Pewaris Yang Kabur

Pewaris Yang Kabur
⁶⁰. Ingin bertemu Alana


__ADS_3

Setelah berbicara dengan dokter, Romi kembali ke kamar putrinya dan melihat Alana masih tertidur.


"Kakek,," tiba-tiba suara cucunya dari belakangnya membuat Romi langsung berbalik dan menutup pintu kamar Alana.


"Cucuku, ada apa?!" Tanya Romi sembari mengulurkan tangannya dan membawa pria kecil itu ke gendongannya.


"Kakek, bagaimana kabar ibu?" Tanya Agung dengan wajah cemas nya, dia tidak berani memasuki kamar ibunya sebab dia takut akan mengganggu ibunya yang sedang beristirahat.


Makanya dia memilih ke taman melampiaskan marahnya.


"Ibu masih baik-baik saja. Dokter bilang ibumu hanya kelelahan dan butuh istirahat." Ucap Romi sembari menggendong cucunya ke kamar cucunya.


Agung tidak mengatakan apapun, dia hanya menggembungkan pipinya memikirkan pria yang ada di foto.


"Kakek, foto itu,, bolehkah aku memegang satu lembar? Aku janji tidak akan memperlihatkannya lagi pada ibu." Ucap Agung memperlihatkan wajah memohonnya pada Romi.


"Kakek akan memberikannya Tapi sekarang sudah waktunya tidur siang--"


"Aku akan tidur siang, tapi nanti setelah bangun kakek harus memberikan satu foto itu untukku ya..?!" Potong Hendrik sembari melompat ke atas tempat tidur dan menunggu jawaban dari kakeknya.


"Baiklah." Jawab Romi menyelimuti cucunya lalu pria itu memberikan ciuman hangat di kening Agung sebelum meninggalkan kamar tersebut.

__ADS_1


Romi segera kembali ke kamarnya, pria itu melihat foto yang masih berserakan di atas tempat tidurnya.


"Foto ini sangat berpengaruh pada Alana, meski dokter mengatakan Alana bisa sembuh dengan terapi foto ini, tapi kemungkinan membuat penyakit Alana tambah parah juga sama besar dengan kemungkinan kesembuhannya..." Romi menghela nafas, dia sudah berdiskusi dengan dokter dan dokter mengatakan tidak ada salahnya mencoba mengobati Alana menggunakan foto-foto itu.


Tetapi Romi terlalu takut akan resiko nya, kalau sampai Alana benar-benar tidak bisa menerimanya dan akhirnya semakin menjadi gila.... Dia tidak mau putrinya menjadi gila.


Setelah menyimpan foto-foto itu, Romi mengambil ponselnya dan melihat banyaknya panggilan tak terjawab lalu sebuah pesan dari seseorang.


Sampah "Saya sudah kembali."


Romi memegang erat ponselnya dan memandangi layar ponselnya selama beberapa detik, kemudian ia menekan tombol panggil pada orang bernama sampah di kontaknya.


"Tuan," suara seorang pria terdengar datar dan stabil terpantul dari benda pipi yang digenggam oleh Romi.


"Pukul 8 malam di hotel xx." Ucap Romi langsung mematikan panggilan itu dan menyimpan ponselnya.


Romi memejamkan matanya memikirkan hal-hal yang akan ia bicarakan dengan Hendrik.


"Demi Alana..." Ucapnya menguatkan tekadnya.


Sementara Hendrik yang baru saja menelpon dengan Romi, pria itu memandangi ponselnya setelah panggilan itu ditutup.

__ADS_1


"Tuan Romi ini benar-benar,,,, setidaknya beri aku waktu untuk menanyakan kabar Alana." Katanya menghela nafas lalu melemparkan ponsel itu ke atas ranjang.


Dia tidak mau bertemu dengan Romi, dia hanya ingin bertemu dengan Alana!!!


Akhirnya Hendrik tidak punya pilihan lain, dia tidak mungkin bersikap keras pada Romi yang juga keras.


Pria itu keluar dari kamarnya untuk kembali mencari udara segar supaya pikirannya tentang Alana dapat teralihkan.


"Tuan," seorang pengawal menemuinya di depan pintu kamarnya.


"Ada apa?" Tanyanya.


"Kami mendapati Tuan Rafi pergi ke kediaman keluarga Gonedra dan bertemu dengan Tuan Hans." Ucap pengawal itu.


Hendrik langsung tersenyum "Bagus sekali. Selidiki terus," ucapnya.


"Baik Tuan." Jawab Pengawal itu.


'Kalau pria itu tidak bisa memilih antara aku dan pria tua itu, maka sebaiknya dia dilenyapkan saja, sama seperti mata-mata ayah yang dulu.' Pikir Hendrik yang tidak mau memberi kesempatan pada penyusup untuk berada satu tempat dengannya.


__ADS_1


__ADS_2