
Jam sepuluh pagi barulah Hendrik terbangun dari tidurnya dan terkejut karena sebuah benda asing menghalangi pandangannya.
"Apa ini??" Gerutunya melepas kertas yang ditempel di wajahnya lalu melihat kertas itu.
*Aku dan ibu belum sarapan!! Kalau sampai aku dan ibu jatuh sakit, kau dilarang lagi menemui kami!!!*
Di kertas itu tidak tertulis nama Agung, tapi Hendrik bisa memperkirakan bahwa orang yang menulisnya pastilah putranya sendiri.
Tidak mungkin ada orang lain yang berani bersikap sembarangan padanya selain pria kecil itu.
"Dasar!" Hendrik meremas kertas itu dan membuangnya secara sembarangan lalu melompat dari tempat tidur.
Mencuci muka dengan terburu-buru dan mengganti pakaiannya, Hendrik berlari ke lantai bawah menuju dapur.
Pria itu langsung memakai celemek dan dengan cepat membuat makanan sederhana untuk menghemat waktu.
"Tuan," Dirga tiba-tiba menghampirinya.
"Katakan," perintah Hendrik sembari menuangkan adonan telur ke teflon.
"Baru saja kami mendapat kabar dari mata-mata kita yang mengikuti Tuan Hans, katanya pria itu sudah meninggalkan pulau xx sejak 2 jam yang lalu. Meski belum diketahui apakah pria itu akan segera kembali ke dalam negeri atau tidak, tetapi keberangkatannya meninggalkan pulau xx diluar dari schedule yang sebelumnya telah direncanakan." Ucap Dirga menghentikan gerakan tangan Hendrik.
__ADS_1
"He,, sepertinya aku memang sudah terlalu buru-buru. Baiklah, biarkan saja, kita tunggu kedatangannya. Tapi, apa Kau sudah menyelidiki siapa yang terakhir kali menghubunginya?" Tanya Hendrik lalu kembali melanjutkan acara memasaknya membuat Dirga menghela nafas menatap pria itu.
"Dari semua orang yang bertemu dengan tuan, di tidak ada satupun yang menghubungi, tetapi kami melacak dari perusahaan Gonedra, Tuan Dani menghubunginya pada jam pulang kantor." Jawab Dirga.
"Sekertaris itu,,, dia memang anjing yang setia. Percepat mencari tahu informasi tentangnya Dani, aku ingin kalian menyelidiki sampai ke akar-akarnya." Ucap Hendrik.
"Baik Tuan," jawab Dirga, 'Aku sudah menduga ini akan terjadi, tapi Tuan terlalu buru-buru,' pikirnya.
Akhirnya setelah berbicara dengan Dirga dan acara memasaknya selesai, Hendrik membungkus masakan itu ke wadah makanan.
Setelah selesai, Hendrik memasukkannya ke paper bag lalu pria itu berjalan ke Villa samping rumah untuk mencari Agung.
Mendekat ke bangunan Villa, dari jendela dia mengintip dan melihat seorang perempuan sedang duduk di ruang tamu sembari memegang remote TV.
"Ha ha ha....!!" Terdengar suara tawa Alana yang keras.
Dengan segera Hendrik mendekat ke jendela agar lebih jelas memperhatikan perempuan yang sedang tertawa di depan TV.
Deg!
Deg!
__ADS_1
Deg!
Jantungnya seakan melompat keluar melihat perempuan yang selama ini ia cintai dan rindukan terlihat begitu cantik saat sedang tertawa lepas.
'Bisakah aku menemuinya?' Hendrik bertanya-tanya dalam hati sembari menahan perasaan bergejolak.
Ingin sekali di melompat ke sana dan memeluk permepuan itu,, tapi, bagaimana kalau Alana malah terkejut?
"Ibu!" Tiba-tiba Hendrik melihat seorang pria kecil menuruni tangga dan berjalan kearah Alana.
"Diamlah!! Aku sedang menonton!!" Alana menggerutu dengan kesal sebab suara Agung yang setengah berteriak mengalahkan suara TV yang sedang ia tonton.
"Apakah ibu sudah sarapan?" Tanya pria kecil itu.
"Belum, tidak ada makanan dimeja makan!" Jawab Alana tanpa menoleh ke arah putranya.
"Benarkah?" Agung berlari ke ruang makan dan melihat meja makan masih kosong.
"Huh!! Apakah pria itu belum bangun?!!" Gerutu Agung berbalik meninggalkan ruang makan untuk pergi ke villa milik Hendrik.
Berani-beraninya pria itu lambat bangun dan tidak memasak untuk mereka hingga di jam segini Ibunya belum sarapan!!!
__ADS_1