
Akhirnya, sesuai yang telah direncanakan oleh Hendrik, maka pada hari H pernikahannya dengan Alana, Hendrik dan Agung sudah siap dalam setelan mereka.
"Ayah,, apa kita akan menjemput ibu sekarang?" Tanya Agung.
"Hm, ya, pegang ini," ucap Hendrik memberikan sebuket bunga pada Agung.
"Wah,, Apakah bunga ini untuk ibu?" Tanya Agung.
"Tentu saja, nanti kau berikan padanya saat kita tiba di rumah kakek." Ucap Hendrik memegang tangan Agung lalu mereka keluar dari villa dan menaiki kendaraan menuju villa Romi.
Begitu tiba di Villa, mereka memasuki Villa, sesuai dengan arahan Romi, mereka langsung menuju ke lantai 2.
"Kalian sudah datang," Romi langsung menyambut mereka dengan suara yang dipelankan karena takutnya Alana yang sementara dalam kamar akan mendengar mereka.
"Kakek!!" Agung langsung mengulurkan kedua tangannya pada Romi lalu disambut Romi membawa pria kecil itu ke gendongannya.
"Kalau begitu, aku akan menunggu kalian di hotel." Ucap Hendrik.
"Pergilah." Kata Romi.
"Daa, Ayah!" Agung melambaikan tangannya pada Hendrik yang kini berjalan menjauh dari mereka.
Sementara Romi dan Agung yang tinggal, mereka memasuki kamar, mengejutkan Alana yang sedang dibantu para pelayan memakai sepatunya.
__ADS_1
"Ibu!!!" Seru Agung langsung turun dari gendongan kakeknya lalu menghampiri ibunya.
"Lho,, dimana ayahmu?" Tanya Alana sembari menerima buket bunga yang diberikan oleh Agung.
"Huh!! Ayah baru saja berangkat ke bandara untuk pergi ke luar negeri." Ucap Agung merasa kesal.
"Eh?" Alana bertanya dengan bingung sembari melihat ke arah ayahnya.
Kemarin ayahnya mengatakan bahwa hari ini mereka akan melakukan photoshoot untuk mencetak undangan pernikahan mereka.
Tapi sekarang,,, mengapa?
"Alana,, ini pekerjaan Hendrik yang mendesak, jadi untuk hari ini kau dan agung saja dulu. Foto bertiga kalian akan kita atur setelah Hendrik kembali dari luar negeri." Ucap Romi langsung diangguki oleh Agung.
"Iya!! Hari ini kita berdua saja yang berfoto, nanti setelah Ayah kembali dari luar negeri baru berfoto bertiga!!" Seru Agung dengan sangat bersemangat.
"Baiklah... Kalau gitu kita berangkat sekarang saja." Ucap Alana lalu membiarkan tangannya dipegang oleh Agung yang menariknya keluar dari kamar.
Ketiga orang itu langsung menaiki mobil, mobil membawa mereka ke hotel di mana resepsi pernikahan akan digelar.
Mereka tidak masuk dari pintu utama, karena di pintu itu terdapat banyak tamu undangan.
Meski Alana merasa bingung mereka tidak masuk dari pintu utama, namun dia mengesampingkan kebingungannya itu dan mengikuti dua orang yang menuntunnya memasuki lift.
__ADS_1
"Ibu, katanya pemotretannya akan dilakukan di taman atap hotel. Aku tidak sabar......" Ucap Agung ketika mereka sudah menunggu di dalam lift yang membawa mereka ke lantai atas.
"Ibu juga tidak sabar berfoto dengan Putra kesayangan ibu." Ucap Alana memperbaiki rambut Agung yang sedikit berantakan.
"Terima kasih Ibu!!" Seru Agung merasa sangat senang.
Ting!
Akhirnya mereka tiba di lantai paling atas, dan terlihat tempat itu sudah didekorasi layaknya taman yang sangat indah.
Beberapa fotografer menyambut mereka lalu mereka memulai pemotretan.
'Hah,,, Aku merasa sangat lega karena akhirnya hari yang dinanti-nantikan putriku kini terwujud.' pikir Romi dalam hati sembari memegang ponselnya.
Cekrek cekrek cekrek...
Suara kamera dan fotografer yang mengarahkan Alana dan Agung membuat Romi terus tersenyum.
Sesaat kemudian, ponsel Romi berdering memperlihatkan nama pemanggil adalah Hendrik.
"Ayah, semuanya sudah siap." Terdengar suara Hendrik dari seberang telepon lalu Romi mematikan panggilan itu.
Setelahnya, Romi berpura-pura bahwa pemotretannya akan dipindahkan ke lantai bawah jadi dia dan Agung membawa Alana ke lantai resepsi pernikahan digelar.
__ADS_1
@info.
Maaf ya,, otor keluapan sama novel ini, otor pikir dah tamat sama novel pernikahan dan kehamilan yang dirahasiakan, ternyata belum wkwkwk..... untunglah ada yang ingatin di kolom komentar, makasih ya.. otor lupa screenshot komenmu🙏🙏🙏