
Kehidupan di ibukota menjadi sangat tenang, perusahaan Gonedra yang mengalami kebangkrutan di akuisisi oleh Hendrik hingga perusahaan itu kini sepenuhnya menjadi milik Hendrik.
Pria itu sibuk mengatur ulang perusahaan dan dengan bantuan Romi Dia mendapat banyak koneksi baru yang berkerja sama dengannya.
"Tuan ingin mengganti nama perusahaan ini?" Tanya Dirga.
"Ya, atur agar nama perusahaan ini sama dengan nama Putraku. Juga, mulai sekarang kaulah yang akan mengelola perusahaan ini." Ucap Hendrik yang merasa bahwa dia tidak boleh menyia-nyiakan waktunya untuk bekerja, karena dia harus menebus waktunya selama 4 tahun yang tidak didapatkan oleh Alana dan Agung.
"Tu,, tuan yakin?" Dirga bertanya dengan keraguannya.
Hal itu membuat Hendrik menjadi kesal lalu menatap pria itu dengan tajam, "Apa yang kau ragukan? Aku akan memberimu wewenang penuh untuk mengurus perusahaan ini dan juga perusahaanku yang kubangun di luar negeri." Ucap Hendrik.
"Maafkan saya tuan, saya akan menerima tugas dari Tuan." Kemudian kata Dirga lalu Hendrik segera berdiri menyerahkan berkas-berkas di tangannya agar ditangani oleh Dirga.
Karena Dirga masih belum percaya dengan apa yang terjadi, Dia berdiri mematung melihat Hendrik yang sudah keluar dari ruangan CEO.
__ADS_1
'Ya Tuhan,,, Aku tidak percaya kalau suatu saat Tuan yang gila kerja kini memilih untuk menjadi seorang pengangguran. Ya,, meskipun itu adalah seorang pengangguran berduit.' pikir Dirga dalam hati
Sementara Hendrik yang meninggalkan perusahaan miliknya, dia langsung kembali ke Villa yang baru beberapa hari ini ia beli lalu menjemput Alana dan Agung.
"Ayah,, kita mau kemana?!" Agung bertanya sembari berlari ke arah mobil dengan sangat bersemangat.
Sejak dia diajak ke supermarket, pria kecil itu selalu bersemangat untuk diajak keluar oleh Hendrik, Dia sangat senang melihat hal-hal baru yang tidak pernah ia lihat di rumah.
"Ayah akan mengajak kalian ke suatu tempat," ucap Hendrik sembari mencium pipi Alana yang sedang ia rangkul.
Hendrik tersenyum, "Hari ini aku sudah resmi jadi pengangguran jadi akan ada banyak waktu untuk menemani kalian berdua," ucap Hendrik.
"Benarkah?" Vierra bertanya dengan semangat, bagaimanapun, dia masih terlalu enggan untuk mengajak Agung jalan-jalan sendirian.
Jadi, jika Hendrik benar-benar memiliki banyak waktu luang untuk mereka maka mereka bertiga bisa mengenalkan Agung pada banyak hal yang belum diketahui oleh Putra mereka.
__ADS_1
"Tentu saja," jawab Hendrik membukakan pintu untuk Alana lalu pria itu berputar menuju kursi kemudi.
'Haruskah aku memberitahu Alana tentang rencana pernikahan kami atau nanti memberinya kejutan?' Hendrik menimbang-nimbangnya dalam hati sembari menyalakan mesin kendaraan.
"Ayah,, tadi aku melihat di TV ada makanan yang menyemburkan asap, bolehkah kita mencobanya hari ini?" Tanya Agung dengan mata berbinar-binar menatap ayahnya yang sedang menyetir mobil.
"Baiklah, kita akan mencobanya hari ini." Ucap Hendrik sembari menatap putranya yang kini bersorak kegirangan.
"Hore!!!! Ayah yang terbaik!!!"
Alana melihat putranya, dia tertawa kecil melihat kesenangan pria kecil itu.
Beberapa hari terakhir Agung terus berada di depan TV mencari hal-hal baru yang ingin ia coba.
Pria kecil itu terus menanyakan banyak hal pada Alana hingga membuat Agung sangat bersemangat setiap kali diajak keluar rumah karena selalu ada sesuatu baru yang ia ketahui.
__ADS_1