Pewaris Yang Kabur

Pewaris Yang Kabur
¹⁷⁷. Memprovokasi X


__ADS_3

Begitu tiba di gedung xx, seluruh pasukan yang dibawa oleh Hendrik langsung bersiap di posisi mereka masing-masing.


Dirga berdiri di samping Hendrik dengan kegugupan memenuhi seluruh tubuhnya.


"Tuan yakin mau masuk sendiri? Bagaimana kalau saya ikut bersama Tuan?" Tanya Dirga pada Hendrik sebab dia terlalu takut kalau pria itu sampai kenapa-kenapa.


Apalagi sekarang Hendrik akan menjadikan dirinya umpan dan berencana memasuki markas Black sendirian tanpa satupun senjata di tubuhnya.


Hendrik menatap Dirga yang tak bisa menyembunyikan kecemasannya, "Baiklah," jawabnya.


Akhirnya Dirga bisa bernapas lega, dia kemudian mengikuti Hendrik memasuki gedung itu.


Beberapa penjaga gedung yang mengenali Hendrik langsung melaporkan situasi pada atasan mereka.


"Biarkan dia masuk." Ucap atasan mereka.


Dengan begitu, penjaga yang bertugas langsung menghampiri Hendrik dan berkata, "Silahkan ikuti saya."

__ADS_1


Hendrik dan Dirga dibawa ke sebuah ruangan lalu keduanya diperiksa, seluruh senjata yang ada di tubuh Dirga langsung dilepaskan satu persatu.


Barulah setelah kedua pria itu dipastikan tidak membawa senjata lalu mereka diantar ke ruang bawah tanah.


Di perjalanan, Hendrik bertemu dengan mata-mata mereka yang diseret keluar, terlihat pria itu penuh dengan darah di sekujur tubuhnya yang artinya dia telah disiksa habis-habisan dan sekarang akan dibuang.


Dirga memperhatikannya, 'Astaga, aku tidak bisa membayangkan Kalau tuan nanti diperlakukan seperti itu.' pikirnya cemas.


Jika dirinya yang diperlakukan seperti itu maka dia tidak masalah, yang penting Hendrik bisa keluar hidup-hidup.


Tapi jika Hendrik disiksa,, dia tidak bisa menerima nya.


"Tuan Muda, akhirnya kita bertemu." Ucap X menggoyangkan gelas anggur di tangannya.


Dia merasa sangat senang melihat pria di depannya kini datang sendiri untuk membawa matinya.


Jika pria itu mati, maka dia akan menjadi pewaris dari seluruh Black, apalagi dia sudah mengetahui bahwa umur Hans sudah tidak lama lagi, tinggal satu bulan lagi.

__ADS_1


Hendrik tersenyum tipis menatap pria di depannya lalu dia berjalan ke arah sofa dan duduk di sana.


"Hah..... Ayahku benar-benar memiliki bawahan yang buruk. Bagaimana bisa tugas untuk mencariku tidak bisa dilakukan dengan baik dan malah dipermalukan seperti ini," kata Hendrik mengejek pria itu bahwa dia tidak becus mencari dirinya tetapi baru bisa menjalankan misinya setelah orang yang hendak ia bunuh menghampirinya.


"Kau!!" X hendak meledakkan amarahnya, tetapi dia menghela nafas dan kembali duduk dengan tenang.


"Jangan meremehkanku, orang-orang yang kusuruh itu masih memiliki pengalaman yang lebih rendah. Tapi jika aku yang langsung turun tangan maka--"


"Oh,, kalau begitu Mengapa kita tidak membuktikannya? Cobalah biarkan aku pergi kali ini dan aku akan melihat apakah kau benar-benar bisa menemukanku atau tidak?!" Kata Hendrik memprovokasi pria di depannya.


"Heh!! Kau mencoba menjebakku?" Tanya x kembali memainkan gelas anggurnya.


"Ah,, Jadi kau benar-benar tidak memiliki nyali ya... Sayang sekali. Ayahku akan menyesal mengangkatmu menjadi pemimpin Black kalau dia mengetahui hal ini." Ucap Hendrik tersenyum memprovokasi pria di depannya.


Dirga yang berdiri di belakang Hendrik hanya bisa terdiam dalam keterkejutannya.


Dia pikir Hendrik datang untuk menyerahkan nyawanya, tapi ternyata pria itu malah datang untuk memprovokasi X supaya pria itu keluar dari markasnya.

__ADS_1


'Kenapa aku tidak memikirkan hal ini, tapi apakah pria itu akan termakan omongan Tuan?' Dirga bertanya-tanya dalam hatinya.


__ADS_2