!!!
"Ayah...!!" Patra terisak sangat keras membayangkan dirinya yang ternyata masih hidup, namun harus menjalani hidup sebatang kara di sebuah pulau terpencil.
__ADS_1