Pewaris Yang Kabur

Pewaris Yang Kabur
¹⁸¹. Tidak ada makanan


__ADS_3

Agung memasuki kamar ayah dan ibunya lalu pergi ke kamar mandi melihat lemari handuk.


Ketika dia membuka lemari, dilihatnya yang satu tempat adalah handuk berwarna biru sementara di tempat lain adalah handuk berwarna pink.


'Hm,, aku tidak boleh membiarkan ayah dan ibu bertengkar terlalu lama.' pikir Agung lalu dia mengambil semua handuk berwarna pink yang ada di lemari lalu menjatuhkannya di lantai kecuali satu handuk yang akan diberikan pada Hendrik.


Pria kecil itu lalu berlari ke lantai bawah menemui ayahnya.


"Ayah!! Buka pintunya!!" Teriak Agung sambil mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi.


Beberapa detik pintu itu terbuka memperlihatkan setengah kepala ayahnya jadi Agung langsung mengulurkan handuk berwarna pink pada ayahnya.


Sesaat, Hendrik memperhatikan handuk itu tapi dia akhirnya menerimanya.


"Kau anak yang pintar," puji Hendrik lalu menutup pintu.


Agung tersenyum melihat pintu yang ditutup lalu pria kecil itu kembali bergabung dengan ibunya yang masih pusing dengan rubik di tangannya.


"Ibu,, apa aku perlu membantu ibu lagi?" Tanya Agung.


"Hm?" Alana mengangkat wajahnya melihat Gaunh, "Hah,,, ini terlalu sulit!!" Kata Alana melemparkan rubik itu ke meja lalu dia duduk bersandar.

__ADS_1


Dia terkejut melihat Hendrik muncul dari belakangnya dengan handuk berwarna pink melilit tubuhnya.


"Kau!! Kenapa memakai punyaku?!" Tanya Alana kesal.


Hendrik tidak menjawab Alana, pria itu bahkan tidak ada repot-repot melihat Alana, dia hanya berjalan ke lantai atas dikejar oleh Alana.


Hendrik memasuki kamar dan berjalan ke ruang ganti menutup pintu.


Dor dor dor dor!!!


"Kau sialan!!! Itu handuk milikku!!" Ucap Alana dengan kesal.


Sebenarnya dia baik-baik saja jika berbagi handuk dengan Hendrik, tapi saat ini dia sedang bertengkar dengan pria itu jadi seharusnya pria itu tidak menyentuh barang-barangnya bukan?!


"Sial!!" Umpat Alana saat melihat seluruh handuknya telah terjatuh di lantai sementara handuk Hendrik masih lengkap di lemari.


"Hais! Aku tidak mungkin mandi lalu menggunakan handuk pria itu!" Alana sangat kesal lalu perempuan itu keluar meninggalkan kamar.


Ketika dia tiba di lantai bawah, Agung menatapnya dengan wajah sendunya dengan tangan pria itu memegangi perutnya.


"Ibu, aku lapar," ucap Agung.

__ADS_1


Saat itu malam semakin larut, dan di apartemen mereka tidak tersedia sedikitpun makanan.


Lebih parahnya lagi, mereka berdua terlalu buru-buru meninggalkan kediaman Hendrik jadi Alana tidak membawa ponsel.


"Tunggu sebentar, ibu akan memeriksa kulkas." Kata Alana berjalan ke dapur lalu perempuan itu memeriksa kulkas.


Di dalam kulkas hanya tersedia minuman kaleng, satupun makanan tidak ada di sana.


"Hah,, kenapa kulkas ini kosong? Kenapa juga pengantar makanan belum datang?" Alana mengambil dua kaleng jus dari kulkas.


Perempuan itu lalu menghampiri Agung dan menyerahkan sekaleng jus pada Agung, "Minum ini untuk mengganjal perut mu, sebentar lagi makanannya akan diantar kemari." Ucap Alana pada putranya.


"Baik Bu," jawab Agung sembari melihat ke tirai jendela.


Meski ayahnya sudah mengizinkannya untuk membuka tirai, tetapi dia berharap ayahnya yang lah yang melakukannya supaya ayahnya bisa berbaikan dengan ibunya.


"Ada apa? Apa kau sangat ingin melihat pemandangan dari sini?" Tanya Alana ketika melihat putranya melirik ke jendela yang tertutup.


"Hm,, ya,, Apakah ibu tidak mau?" Tanya Agung.


"Tentu saja mau, tapi kita tidak boleh melakukannya demi keselamatan kita." Ucap Alana mengacak rambut putranya.

__ADS_1


n


__ADS_2