
Alana terus terbaring di sofa sembari merasakan kepalanya yang masih terus berdenyut.
Meski dia sudah bisa menahan denyutan itu, dan dari waktu ke waktu gejala sakit kepalanya semakin menurun, Alana masih tetap terganggu.
"Pria itu temannya Agung? Tapi kenapa aku merasa sangat membencinya dan ketakutan mengingatnya?" Alana merasa gelisah di sofa sampai siang berganti malam dan Romi telah kembali ke villa.
Agung langsung menceritakan semuanya pada kakeknya jadi Romi langsung memasuki kamar Alana dan melihat Alana masih terbaring di sofa.
"Alana," ucap Romi mendekati putrinya.
"Ayah,," Alana menghela nafas sembari berusaha untuk duduk.
"Apa yang terjadi?" Tanya Romi sembari membantu putrinya duduk lalu pria itu ikut duduk di samping Alana.
"Ayah,," dengan suara paraunya Alana memeluk ayahnya dan menyandarkan kepalanya di dada pria paruh baya itu.
"Ayah di sini,," kata Romi mengusap rambut panjang Alana.
"Aku baru saja melihat sebuah foto yang membuatku merasa sangat marah, padahal aku tidak mengenal orang yang ada di foto itu. Ini pasti karena pria itu berhubungan dengan Agung makanya aku sangat kesal dibuatnya." Ucap Alana sambil menghela nafas.
Entah kenapa setiap kali mengingatnya hatinya selalu terasa sakit.
__ADS_1
"Tidak,, itu tidak ada hubungannya dengan Agung, hanya terkejut saja karena tidak biasa melihat orang lain selain aku dan Agung." Ucap Romi.
"Benarkah? Tapi pria itu adalah teman Agung, jadi dia pasti sangat menyebalkan seperti Agung!" Ucap Alana dengan suara ketusnya.
"Baiklah,, baik,, tidak perlu di pikirkan lagi, aku dengar seharian ini kau baru sarapan, ayo turun ke bawah untuk makan." Ucap Romi kembali mengingat ucapan Agung.
"Tidak,, Aku tidak mau meninggalkan kamar, Aku tidak mau bertemu dengan Agung, apalagi dengan teman Agung!" Ketus Alana.
"Baiklah, kalau begitu Ayah akan membawakan makanannya kesini titik tunggulah sebentar." Ucap Romi lalu pria itu berdiri meninggalkan Alana sendirian.
Alana menatap kue di atas meja, dia sangat menyukai kue itu tetapi mengingat bahwa orang yang memberikannya adalah teman Agung maka dia dengan kesal melempar kue itu kekal lantai hingga berhamburan.
Akhirnya Alana tidak tahan lalu perempuan itu berjalan mengambil sapu dan menyapu lantai kamarnya.
Namun, ketika dia menyapu kolong sofa perempuan itu terkejut saat menarik sapunya dan sebuah ponsel ikut tertarik dari dalam.
'Ini,, ponsel ini?' Alana memandangi ponsel itu, ponsel milik Agung.
Nafas Alana menjadi sesak sebab dia ingat bahwa ia melihat wajah pria itu di layar ponselnya jadi Alana melempar sapu dan bergerak untuk menjauhi ponsel itu ketika dia teringat sesuatu.
'Sebaiknya aku pastikan, mungkin saja aku sebenarnya mengenal wajahnya, tapi tadi hanya melihat sekilas.' kata Alana berusaha menenangkan diri lalu berbalik mengambil ponsel yang tergeletak di lantai.
__ADS_1
Perempuan itu memegang ponselnya sembari berjalan ke sofa dan duduk di sana.
"Aku pastikan saja sebentar," ucap Alana lalu dengan jantung yang berdegup kencang ia menyalakan layar ponselnya dan langsung mendapati foto seorang pria yang sedang tersenyum.
Deg!
Deg!
Deg!
Alana merasakan debaran jantungnya berpacu cepat, dan keringat dingin memenuhi seluruh keningnya.
Tetapi begitu, Alana tidak melepaskan ponsel di depannya ia berusaha melawan ketakutannya dengan memperhatikan foto pria itu.
"Hanya foto biasa,, ini sama persis seperti foto yang sering kulihat di laman internet...." Alana berusaha meyakinkan dirinya sendiri sembari memandangi foto tersebut.
Beberapa menit memandanginya, dia terkejut ketika layar ponsel itu tiba-tiba berubah menampilkan seseorang sedang menelpon ke ponsel itu.
Foto kontak pada ponsel itu ialah foto yang sama dengan yang dijadikan wallpaper ponsel.
"Pria ini,, dia menelpon!!" Alana melemparkan ponsel itu ke meja.
__ADS_1