
"Bantuan apa yang kau perlukan?" Tanya Patra ikut meletakkan gelas anggurnya agar dia bisa fokus pada pembicaraannya dengan Hendrik.
"Kau tahu tentang sekretaris ayahku yang baru-baru ini meninggal? Aku pernah menitipkan sesuatu padanya dan menyuruhnya untuk menjaganya atas namanya. Tapi ternyata dia meninggal secara tiba-tiba dalam kecelakaan, jadi berkas yang kutitipkan padanya tidak bisa terlacak.
"Aku tahu pamanmu bekerja di perusahaan perbankan dan memiliki posisi yang cukup tinggi. Aku hanya ingin kau membantuku berbicara dengannya, jika dia bisa melacaknya untukku." Ucap Hendrik.
"Kau menitipkan sesuatu pada orang yang penting? Artinya berkas itu sangat penting untukmu?" Tanya Patra sembari mempertajam tatapan matanya pada Hendrik.
Kalau berkas itu sangat penting maka tidak mungkin dia menitipkannya pada orang lain untuk dijaga atas nama orang itu,, pastilah itu sebuah berkas yang sangat rahasia.
"Bukan, Kau pasti mendengar ceritaku yang terburu-buru ke luar negeri, jadi hari itu aku tidak bisa membawanya ke sana. Meninggalkannya di rumah pun aku tidak bisa melakukannya karena ayahku,, jadi aku menuliskannya pada sekretaris Ayahku dan membuat perjanjian dengannya. Sayang sekali setelah kembali ke dalam negeri aku belum sempat mengambilnya dan dia sudah tiada." Ucap Hendrik.
"Ah,, begitu ya... Kalau begitu aku akan membantumu." Ucap Patra.
"Baiklah, ini adalah informasi mengenai sekretaris ayahku," ucap Hendrik menyelenggarakan sebuah flash disk pada Patra.
__ADS_1
"Ok!!" Jawab Patra memandangi flash disk di tangannya.
"Aku harap kau merahasiakan ini dari semua orang, aku mepercayaimu," ucap Hendrik.
"Tentu saja,, Aku adalah calon istrimu jadi kau harus mempercayaiku." Ucap Patra menyimpan flash disk itu ke dalam tas kecil yang ia bawa.
"Baiklah, Aku harus pergi sekarang karena ada pekerjaan mendesak di kantor." Ucap Hendrik segera berdiri untuk meninggalkan perempuan di depannya sebab Dia sudah tidak memiliki kepentingan lain pada perempuan itu.
"Ahh, ya,, aku juga harus pergi karena ada sesuatu yang mendesak." Kata Patra menyusul Hendrik berdiri lalu dua orang itu segera keluar dari restoran.
Pria itu mengambil ponselnya dan melihat pesan yang dikirim Agung.
'Bebek Peking, ayam cincang, ikan bakar jeruk, ayam geprek, nasi merah, jus alpukat, sambal dabu-dabu, babi kecap, sate kambing, sup rumput laut, terong tumis,,,,' Hendrik membaca satu persatu makanan itu dan terkejut saat pesan yang kedua kembali masuk ke layar ponselnya.
"Mereka mau makan semua ini?" Hendrik mengerutkan keningnya melihat masih ada 20 jenis masakan yang baru saja terkirim dari ponsel Agung.
__ADS_1
Tak tahan melihatnya, pria itu kemudian menekan tombol panggil pada kontak agung.
"Halo," ucap Hendrik pada pria kecil di seberang telepon.
"Apakah kalian yakin semua makanan yang baru saja kalian tuliskan itu akan kalian habiskan?" Tanya Hendrik.
"Ya tentu saja!!! Semua makanan itu adalah makanan yang harus Ayah masak setiap hari dalam tiga hari kedepan!!! Aku dan ibu sudah membuat jadwalnya dengan sangat spesifik dan akan memperlihatkannya ketika ayah kembali! Iya 'kan Bu?" Terdengar Agung bertanya pada seseorang yang bersamanya di seberang telepon.
"Hmm,, Bagaimana kalau makan siang di hari kamis kita menambahkan Es buah?" Terdengar suara Alana dari seberang telepon yang sedang berbicara dengan Agung.
"Ah!! Ide bagus!!! Aku ingin buah melon!!" Agung berseru sangat keras membuat Hendrik harus menjauhkan ponselnya dari telinganya.
Namun begitu, Hendrik merasa sangat senang dengan keakraban mereka saat ini.
Keluarga kecil mereka..!!
__ADS_1