Pewaris Yang Kabur

Pewaris Yang Kabur
⁶⁵. Jeruk makan jeruk


__ADS_3

Berdiri 1 menit di dalam ruangan itu dan memandang sekelilingnya, Hendrik berbalik keluar dari ruangan dan mendapati sekretaris ayahnya berdiri di depan pintu.


"Tuan," Dani memberi hormat pada Hendrik.


Hendrik menatap sekilas Dani lalu pria itu melangkahkan kakinya meninggalkan Dani.


Baru saja akan memasuki Lift ketika suara Hans tiba-tiba terdengar dari belakang.


"Kau tidak pergi menemui Patra?" Tanya Hans.


"Aku akan memikirkannya." Jawab Hendrik.


"Kau harus pergi!" Ucap Hans mengancam putranya lalu pria itu kembali memasuki ruangannya bertemu dengan para perempuan.


Hendrik menghela nafas, dia tahu bahwa ayahnya sedang mengancamnya bahwa jika dia tidak pergi maka foto-foto Alana akan disebarkan oleh pria itu.


'Pria tua itu, baiklah, aku akan pergi!!' Hendrik menggertakkan giginya memasuki lift lalu pria itu turun ke lantai bawah dan asisten pribadi sekaligus sekretarisnya menunggu disana.


"Kau datang lebih cepat dari perkiraan ku," ucap Hendrik.

__ADS_1


"Bagaimana bisa saya tidak datang cepat? Oya Tuan, Saya tidak memiliki apapun untuk bekerja hanya ada iPad tanpa ada informasi di dalamnya." Ucap Dirga sembari mengikuti langkah kaki Hendrik.


Segera Hendrik mengeluarkan sebuah kartu dari tangannya dan memberikannya pada Dirga.


"Minta semua informasi dari situ." Ucapnya.


"Baik Tuan," jawab Dirga lalu kedua pria itu berjalan ke mobil dan mobil dikendarai ke sebuah restoran xx dimana kencan buta Hendrik diadakan.


Setelah menunggu sekitar 15 menit mobil akhirnya berhenti di sebuah restoran Hendrik turun dari sana dan berjalan ke arah restoran.


"Tuan Hendrik, sialahkan ikuti saya." Ucap manajer restoran yang sudah dari tadi menunggu kedatangan Hendrik.


Hendrik mengikuti pria itu dan mereka berhenti di sebuah ruangan VIP lalu seorang pelayan yang berdiri bersama manager menyerahkan sebuah buket bunga pada Hendrik.


"Ini adalah bunga yang diperintahkan oleh Tuan Hans untuk diberikan pada Tuan saat--"


"Buang." Ucap Hendrik dengan suara dingin lalu pria itu membuka pintu dan masuk ke ruangan.


Seorang perempuan dengan penampilan yang sopan dan anggun sedang duduk disalah satu kursi.

__ADS_1


Begitu menyadari kehadiran seseorang, perempuan itu menatap ke arah Hendrik dan terpaku beberapa detik sebelum berdiri menyapa Hendrik.


"Halo," katanya.


"Hm," jawab Hendrik segera duduk di depan Patra.


"Jadi Anda, Tuan Hendrik, perkenalkan nama saya Cleopatra Wijaya, biasa dipanggil Nona Patra, tapi orang-orang rumah selalu memanggil saya Cleo." Ucap Patra mengulurkan tangannya untuk berjabat dengan Hendrik.


Namun sayangnya, uluran tangan itu melayang beberapa detik di udara sebab Hendrik tidak memiliki niat untuk menyentuh perempuan itu.


"Nona Patra, Saya menghargai Nona Patra, tetapi saya memiliki alergi dengan perempuan." Ucap Hendrik membuat Patra melototkan matanya dan dengan kikuk menarik uluran tangannya.


"Maksud Tuan Hendrik?" Tanya perempuan itu dengan segudang ketidakpercayaan di wajahnya, dia sudah merasa sangat senang bahwa pria yang dijodohkan dengannya ternyata memiliki ketampanan dan aura yang luar biasa.


Tapi kalau pria itu memiliki kelainan...?


"Ya, aku seorang gay, namun pernikahan ini, aku tidak akan keberatan Kalau Nona Patra tetap ingin melanjutkannya. Tapi sebelum itu saya harus katakan, kalau saya sudah memiliki kekasih." Cerita Hendrik membuat wajah Patra menjadi di pucat memikirkan dirinya sedang dijodohkan dengan seorang gay!!!


"Aku tidak percaya ini..." Patra menutup mulutnya dengan 1 tangannya sembari menertawakan kekonyolannya.

__ADS_1


Dia baru saja melihat seorang pria tampan yang bisa menggetarkan hatinya, tapi ternyata pria tampan itu adalah golongan jeruk makan jeruk!!!!



__ADS_2