
"Alana," Suara Hendrik dari seberang telpon.
Perawat yang sedang memegang ponsel di tangannya kini melirik kearah Alana yang terlihat tertarik.
"Apakah Nona akan berbicara dengannya?" Tanya perawat itu dengan suara pelan yang terdengar sangat lembut.
Akan bagus kalau Alana mau berbicara dengan pria itu artinya sedikit demi sedikit Alana mengalami perkembangan.
Pria di seberang telepon yang mendengar suara Alana juga merasa sangat gugup, dua orang itu menunggu Alana untuk menjawab.
Namun sang perawat begitu terkejut kala Alana memalingkan wajahnya dan meneteskan air matanya.
"Nona, ada apa?" Kembali tanya sang perawat sembari mengamati ekspresi Alana.
Namun Alana tidak mengatakan apapun perempuan itu hanya meneteskan air matanya.
"Halo? Alana? Ini aku Hendrik," suara Hendrik dari seberang telepon kembali terdengar.
Tetapi, Alana tetap tidak bergeming perempuan itu terus memalingkan wajahnya dari sang suster lalu memejamkan matanya seperti orang yang tidak mau diganggu.
Sang suster tidak mau membuat Alana terbeban jadi perempuan itu segera mematikan loudspeaker pada ponsel lalu mendekatkan benda pipi itu ke telinganya.
"Halo, Maaf sepertinya Nona Alana tidak mau berbicara dengan anda. Saya akan menutup teleponnya jadi--"
__ADS_1
"Tidak..!! Jangan tutup teleponnya, tolong biarkan suara saya terdengar oleh Alana." Ucap Hendrik.
"Tapi--"
"Tolong. Cukup biarkan suara saya terdengar oleh Alana." Kata Hendrik dengan suara memohon.
Sang perawat terdiam sesaat sebelum menjawab "Baik, silahkan berbicara," perawat itu kembali mengaktifkan mode speaker pada ponsel lalu memegangnya di dekat Alana.
"Alana maafkan aku, aku tidak bisa mengunjungimu dan tidak bisa bertemu denganmu tetapi satu hal yang aku janjikan padamu, aku pasti akan kembali padamu. Aku akan menemuimu,, tolong,, tolong tunggu aku. Aku akan bertanggungjawab atasmu. Aku mencintaimu." Ucap Hendrik dari seberang telepon.
Keheningan terjadi selama beberapa menit, sang perawat harus memperhatikan Alana dan terlihat Alana sama sekali tidak terpengaruh akan ucapan Hendrik.
Perempuan itu hanya meneteskan air matanya dan tidak mengatakan apapun bahkan tidak menggerakkan tubuhnya.
"Apakah Anda masih ingin mengatakan sesuatu?" Tanya suster pada pria di seberang telepon.
"Kalau begitu saya akan mematikan teleponnya--"
"Tidak, tunggu, tolong serahkan telepon ini ke Tuan Romi karena saya perlu membicarakan hal mendesak dengannya." Kata Hendrik dari seberang telepon.
"Ah,, baik." Jawab sang perawat lalu perempuan itu segera keluar dari kamar Alana.
Ketika pintu tertutup Alana membuka matanya dan menatap ruangan kosong Di mana dia berada.
__ADS_1
"Hendrik,," tiba-tiba katanya sembari mengingat apa yang baru saja ia dengar dari Hendrik.
'Aku pasti akan kembali padamu. Aku akan menemuimu,, tolong,, tolong tunggu aku. Aku akan bertanggungjawab atasmu, Aku mencintaimu.' Alana merenungkan ucapan Hendrik lalu ia tersadar akan maksud ucapan pria itu.
"Dia akan pergi?" Segera Alana duduk dengan tegak memikirkan Hendrik.
"Kemana dia pergi?!" Alana berkata sembari mencengkram selimut yang menutupi tubuhnya.
Entah kenapa dia merasa cemas dan merasa kehilangan saat mengetahui Hendrik akan pergi. Dia memikirkannya selama beberapa menit sebelum memaksakan dirinya turun dari tempat tidur dan membawa infusnya meninggalkan ruangannya.
Deg deg deg...
"Nona Muda," para pengawal yang berjaga di luar ruangan Alan nah begitu terkejut melihat perempuan yang sangat pucat itu kini meninggalkan kamar dengan kaki telanjang.
"Ayahku,, dimana dia?" Tanya Alana.
"Tuan Besar sedang keluar." Jawab Sang pengawal.
'Ayah pasti pergi menemui Hendrik, mungkinkah Ayah sangat marah pada pria itu dan akhirnya melukai Hendrik?' Alana berdiri dalam kecemasannya, namun dia juga merasa dilema.
Bagaimanapun dia tetap sakit hati akan apa yang terjadi, dia merasa sakit hati atas Hendrik yang telah menyentuhnya.
Tapi,, hatinya juga menginginkan pria itu. Dia merasa bimbang untuk memilih.
__ADS_1
Jantungnya berpacu tak karuan,, perasaan aneh menyelimutinya.