Pewaris Yang Kabur

Pewaris Yang Kabur
²⁹. Masikah ada rencana lain?


__ADS_3

Setelah berlati sampai kehabisan tenaga Hendrik akhirnya membersihkan diri lalu pria itu menaiki mobil untuk kembali ke rumahnya.


Hendrik duduk dalam mobil sembari menatap pohon-pohon pelindung di tepi jalan yang ia lewati.


'Aku harus melakukannya, Alana adalah target yang sangat tepat. Kalau aku menlukai perempuan itu musuh besar pria tua itu pasti akan sangat marah lalu mereka akan bertengkar hebat. Jadi selain pria itu pusing memikirkan aku yang akan divonis hukuman mati, dia juga akan pusing menghadapi musuh bisnisnya. Dengan begini pria tua itu tidak mungkin bertahan lebih lama dan pasti akan meninggal! Saat itu, aku akan menunggunya di depan pintu neraka dan memaksanya meminta maaf pada ibu!' pikir Hendrik dengan dendam yang membara dalam hatinya.


Rencananya sudah sangat matang, dia akan memanfaatkan Alana untuk membalas dendam pada ayahnya sendiri.


Meski dia tidak akan melukai perempuan itu sampai mati tetapi dia akan membuat Alana tak bisa bersama dengan pria yang dicintai perempuan itu.


'Alana, jangan menyalahkanku atas keputusan yang ku ambil hari ini karena semuanya juga disebabkan olehmu. Siapa suruh kau terlahir dari keluarga yang menjadi musuh ayahku,, kita sama-sama dikorbankan demi keluarga. Kau harus mengikuti keinginan ayahmu mendekatiku supaya dia bisa menekan ayahku, jadi aku memutuskan untuk membebaskan kita berdua.' Pikir Hendrik mengatup erat giginya.


Dia sudah muak menunggu, lebih baik mengakhirinya sekarang dari pada tersiksa lebih lama lagi.


Akhirnya setelah memikirkan banyak hal di dalam taksi, Hendrik kini tiba di kediamannya.


Setelah membayar ongkos taksi Hendrik memasuki rumah besar milik keluarganya dan terkejut saat Lina berlari ke arahnya dengan wajah yang tampak senang.

__ADS_1


"Aden sudah kembali. Cepatlah masuk di dalam ada teman Aden yang menunggu Aden." Ucap Lina mengejutkan Hendrik.


Teman?


"Aluna?" Tanya Hendrik pada Lina.


"Ehh,, Aden,,, pasti aden memiliki seorang gadis yang aden sukai. Gadis itu pasti namanya Aluna kan? Wahh selamat ya Den," Lina merasa sangat senang karena akhirnya dia sudah melihat Hendrik menjadi dewasa, mulai jatuh cinta.


"Jangan bicara omong kosong Bi," kata Hendrik segera mengabaikan Lina lalu pria itu berjalan memasuki rumahnya.


Begitu tiba di ruang tamu, Hendrik menghentikan langkahnya saat melihat Aluna yang menyamar menjadi Gibran sedang berbincang-bincang dengan Hans.


Aluna terdiam sesaat lalu dia berbalik dan menatap pria yang berdiri di sana.


Deg!


Jantungnya kembali bersikap aneh.

__ADS_1


"Ayo ke kamarku." Ucap Hendrik dengan suara datarnya lalu pria itu berjalan ke arah tangga diikuti Alana.


"Saya ke atas dulu paman." Ucapan Lana diangguki Hans.


Hendrik menaiki satu persatu anak tangga dengan pikirannya yang kalut.


'Mengapa dia datang lagi? Harusnya dia sudah bersama pria itu dan menikmati masa berkencan mereka. Mengapa dia malah ke sini menggangguku?!' Hendrik menggerutu pada dirinya sendiri meski dia berusaha meyakinkan dirinya bahwa dia tidak menyukai Alana, tetapi desiran hatinya tidak mampu ia tahan.


Keduanya akhirnya tiba di kamar Hendrik. Setelah mengunci pintu kamarnya Hendrik, berbalik dan melihat Alana sudah melompat ke atas ranjang.


Perempuan itu berbaring sembari memejamkan matanya.


"Apa yang kau lakukan disini?!" Tanya Hendrik menatap Alana.


"Kau..! Jangan panggil aku dengan sebutan Kau!! Panggil aku Tuan Putri!" Kesal Alana membuka matanya lalu dia menutup lagi matanya setelah berbicara.


'Perempuan ini,,, sebenarnya apa yang ia inginkan?' Hendrik bertanya-tanya dalam hatinya, keinginan Ayah Alana untuk menekan Hans sudah tercapai, tapi mengapa Alana masih terus mendekatinya?

__ADS_1


Masihkah ada rencana lain?



__ADS_2