
Setelah melihat keadaan putrinya, Romi menemui dokter yang telah memeriksa putrinya.
"Apa yang terjadi?" Tanya Romi dengan wajahnya yang tampak masih mengandung kemarahan. Pria itu sedang berusaha menahan diri, menahan diri demi putrinya.
"Begini,," sang dokter menghela nafas dan membasahi bibirnya dengan lidahnya karena dia merasa terlalu berat untuk mengatakan hasil pemeriksaannya.
"Katakan saja," Romi berusaha bersikap tenang tetapi dalam hatinya Dia sedang dikuasai oleh amarah dan dendam. Sudah dari tadi tangannya terkepal erat dan dia siap untuk menghancurkan apapun yang sudah melukai putrinya.
"Hal,,, ini,, Sebelumnya saya cukup prihatin atas apa yang menimpa Putri anda. Tapi dari hasil pemeriksaan,,, Putri Anda baru saja mengalami kekerasan seksual."
Brak..!!
Sang dokter tersentak kaget dan hampir saja berdiri dari kursinya karena terkejut dan langsung memukul meja nya hingga kaca yang mengalasi mejanya retak dibanjiri darah.
Astaga... Ini pertama kalinya Dia berbicara dengan wali pasien yang berani menghancurkan mejanya.
Tapi apa yang bisa ia lakukan,, pria itu adalah pria berkuasa, lebih baik mengalah dari pada mencari aman.
"Tuan silahkan tenang," dokter itu berbicara tergagap saat melihat dara sudah menetes dari tangan Romi.
__ADS_1
Pasti sangat menyakitkan!
"Saya sudah mengerti. Tolong rawat putri saya baik-baik." Kata Romy lalu pria itu tidak memerlukan lagi informasi apapun dari sang dokter. Dia segera keluar dari ruang dokter dan menemui asistennya.
"Selidiki masalah ini. Siapapun yang berada di balik masalah ini harus dilenyapkan bersama semua keluarganya!" Perintah pria itu dengan rahang mengeras.
Putrinya satu-satunya...!!
"Baik Tuan." Jawab sang asisten lalu pria itu segera meninggalkan rumahsakit untuk memulai penyelidikan nya.
Romi kembali ke kamar putrinya dan menatap putrinya yang terbaring lemas di tempat tidur.
Hatinya tersayat sakit melihat keadaan putrinya, tetapi dia tidak bisa melakukan apapun selain duduk di samping putrinya dan menggenggam tangan Alana dengan erat.
Pria itu duduk selama 30 menit sampai suara pintu diketuk menarik perhatiannya.
"Masuk," perintahnya pada orang di seberang pintu lalu orang yang ada di sana segera memasuki kamar rawat Alana.
"Tuan," Waldo memasuki kamar ruang inap itu dengan membawa informasi hasil penyelidikannya.
__ADS_1
"Kau sudah menyelidikinya?" Tanya Romi tanpa mengalihkan perhatiannya dari wajah putrinya yang terlihat tidur dengan damai.
"Ya, Kami menemukan Nona Alana menyamar menjadi seorang pria lalu pergi ke rumah Tuan Hans," ucapan Waldo langsung terhenti kala ia melihat Romi langsung menatap ke arahnya dengan tatapan tegas dan tajam.
"Rumah Hans?!" Romy bertanya seakan tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar dari asistennya.
Untuk apa putrinya pergi ke tempat itu?
"Benar Tuan, dari informasi yang kami dapatkan, Nona Alana tinggal di sana selama beberapa jam lalu ketika meninggalkan rumah itu Nona Alana sudah menggunakan pakaian perempuan dan tidak lagi berada dalam penyamarannya." Ucap Waldo hampir saja membuat Romi mengacak-ngacak ruangan itu.
Untungnya dia sadar kalau putrinya sedang berbaring di sana Jadi pria itu berusaha menekan amarahnya lalu kembali bertanya "Lalu apa lagi yang kau dapat?"
"Itu, hari ini adalah hari kedua Nona Alana pergi ke sana menggunakan penyamarannya. Tapi, ketika Nona Alana meninggalkan kediaman itu, nona Alana sudah dalam keadaan seperti ini. Sepertinya kekerasan yang dialami Nona Alana berlangsung di kediaman Gonedra. Hasil laboratorium Nona Alana juga akan keluar dalam beberapa jam jadi akan diketahui siapa yang sudah menyentuh Nona Alana." Ucap Waldo menjelaskan.
"Keparat..!!! Beraninya mereka..." Romi menggertkakn giginya.
Sepertinya keluarga Gonedra sudah benar-benar mencari masalah dengannya.
Tidak tahu diri!
__ADS_1
Amarah Romi langsung meluap-luap..