Pewaris Yang Kabur

Pewaris Yang Kabur
⁴⁹. Perjanjian Hendrik dan Romi


__ADS_3


Hei... halo,, maaf tadi ada bab yg ke ulang,,,.... Otor benar2 ngantuk😂


Udah diperbaiki dari bab 45 ya... silahkan baca ulang,, kalo mau.🤭


Setelah meninggalkan Hendrik, Romi pergi ke sebuah kamar yang telah Ia sewa di lantai 23 dan membersihkan dirinya di bawah shower.


Pria itu berpegangan pada dinding kamar mandi sembari melihat pada air yang mengalir di sekitar kedua kakinya.


"Putriku yang malang." Ucapnya membayangkan wajah Alana yang sudah seharian ini tidak pernah menampakkan ekspresi apapun.


Alana terlihat seperti perempuan yang tertekan dan hanya menatap kearah dinding dengan tatapan kosong.


Putrinya yang ceria kini berubah menjadi putri yang murung dan pendiam, dan semua itu disebabkan oleh Hans dan putranya!!


"Ayahku mengambil foto-foto Alana dan mengancam ku akan menyebarkan foto itu kalau aku tidak mau menjadi pewaris." Ucapan Hendrik kembali terngiang di pikiran Romi membuat pria itu kembali mengepalkan tangannya.

__ADS_1


Kalau foto-foto Alana tersebar maka bisa dipastikan putrinya akan menjadi gila dan tidak akan pernah mau menemui dunia luar.


Kalau itu terjadi,,, 'Aku akan menjadi orang yang paling menyesal kalau sampai putriku harus menghabiskan seluruh sisa hidupnya di bawah tekanan mental.' Romi memejamkan matanya dan berusaha mendapatkan solusi untuk masalahnya.


Putrinya adalah yang nomor satu baginya, jadi apapun yang ia lakukan semata-mata untuk kebaikan putrinya.


Cukup lama berpikir di bawah shower Romi akhirnya meninggalkan kamar mandi dan memakai pakaiannya. Setelah itu Romi bergegas menghampiri putrinya yang sedang terbaring di ranjang rumah Sakit dengan mata terpejam.


"Putriku?" Kata Romi menghampiri Alana dan menggenggam tangan perempuan itu.


Merasakan sebuah tangan yang dingin menyentuh tangannya Alana membuka matanya dan melihat ayahnya. Hanya satu detik lalu Alana mengalihkan pandangannya ke langit-langit dengan tatapan kosong yang enggan untuk berpikir.


"Ayah ingin membicarakan sesuatu denganmu. Maukah kau dengar ayah?" Tanya Romi dengan tatapan sendu menatap putrinya yang terlihat tidak tertarik.


"Baiklah, ayah tidak akan mengganggumu. Istirahatlah." Kata Romi mendaratkan sebuah ciuman hangat di kening putrinya lalu pria itu keluar dari kamar Alana.


Baru saja menutup pintu Romi langsung melihat kearah pengawal yang berjaga.

__ADS_1


"Dimana dia?" Tanya Romi merujuk pada keberadaan Hendrik.


"Kami sudah memindahkannya ke ruangan lain." Kata pengawal itu lalu berjalan menuntun Romi ke sebuah ruangan di mana Hendrik sedang duduk di kursi dengan tangan dan kaki yang diikat.


Romy menatap pria yang sedang tertunduk dengan lemah.


"Aku sudah memikirkannya, aku memberimu kesempatan 3 menit untuk berbicara." Ucap Romi langsung membuat Hendrik mengangkat kepalanya.


"Saya akan bertanggung jawab atas Alana. Dan karena ayah saya memegang foto-foto itu maka saya akan mengikuti keinginan ayah saya untuk menjadi pewaris nya. Tetapi saya akan mendata mendatangani surat perjanjian dengan Tuan yang menyatakan bahwa segala sesuatu yang menjadi milik saya akan diberikan pada pada Alana jika suatu saat saya mengabaikan Alana." Ucap Hendrik.


Dia sudah memikirkannya matang-matang, dengan begini dia punya waktu untuk menahan ayahnya.


Romi memikirkan ucapan Hendrik. Kalau pria didepannya benar-benar bersungguh-sungguh dengan ucapannya maka suatu saat jika pria itu mengingkari ucapannya maka pria itu akan keluar dari rumahnya tanpa sepeserpun harta.


Bahkan setengah koin pun tak layak ia bawa, semuanya akan diberikan pada Alana.


"Baik, mari kita atur itu. Tapi saat ini dan sampai waktu yang belum ditentukan kau tidak bisa menemui putriku. Aku akan membiarkanmu menemui putriku setelah semua masalah yang kau ciptakan telah diselesaikan. Ingat,, ayahmu,, aku menginginkan kepalanya!" Ucap Romi dengan penuh penekanan.

__ADS_1


"Saya mengerti." Jawab Hendrik.



__ADS_2